BOGOR – Lembaga Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) kembali mengirimkan personelnya untuk memperkuat misi kemanusiaan di lokasi bencana gempa bumi Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Empat personel, terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan, diberangkatkan dari Masjid At Taqwa Shuffah Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahad (13/9/2026).
Empat personel yang diberangkatkan tersebut masing-masing Mughiroh, Arifin, Sugiarti, dan Novie Avianti. Mereka diperbantukan untuk menjalankan pelayanan kemanusiaan, termasuk sebagai tenaga medis, layanan psikososial, serta membantu kegiatan belajar dan pendampingan anak-anak di pengungsian.
Keempatnya berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Ahad (13/9) sekitar pukul 09.30 WIB dan diperkirakan tiba di Bandara Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, sekitar pukul 13.00 WIB. Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan ke Posko UAR di Dusun Waso, Lamba Leda Utara, manggarai Timur.
Menurut Pengurus Pusat UAR, Muhammad Tri Habibie, para relawan tersebut akan melaksanakan tugas kemanusiaan di lokasi bencana selama kurang lebih empat pekan.
“Keempat personel akan melaksanakan tugas kemanusiaan di lokasi bencana NTT selama kurang lebih empat pekan atau bisa bertambah tergantung perkembangan di lokasi bencana dan keputusan pimpinan UAR,” ujar Habibie saat mengantar keberangkatan para relawan menuju Bandara Soekarno-Hatta.
Sementara itu Bupati Manggarai Timur Aga Andreas menetapkan perpanjangan kedua masa tanggap darurat di wilayahnya hingga 19 September 2026. Sedang daerah-daerah lain sejak 14 September memsuki masa transisi dengan pendataan jumlah kerusakan rumah warga.

Dengan tambahan empat personel tersebut, sekitar 14 personel UAR akan terlibat dalam misi kemanusiaan di wilayah terdampak, setelah sebelumnya sekitar 10 personel masih menjalankan berbagai tugas kemanusiaan di Dusun Waso, Manggarai Timur.
Tausiyah dan Arahan Pembina
Keberangkatan empat personel UAR tersebut diawali tausiyah dan arahan Pembina Utama UAR, Imaam Yakhsyallah Mansur. Dalam arahannya, Imaam menegaskan bahwa menolong sesama, khususnya mereka yang sedang tertimpa musibah, merupakan salah satu wujud nyata keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Mengutip QS Al-Hujurat ayat 10, Imaam Yakhsyallah mengingatkan bahwa orang-orang beriman adalah bersaudara dan karena itu harus saling mencintai serta memperbaiki hubungan di antara mereka.
“Salah satu ciri orang beriman adalah menganggap orang beriman lainnya sebagai saudara dan saling mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ujar Imaam Yakhsyallah.
Menurutnya, kecintaan kepada sesama bukan sekadar ucapan, tetapi harus diwujudkan dalam sikap dan perbuatan. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW, “La yu’minu ahadukum hatta yuhibba li akhihi ma yuhibbu linafsihi”, yang bermakna tidak sempurna iman seseorang sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai sesuatu untuk dirinya.
Pembina UAR lebih lanjut menjelaskan, salah satu tanda cinta kepada saudara adalah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang dicintainya. Ketika saudaranya mengalami kebahagiaan, ia turut bahagia. Sebaliknya, ketika saudaranya mengalami kesedihan dan penderitaan, ia turut merasakan kesedihan tersebut.
“Orang-orang di Nusa Tenggara Timur ini sedang merasakan kesedihan. Kita harus juga merasakan sedih. Wujudnya adalah mengirim para ikhwan ke sana sebagai wujud keimanan, di samping memberikan bantuan lain yang telah kita lakukan sebelumnya,” tegasnya.
Ia menambahkan, bentuk kecintaan kepada saudara juga diwujudkan dengan berusaha memenuhi kebutuhan dan pertolongan yang diperlukan. Bahkan, menurutnya, untuk menolong seseorang tidak harus selalu menunggu orang yang membutuhkan bantuan meminta pertolongan.
Dalam kesempatan tersebut, Imaam Yakhsyallah juga mengingatkan pentingnya menjaga ketertiban dan koordinasi tim yang di lokasi bencana dan pimpinan yang berada di pusat.
“Ketertiban juga sangat penting dilaksanakan. Apa yang dilakukan para relawan di lokasi bencana NTT jangan sampai lepas kontrol dari pusat. Menjaga ketertiban dan terkordinasi,” ujarnya.
Sebelumnya, pada Sabtu (12/9) para relawan yang diberangkatkan ke lokasi bencana Flores, NTT, juga mendapat pembekalan dari Ketua Umum Uakhuwah Al-Fatah Rescue H. Endang Sudrajat dan unsur pimpinan lain di Kantor UAR Pusat, Cileungsi, Kabupaten Bogor.
Bagi UAR, keberadaan relawan di tengah masyarakat terdampak bukan sekadar menjalankan program kemanusiaan. Misi tersebut menjadi bagian dari upaya menghidupkan nilai ukhuwah dan menghadirkan kepedulian kepada sesama dalam kondisi paling membutuhkan. [AM]





















