YOGYAKARTA – Sejumlah mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengajak peserta didik kelas II SD Negeri Wirosaban belajar Bahasa Indonesia di luar kelas pada Jumat, 18 September 2026. Kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekitar sekolah ini mengangkat tema pengenalan rambu-rambu lalu lintas dan praktik menyeberang menggunakan zebra cross, sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual yang menghubungkan materi kelas dengan situasi nyata di lingkungan sekitar. Kegiatan ini dilaksanakan mahasiswa PK bersama guru dan pembimbing di SD Negeri Wirosaban. Aktivitas ini sejalan dengan semangat SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, sebab peserta didik tidak hanya menerima materi secara searah di dalam kelas, melainkan diajak mengamati langsung objek di lingkungan, memahami informasi yang tersaji dalam simbol dan arahan, serta menerapkan pengetahuan bahasa dalam situasi yang benar-benar mereka hadapi sehari-hari. Kegiatan ini juga selaras dengan SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan, karena setiap peserta didik dengan kemampuannya masing-masing memperoleh kesempatan yang setara untuk ikut serta, dengan pendampingan dari mahasiswa yang disesuaikan dengan kebutuhan tiap anak agar semua bisa mengikuti dan berpartisipasi dalam kegiatan.
Kegiatan diawali dengan mengajak peserta didik mengamati beberapa rambu lalu lintas yang terdapat di sekitar lokasi belajar. Mahasiswa PK memandu peserta didik untuk mengenali bentuk dan warna rambu, kemudian membantu mereka memahami makna atau informasi sederhana yang terkandung di dalamnya, misalnya arahan untuk berhenti, berjalan, atau berhati-hati. Setelah peserta didik memahami arahan tersebut, kegiatan dilanjutkan dengan praktik menyeberang menggunakan zebra cross. Mahasiswa mendampingi peserta didik satu per satu, membantu mereka mengikuti instruksi langkah demi langkah, sembari guru dan pembimbing turut mengawasi jalannya kegiatan agar berlangsung tertib dan aman. Selama proses ini, mahasiswa memberikan dukungan sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing peserta didik, sehingga setiap anak dapat berpartisipasi mengikuti tahapan kegiatan dengan caranya sendiri.
Melalui kegiatan ini, peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang tidak selalu bisa didapatkan di dalam ruang kelas. Mereka dilatih untuk mengikuti instruksi secara langsung, memahami informasi dari lingkungan sekitar, serta berkomunikasi dengan mahasiswa pendamping selama kegiatan berlangsung. Kesempatan untuk mempraktikkan langsung cara menyeberang juga melatih keberanian peserta didik untuk mencoba hal baru, sekaligus mendukung perkembangan kemandirian mereka sesuai kemampuan masing-masing. Pengalaman belajar semacam ini memperkuat capaian SDG 4, karena pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berbasis pengalaman nyata, bukan sekadar teori. Di sisi lain, kesempatan setiap peserta didik untuk ikut serta dengan pendampingan yang disesuaikan turut mencerminkan semangat SDG 10, yakni memastikan tidak ada peserta didik yang tertinggal dalam proses belajar bersama.
Ke depan, pembelajaran kontekstual semacam ini diharapkan dapat terus dikembangkan melalui berbagai aktivitas lain yang dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Kolaborasi antara mahasiswa PK, guru, dan pihak sekolah diharapkan dapat terus berlanjut untuk menghadirkan pembelajaran yang inklusif dan bermakna, sekaligus memberi ruang bagi setiap peserta didik untuk berkembang sesuai kemampuan dan kebutuhannya masing-masing.























