BOGOR, 22 Oktober 2026 — Hujan deras tidak menyurutkan semangat Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Se-Bogor untuk menggelar aksi demonstrasi di depan kawasan Istana Bogor, Kamis (22/10/2026). Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan lima tuntutan kepada pemerintah pusat, mulai dari penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Lima tuntutan yang disampaikan mahasiswa meliputi penetapan karhutla sebagai bencana nasional, pencopotan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, pemberlakuan moratorium atau penghentian sementara program MBG, serta pemisahan anggaran MBG dari pagu anggaran pendidikan.
Presiden Mahasiswa Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor, M. Alfadly Ridwan, menegaskan bahwa penanganan karhutla menjadi salah satu perhatian utama dalam aksi tersebut. Ia menilai persoalan kebakaran hutan dan lahan perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.
“Tentu tadi tuntutan kita pertama, tetapkan karhutla sebagai bencana nasional. Lalu yang kedua, kita mendesak dan menuntut bahwa Raja Antoni sebagai Menteri Kehutanan untuk diturunkan karena gagal menyelesaikan persoalan karhutla yang ada di Kalimantan dan yang lainnya,” ujar Alfadly di lokasi aksi.
Selain persoalan lingkungan, mahasiswa juga mendesak pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap jalannya pemerintahan Prabowo-Gibran selama dua tahun. Mereka turut menyoroti pelaksanaan program MBG dan meminta pemerintah menghentikan sementara program tersebut serta mengeluarkan anggarannya dari pagu anggaran pendidikan.
“Kita ingin ada evaluasi total persoalan pemerintahan Prabowo-Gibran selama dua tahun ini. Selanjutnya, kita mendesak pemerintah pusat untuk memoratorium atau memberhentikan sementara program Makan Bergizi Gratis, serta menuntut agar program MBG ini dipisahkan atau dikeluarkan dari pagu anggaran pendidikan,” lanjutnya.
Sejak pukul 12.00 WIB, para orator menyampaikan aspirasi dari atas kendaraan di hadapan barikade pengamanan aparat kepolisian. Meski hujan turun dengan deras, massa aksi tetap bertahan untuk menyuarakan tuntutan mereka.
Presiden Mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Bogor, Ahmad Robani, mengatakan bahwa kondisi cuaca tidak mengurangi semangat mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi. Menurutnya, aksi tersebut merupakan bentuk perjuangan untuk menuntut pemenuhan hak-hak masyarakat yang dinilai belum terlaksana.
“Ketika memang hujan sangat deras, itu tidak melumpuhkan semangat kita. Kita tetap berdiri di sini karena hak-hak yang memang di dua tahun ini belum terlaksanakan. Masih banyak PR, dan mereka harus mendengarkan tuntutan dari kami,” ujar Ahmad Robani.
Ahmad juga menegaskan bahwa mahasiswa akan kembali menggelar demonstrasi apabila pemerintah tidak memberikan tanggapan terhadap tuntutan yang telah disampaikan.
“Ketika tidak ada jawaban sama sekali, kami akan kembali turun ke jalan,” pungkasnya.
Aksi demonstrasi yang mengangkat isu kesejahteraan masyarakat dan lingkungan hidup tersebut ditutup dengan pembacaan komitmen bersama. Selama kegiatan berlangsung, massa aksi berada dalam pengawalan ketat aparat kepolisian.
Penulis: Muhammad Rizki Pratama





















