JAKARTA, 21 Oktober 2026 — Dinas Bina Marga Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah melaksanakan proyek revitalisasi trotoar di sepanjang Jalan Revolusi, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas fasilitas publik agar lebih aman, nyaman, serta ramah bagi pejalan kaki dan penyandang disabilitas.
Meskipun demikian, pelaksanaan pekerjaan fisik di lapangan menghadirkan berbagai dinamika sosial. Berikut adalah penuturan dari sejumlah pihak yang terdampak langsung oleh proyek pembangunan tersebut.
Pandangan Pejalan Kaki: Keselamatan dan Ketersediaan Fasilitas Inklusif
Sebelum dilakukan revitalisasi, kondisi trotoar di Jalan Revolusi dinilai kurang layak dan membahayakan pejalan kaki akibat permukaan keramik yang pecah serta kontur jalan yang tidak merata.
Nadia (28), seorang pekerja swasta yang menjadi pengguna transportasi umum Duren Sawit, menyampaikan kesannya terkait kondisi trotoar sebelum dan saat perbaikan berlangsung.
“Sebelum dilakukan perbaikan, kondisi trotoar cukup membahayakan karena banyak ubin yang terlepas dan berlubang. Saat ini mobilitas memang terganggu karena pejalan kaki terpaksa menggunakan bahu jalan. Namun, saya berharap hasil akhirnya sesuai dengan standar, khususnya terkait ketersediaan ubin pengarah bagi penyandang disabilitas,” ujar Nadia saat diwawancarai pada Rabu (21/10/2026).
Keluhan Pemilik Usaha: Aksesibilitas dan Penurunan Omzet
Proyek perbaikan trotoar ini juga berdampak pada sektor usaha di sepanjang koridor Jalan Revolusi. Tumpukan material bangunan dan galian tanah yang menutup area depan ruko mengakibatkan penurunan jumlah pengunjung.
Toyib (35), salah satu pemilik usaha toko kelontong di kawasan tersebut, menjelaskan kendala operasional yang dihadapi selama masa pengerjaan proyek.
“Material bangunan dan sisa galian yang menumpuk di depan toko mengganggu akses pelanggan. Kendaraan konsumen tidak dapat parkir sehingga pendapatan kami mengalami penurunan secara signifikan. Kami mendukung perbaikan ini, tetapi kami memohon agar pihak pelaksana proyek mempercepat pengerjaan dan segera mengangkut sisa material,” kata Toyib.
Penjelasan Pelaksana Lapangan: Kendala Teknis dan Komitmen Percepatan
Di pihak pengembang dan pekerja konstruksi, tantangan utama yang dihadapi meliputi tingginya volume lalu lintas serta ruang gerak alat berat yang terbatas di area pemukiman dan komersial yang padat.
Sutrisno (37), salah satu pekerja lapangan dalam proyek revitalisasi tersebut, memberikan penjelasan terkait proses pengerjaan di lokasi.
“Tantangan terbesar dalam proyek ini adalah intensitas arus lalu lintas yang sangat padat pada pagi dan sore hari, sehingga pengangkutan material membutuhkan waktu lebih lama. Kami terus berupaya menyelesaikan pengerjaan secara bertahap dan meminimalisasi gangguan bagi warga sekitar,” jelas Sutrisno.
Kesimpulan dan Harapan Masyarakat
Proyek perbaikan trotoar di Jalan Revolusi, Duren Sawit, diharapkan selesai tepat waktu guna memulihkan fungsi jalan dan aksesibilitas usaha warga. Selain percepatan pengerjaan, masyarakat berharap Pemprov DKI Jakarta melakukan pengawasan secara berkala pasca-pembangunan, terutama dalam menindak tegas pelanggaran penggunaan trotoar oleh pengendara sepeda motor dan parkir liar.





















