LAMONGAN – Gelora semangat kepanduan Hizbul Wathan kembali menyala di ujung utara Kabupaten Lamongan. Qobilah MI Muhammadiyah 02 Menongo (MIMDA), yang berbasis di Desa Menongo, Kecamatan Sukodadi, menunjukkan komitmennya dalam pembinaan karakter siswa dengan menerjunkan dua regu lengkap—putra dan putri—pada ajang bergengsi Ceria Pandu Athfal (CPA) 2026.
Kegiatan akbar yang diselenggarakan oleh Kwartir Daerah Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Kabupaten Lamongan ini berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat hingga Ahad, 23–25 Oktober 2026. Dipusatkan di Lapangan Tlogo Ploso, Desa Payaman, Kecamatan Solokuro, acara ini menjadi medan tempur bagi ribuan siswa SD/MI se-kabupaten untuk menguji ketangkasan, kekompakan, dan kemandirian.

Misi Membawa Nama Baik Madrasah
Di bawah naungan tema besar “Dengan Semangat Pandu Athfal, Raih Keceriaan dan Tumbuhkan Kepemimpinan”, MIMDA hadir dengan membawa misi mulia. Sebanyak 24 Pandu Athfal pilihan telah dipersiapkan matang untuk menghadapi berbagai tantangan alam dan kompetisi keterampilan.
Kepala MI Muhammadiyah 02 Menongo sekaligus Pimpinan Qobilah, Khamim Mahfudz, S.Pd., menegaskan bahwa kehadiran madrasahnya bukan sekadar untuk memeriahkan acara, melainkan sebagai wujud implementasi pendidikan karakter di luar ruang kelas.
“Ini adalah pendidikan karakter di luar kelas dan keluarga, di alam terbuka. Tujuannya membentuk pribadi muslim yang sebenar-benarnya dan siap menjadi kader persyarikatan, umat, dan bangsa,” ujar Khamim saat melepas keberangkatan kontingen.

Tantangan di Tlogo Ploso: Dari Panahan hingga Daur Ulang
CPA 2026 diikuti oleh 64 Qobilah se-Kabupaten Lamongan, menjadikan ajang ini sebagai kompetisi yang sangat ketat. Berdasarkan hasil undian panitia, kontingen MIMDA ditempatkan di area perkemahan dengan nomor urut tenda 30.
Namun, tantangan sesungguhnya terletak pada mata lomba yang dirancang untuk menguji adrenalin dan kreativitas. Regu putra dan putri MIMDA harus bertarung di beberapa pos krusial:
* Panahan: Menggunakan busur horsebow dengan jarak 10 meter, menguji fokus dan ketenangan.
* Komunikasi Sandi: Lomba Morse peluit dan Semaphore dengan jarak kirim-terima 30 meter, menuntut konsentrasi tinggi di tengah kebisingan arena.
* Kekompakan Tim: Lomba Bakiak Panjang (Klompen Tandem) sepanjang 20 meter yang mengharuskan empat peserta menyatukan langkah tanpa menyentuh tanah.
* Kreativitas Lingkungan: Lomba daur ulang sampah plastik menjadi tas bernilai guna dalam waktu terbatas dua jam.
Selain lomba teknis, MIMDA juga siap unjuk gigi pada Gebyar Kreasi Seni dengan durasi maksimal tujuh menit, serta mengikuti rangkaian wajib seperti Pawai Ta’aruf dan Tadabur Alam.
Wajah-Wajah Pejuang MIMDA
Dua regu yang diterjunkan merupakan hasil seleksi ketat dari latihan rutin. Regu Putri yang tangguh diisi oleh Nina, Kinan, Mila, Biba, Gadis, Naessa, Shinta, Lyta, Kayla, Ain, Ressa, dan Reffa. Sementara itu, Regu Putra yang solid terdiri dari Fahri, Faruq, Alvin, Viko, Dafa, Akbar, Hafiz, Alif, Andra, Rakha, Fai, dan Afif.
Mereka tidak berjuang sendirian. Sebuah tim solid pendamping siap memastikan keselamatan dan performa terbaik para siswa. Pembinaan teknis dilakukan oleh Bu Nanda, dengan dukungan koordinator Resti Nur Afifah dan Alfin Sabil. Di lapangan, mereka dikawal oleh guru-guru dedikatif: Bapak Sareman, Bapak Bambang, Bapak Manaf, Bu Evy, Bu Ita, Bu Susi, Bu Desta, dan Bu Ila.
Filosofi “Fastabiqul Khairat”
Meskipun mengusung semangat kompetisi, MIMDA tetap memegang teguh moto Fastabiqul Khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). Khamim Mahfudz memberikan penekanan khusus kepada para siswanya agar tidak terjebak pada ego kemenangan semata.
“Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur melalui piala, tetapi melalui pembentukan karakter, sikap sosial, kepedulian, dan kemampuan bekerja sama,” jelasnya.
Sebelum diberangkatkan, pesan tegas Khamim menjadi pegangan para siswa: “Jaga nama baik MIMDA, jaga diri, bawa prestasi.” Pesan ini diharapkan mampu membendung euforia kompetisi agar tetap berada dalam koridor sportivitas dan akhlakul karimah.
Tiga Hari Menempa Mental
Selama 72 jam di Payaman, para siswa MIMDA akan belajar tentang arti kehidupan bermasyarakat dalam lingkup kecil perkemahan. Mereka dituntut untuk mandiri mengatur kebutuhan dasar, menjaga kebersihan lingkungan tenda, serta menghargai perbedaan dengan peserta dari 63 Qobilah lainnya.
Bagi MIMDA, CPA 2026 adalah laboratorium kehidupan. Di sinilah teori tentang kepemimpinan, kedisiplinan, dan ukhuwah islamiyah dipraktikkan secara langsung.
“Semangat Fastabiqul Khairat diharapkan tidak berhenti di arena lomba, melainkan tumbuh menjadi kebiasaan untuk membantu sesama dan menjalankan tanggung jawab,” pungkas Khamim.
Kini, mata tertuju pada 24 Pandu Athfal MIMDA yang sedang berjuang di Tlogo Ploso. Mereka membawa harapan madrasah, bukan hanya untuk meraih medali, tetapi untuk membuktikan bahwa santri Muhammadiyah dari desa kecil di Sukodadi siap menyongsong Indonesia Emas dengan mentalitas pemimpin yang kuat.























