Semarang, 1 Oktober 2026 Tidak semua cerita membutuhkan jawaban. Terkadang, seseorang hanya membutuhkan ruang untuk didengarkan. Semangat tersebut menjadi salah satu dasar mahasiswa UIN Walisongo Semarang dalam melaksanakan kegiatan Praktik Pengalaman Profesi (PPP) melalui konseling individu bagi para lanjut usia (lansia) di Panti Werdha Harapan Ibu, Jumat (1/10/2026).
Kegiatan konseling individu ini diikuti oleh 20 lansia dari total 32 lansia yang berada di Panti Werdha Harapan Ibu. Kegiatan dilaksanakan secara individual dengan menciptakan suasana yang nyaman, sehingga para lansia memiliki kesempatan untuk menyampaikan cerita, pengalaman, maupun perasaan yang mereka rasakan. Dalam proses konseling, mahasiswa mengajak para lansia berbincang mengenai berbagai hal yang dekat dengan kehidupan mereka, mulai dari pengalaman masa lalu, hubungan dengan keluarga dan lingkungan sekitar, kehidupan sehari-hari di panti, perasaan kesepian, hingga harapan dan keinginan yang masih ingin diwujudkan.
Pendekatan secara individual dilakukan agar komunikasi dapat berlangsung lebih dekat. Setiap lansia diberikan ruang untuk berbicara sesuai dengan kenyamanan masing-masing tanpa adanya tuntutan untuk menceritakan hal-hal yang tidak ingin mereka sampaikan. Bagi mahasiswa, kegiatan tersebut menjadi pengalaman untuk memahami bahwa setiap lansia memiliki cerita kehidupan yang berbeda. Interaksi yang terjalin tidak hanya menjadi proses pendampingan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk belajar mendengarkan dengan empati.
“Melalui kegiatan konseling individu ini, saya belajar bahwa setiap lansia memiliki cerita dan pengalaman hidup yang berbeda. Ketika mereka diberikan ruang untuk bercerita dan didengarkan dengan baik, saya melihat bahwa hal sederhana tersebut dapat membuat mereka merasa diperhatikan dan dihargai,” ujar Dhea, mahasiswa UIN Walisongo.
Menurut Dhea, pengalaman selama kegiatan memberikan pemahaman bahwa perhatian tidak selalu harus diberikan dalam bentuk sesuatu yang besar. Kehadiran dan kesediaan untuk mendengarkan juga dapat menjadi bentuk dukungan bagi seseorang.
“Bagi saya, kegiatan ini bukan hanya tentang memberikan kesempatan kepada lansia untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan, tetapi juga menjadi pengalaman belajar untuk lebih memahami pentingnya mendengarkan dan memberikan dukungan secara tulus. Saya berharap kegiatan ini dapat memberikan kesan positif dan membuat para lansia merasa nyaman untuk berbagi cerita,” tambah Dhea.
Suasana konseling berlangsung dengan hangat dan komunikatif. Para lansia mendapatkan kesempatan untuk berbincang secara personal dengan mahasiswa, sementara mahasiswa berupaya membangun komunikasi yang terbuka dan penuh perhatian. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendampingan terhadap lansia tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga mencakup aspek sosial dan emosional. Kesempatan untuk berinteraksi, bercerita, dan didengarkan dapat menjadi bagian dari pengalaman positif bagi lansia dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan PPP tersebut, mahasiswa UIN Walisongo berharap dapat memberikan ruang yang nyaman bagi para lansia untuk mengekspresikan diri sekaligus membangun interaksi yang lebih bermakna. Pada akhirnya, kegiatan ini bukan hanya tentang mahasiswa yang hadir untuk mendampingi lansia. Lebih dari itu, terdapat proses saling belajar tentang kehidupan, pengalaman, empati, dan arti sederhana dari menjadi seseorang yang bersedia mendengarkan.




















