JOMBANG – Di tengah melambungnya harga pupuk kimia dan penurunan kualitas tanah akibat pemupukan anorganik berlebih dan pembakaran terbuka, limbah daun tebu kering (daduk) di lahan pertanian Desa Karangan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, yang selama ini dibakar sia-sia ternyata menyimpan potensi besar sebagai pembenah tanah. Merespons tantangan tersebut, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fakultas Bio-Industri, Pertanian, dan Kehutanan Universitas Brawijaya (FBiPK UB) menggelar kegiatan sosialisasi dan demonstrasi pemanfaatan limbah daduk tebu menjadi biochar (arang pembenah tanah) di Balai Desa Karangan pada Sabtu, 25 Juli 2026. Kegiatan ini diinisiasi oleh Muhammad Syah Putra bersama tim KKN FBiPK UB dengan menghadirkan puluhan anggota Kelompok Tani lokal setempat.
Guna mengolah limbah daun tebu kering tersebut secara terarah, tim KKN FBiPK UB mengenalkan inovasi Teknologi Tepat Guna (TTG) bernama SIPICER-CHAR (Sistem Pirolisis Cerobong Biomassa Kering). Alat ini berupa reaktor drum berkapasitas 60 Liter yang dilengkapi sistem cerobong pengarah emisi. Alat ini bekerja mengoptimalkan proses pirolisis, yakni pembakaran biomassa dengan kondisi minim oksigen agar sampah organik tidak habis menjadi abu, melainkan terkonversi menjadi biochar. Secara teknis, biochar bertindak sebagai “spons alami” berpori tinggi yang berfungsi mengunci kelembapan tanah, menahan retensi nutrisi pupuk, serta menjadi rumah fisik ideal bagi mikroba penyubur tanah.
Meskipun reaktor drum 60 Liter ini diposisikan sebagai unit percontohan (pilot project) dan media edukasi—mengingat keterbatasan kapasitas produksi harian untuk kebutuhan lahan hektaran—inovasi ini membuka wawasan baru bagi petani. Hasil pengolahan biochar diarahkan untuk penggunaan terfokus (micro-application), seperti campuran media tanam pembibitan (nursery) dan pemupukan pada lubang tanam (spot application). Karbon biochar yang terikat stabil di dalam tanah hingga 2–3 tahun ini menjadi investasi jangka panjang untuk memperbaiki struktur fisik tanah secara bertahap sekaligus memitigasi polusi asap akibat pembakaran terbuka (open burning).
“Kebiasaan membakar daun tebu kering secara terbuka di lahan selain menimbulkan polusi asap, juga melenyapkan bahan organik tanah yang sangat berharga. Melalui TTG SIPICER-CHAR, proses pembakaran menjadi jauh lebih terukur dan efisien sebagai sarana edukasi. Kami ingin membuktikan kepada Kelompok Tani bahwa limbah yang biasanya dibakar ini memiliki nilai tambah besar untuk menekan biaya pemupukan dan memulihkan kesehatan tanah,” ungkap Muhammad Syah Putra selaku inisiator program.
Sebagai wujud keberlanjutan program dan kelengkapan diseminasi IPTEK, mahasiswa KKN FBiPK UB menyerahkan unit TTG SIPICER-CHAR kepada Kelompok Tani Desa Karangan, yang dilengkapi dengan panduan operasional serta publikasi media. Penyerahan unit percontohan ini diharapkan menjadi pemicu awal bagi pihak desa dan Kelompok Tani untuk mengembangkan sistem pengolahan biochar skala komunal yang lebih luas di masa depan demi mewujudkan pertanian yang hemat biaya, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

























