Pada tanggal 2 hingga 7 September 2026, siswa kelas X di SMA Negeri 2 Klaten melaksanakan
kegitan pembelajaran aplikatif mengenai penyusunan skala prioritas. Kegiatan ini merupakan bagian
dari pembelajaran ekonomi yang dirancang untuk menghubungkan konsep ekonomi dengan
permasalahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Fokus utama kegiatan adalah melatih
kemampuan siswa dalam mengambil keputusan ekonomi secara bijak di tengah keterbatasan sumber
daya yang dimiliki. Pembelajaran tersebut juga memiliki keterkaitan erat dengan Sustainable
Development Goals (SDGs) poin 12, yaitu Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab,
khususnya dalam membangun kesadaran untuk menggunakan sumber daya secara bijak dan sesuai
kebutuhan.
Dalam proses pembelajarannya, siswa diajak untuk memahami konsep kelangkaan dan skala
prioritas melalui simulasi pengambilan keputusan ekonomi secara langsung. Siswa diberikan sejumlah
alokasi dana buatan yang terbatas serta berbagai pilihan kebutuhan dan keinginan yang harus
dipertimbangkan secara berkelompok. Dalam simulasi tersebut, siswa tidak dapat membeli seluruh
pilihan yang tersedia sehingga mereka harus menentukan barang atau kebutuhan yang dianggap paling
penting. Siswa kemudian dibimbing untuk mempertimbangkan biaya peluang, tingkat kepentingan,
kebutuhan dan keinginan, serta menyusun daftar prioritas berdasarkan kondisi yang dihadapi. “Awalnya
bingung harus beli apa dulu karena uangnya terbatas. Tapi setelah belajar skala prioritas, aku jadi
tahu mana yang benar-benar butuh dan mana yang cuma keinginan,” ungkap Hafiza, salah satu siswa
kelas X-J.
Melalui kegiatan praktik tersebut, siswa tidak hanya memahami konsep skala prioritas secara
teoritis, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam menerapkannya pada situasi yang menyerupai
kehidupan sehari-hari. Simulasi membuat siswa belajar bahwa keterbatasan sumber daya menuntut
seseorang untuk menentukan pilihan dan mempertimbangkan konsekuensi dari setiap keputusan yang
diambil. Setelah mengikuti kegiatan, siswa mampu menyusun perencanaan konsumsi yang lebih
realistis dengan membedakan kebutuhan yang harus didahulukan dan keinginan yang dapat ditunda.
Pengalaman tersebut diharapkan dapat membangun kesadaran siswa bahwa keputusan konsumsi yang
sederhana sekalipun memiliki kaitan dengan penggunaan sumber daya secara bertanggung jawab.
Dengan demikian, pembelajaran ekonomi tidak hanya berorientasi pada pemahaman materi, tetapi juga
pada pembentukan perilaku ekonomi yang lebih bijak dan berkelanjutan.
Perubahan pemahaman dan sikap siswa tersebut turut mendapatkan respons positif dari
pelaksana pembelajaran. “Metode simulasi ini sangat efektif karena anak-anak tidak hanya menghafal
teori ekonomi, tetapi langsung belajar mempraktikkan cara belanja yang bijak. Ini modal penting bagi
mereka agar tidak konsumtif,” ujar Andini, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FEB UNY
yang sedang melaksanakan Praktik Kependidikan. Melalui pembelajaran berbasis pengalaman tersebut,
siswa diharapkan mampu menerapkan keterampilan menyusun skala prioritas dalam mengelola uang
saku dan menentukan kebutuhan sehari-hari secara bijak. Kebiasaan seperti membedakan kebutuhan dan keinginan, membuat daftar belanja, serta mempertimbangkan manfaat sebelum membeli
diharapkan dapat membentuk pola konsumsi yang bertanggung jawab dan mendukung SDGs poin 12.






















