BANDUNG – Di era serba digital seperti sekarang, kemudahan mengakses informasi seolah sudah jadi hal biasa. Namun, pernahkah kita membayangkan bagaimana teman-teman disabilitas netra mempelajari literatur keagamaan, seperti hadis? Realitas di lapangan menunjukkan sebuah fenomena menarik sekaligus prihatin yang bisa disebut sebagai “paradoks teknologi” di lingkungan pesantren inklusif. Di satu sisi, para santri tunanetra sebenarnya sangat lincah mengoperasikan smartphone dengan bantuan fitur pembaca layar (screen reader). Sayangnya, di sisi lain, dokumen keagamaan digital yang beredar kerap tidak kompatibel dengan teknologi asistif tersebut, sehingga langkah mereka untuk mendalami ilmu keagamaan menjadi terhambat.
Melihat kesenjangan nyata ini, tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Konversi UIN Sunan Gunung Djati Bandung tahun 2026 tergerak untuk menghadirkan solusi konkret. Di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Ridwan Effendi, S.S., M.Ag., mereka merancang dan menggelar pelatihan “Aplikasi Hadis Arbain Audio-Digital” di Pesantren Sam’an, Kabupaten Bandung.
Kunci keberhasilan inovasi ini terletak pada kolaborasi yang apik dari lima anggota tim KKN yang saling melengkapi. Dari program studi Ilmu Hadis, ada Hanafi Nugraha dan M. Jabal Al Thariq yang bertugas memvalidasi kesahihan teks Arab (matan), terjemahan, serta penjelasan (syarah) agar tetap sesuai kaidah keilmuan Islam. Sementara dari ranah teknis, mahasiswa Teknik Informatika, Fardho Zurrahman dan Irsal Shydiq, berperan sebagai pengembang sistem (developer). Merekalah yang mengolah materi keagamaan tersebut menjadi aplikasi interaktif yang ramah bagi pembaca layar.
Agar program pengabdian ini tak sekadar jadi wacana dan dapat berjalan efisien, Azka Wildan Hakim dari program studi Manajemen Keuangan Syariah mengambil peran di bidang manajerial. Azka bertanggung jawab menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) secara terukur, mengelola operasional dana, hingga memetakan potensi kemitraan strategis (sponsorship) guna menjamin kelancaran logistik seluruh kegiatan.
Bukan Sekadar Charity, tapi Sentuhan Kolaborasi Nyata
Menariknya, pengembangan aplikasi ini tidak memakai pendekatan serah-terima satu arah (top-down). Tim KKN memadukan metode Participatory Action Research (PAR) dan User-Centered Design (UCD). Artinya, para santri tunanetra dirangkul langsung sebagai mitra perancang (co-designers) untuk menguji navigasi suara sejak awal, sementara ustadz dan pengurus pesantren diajak berdiskusi agar materi yang disajikan relevan dengan kurikulum lokal.
Hasilnya, lahirlah aplikasi berisi 42 Hadis Arbain An-Nawawiyyah yang dirancang khusus sesuai kebutuhan disabilitas netra. Tampilan antarmukanya dibuat linier agar ramah terhadap sensor gawai. Selain itu, terdapat rekaman suara jernih, fitur pengulangan audio (looping) yang sangat membantu hafalan, serta akses tanpa jaringan internet (offline) sehingga para santri bisa belajar kapan saja di asrama tanpa terkendala kuota atau sinyal.
Menanam Keberlanjutan, Membangun Kemandirian Santri
Kehadiran aplikasi ini disambut hangat oleh keluarga besar Pesantren Sam’an. Dari hasil evaluasi, para santri kini jauh lebih mandiri saat mengulang hafalan hadis tanpa perlu selalu bergantung pada bimbingan lisan guru atau bantuan kawan awas.
Agar manfaat program ini tidak redup seusai masa KKN selesai, tim mahasiswa menggelar pelatihan teknis langsung (hands-on training). Beberapa pengurus internal pesantren ditunjuk dan dilatih menjadi administrator pemelihara aplikasi, sehingga rasa memiliki (sense of ownership) terhadap karya ini terus terjaga.
Lewat sentuhan akademik dan empati, inovasi teknologi terapan ini memberi pembuktian bahwa pendidikan Islam inklusif sangat mungkin diwujudkan secara setara, sebuah wujud nyata dari nilai kebaikan Rahmatan Lil Alamin.






















