Banda Naira, INFO_PAS – Kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah di Kecamatan Banda tidak menyurutkan semangat Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Bandanaira dalam menjalankan program pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan. Melalui pemanfaatan lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE), Lapas Bandanaira berhasil memanen 50 ikat kangkung, Jumat (25/9).
Panen tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan lahan dan kondisi cuaca bukan menjadi penghalang bagi Lapas Bandanaira untuk menghadirkan kegiatan pembinaan yang produktif. Warga Binaan terlibat langsung dalam seluruh proses budidaya, mulai dari persiapan media tanam, penanaman, perawatan hingga panen.
Kepala Lapas Bandanaira, Abdul Samad Rumuar, mengatakan keberhasilan panen tersebut merupakan hasil dari konsistensi petugas dan Warga Binaan dalam mengelola lahan yang tersedia.
”Panen 50 ikat kangkung ini menjadi bukti bahwa dengan kemauan, kedisiplinan, dan pendampingan yang baik, lahan terbatas tetap dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang produktif. Bahkan di tengah kemarau panjang, Warga Binaan tetap menunjukkan semangat untuk merawat tanaman hingga dapat dipanen,” ujar Samad.
Ia menegaskan bahwa pembinaan kemandirian bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu, tetapi merupakan bagian dari upaya memberikan bekal keterampilan kepada Warga Binaan agar memiliki kemampuan produktif ketika kembali ke masyarakat.
Sementara itu, Kepala Subseksi Pembinaan, Rustam Kasoor, menjelaskan bahwa kondisi kemarau panjang menjadi salah satu tantangan dalam proses budidaya kangkung. Keterbatasan air membuat proses perawatan harus dilakukan secara lebih cermat dan teratur.
”Kemarau memang menjadi tantangan, terutama dalam menjaga kebutuhan air tanaman. Namun, Warga Binaan tetap melakukan perawatan secara rutin. Mereka belajar bahwa keberhasilan dalam bercocok tanam membutuhkan ketekunan, kesabaran dan konsistensi,” jelas Rustam.
Salah satu Warga Binaan yang terlibat dalam kegiatan tersebut, Fajri, mengaku bangga dapat melihat tanaman yang dirawat bersama akhirnya menghasilkan panen.
”Saat kemarau, memang harus lebih memperhatikan tanaman karena air terbatas. Ketika hari ini bisa dipanen, kami merasa senang karena hasil kerja bersama ternyata bisa menghasilkan,” ungkapnya.
Hasil panen selanjutnya dipasarkan kepada pengepul sayuran, masyarakat sekitar, petugas, dan peserta magang. Omset hasil panen akan dibagi menjadi premi Warga Binaan, sebagian masuk sebagai modal, serta menjadi sumber Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari kegiatan pembinaan kemandirian Warga Binaan. (Humas/LT)




















