Malang — Di tengah perkembangan zaman, kerajinan tradisional menjadi salah satu bagian penting dari identitas dan potensi wisata suatu daerah. Salah satunya adalah kerajinan klompen yang masih diproduksi oleh pengrajin di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Kerajinan ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi salah satu ikon yang perlu dilestarikan.
Keberadaan klompen di Toyomarto telah ada sejak lama. Darto, salah satu pengrajin klompen di Desa Toyomarto, menuturkan bahwa kerajinan tersebut sudah ada bahkan sebelum dirinya lahir. Klompen juga disebut oleh masyarakat terdahulu sebagai peninggalan dari masa Belanda. Berasal dari keluarga pengrajin klompen, Darto mulai mengenal dan mempelajari proses pembuatannya sejak kecil dengan membantu keluarga serta belajar dari tetangga.
“Ketika Saya belum lahir, klompen sudah ada. Kata orang terdahulu itu peninggalan dari Belanda,” ujar Darto.
Dalam proses pembuatannya, tidak semua jenis kayu digunakan secara sembarangan. Pengrajin memilih kayu berdasarkan tekstur dan karakteristiknya. Kayu sengon dan mahoni menjadi bahan yang paling sering digunakan karena memiliki fungsi yang berbeda. Sengon yang memiliki bobot ringan lebih sesuai untuk klompen yang akan dilapisi bahan seperti kulit sintetis, sedangkan mahoni digunakan untuk klompen yang menonjolkan tekstur dan motif karena memiliki karakter kayu yang lebih padat serta tidak mudah berubah bentuk ketika terkena panas. Bahan baku tersebut umumnya diperoleh dari bakul kayu di sekitar Desa Toyomarto dan, apabila diperlukan, dari Perhutani.

“Yang lebih sering dipakai adalah sengon dan mahoni karena peruntukannya beda. Kalau sengon kayunya lebih labil dan beratnya ringan, jadi untuk yang dibungkus-bungkus bahan. Kalau motif-motif antik atau butuh teksturnya, kita pakai mahoni,” jelas Darto.
Proses pembuatan klompen dilakukan melalui beberapa tahapan. Kayu terlebih dahulu dibentuk menjadi balok dengan ukuran sesuai kebutuhan, kemudian dibuat pola dari bagian samping untuk menentukan tinggi dan ketebalannya. Setelah bentuk dasar selesai, kayu dioven agar kering dan kemudian dihaluskan sebelum memasuki tahap finishing. Finishing disesuaikan dengan pesanan, mulai dari teknik bakar, pengecatan, hingga mempertahankan tampilan natural kayu. Dalam prosesnya, pengrajin menggunakan sejumlah alat bantu, seperti gergaji bensin, dinamo untuk penghalusan, kompresor, serta berbagai peralatan kecil lainnya.
Jika bahan baku telah siap dan dalam kondisi kering, satu pasang klompen dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 10 menit. Namun, produksi biasanya dilakukan dalam jumlah besar, minimal satu kodi dan dapat mencapai tiga hingga lima kodi dalam sekali pengerjaan. Keseluruhan proses produksi menggunakan mesin sebagai alat bantu.
Selain proses pembuatan, klompen Toyomarto juga memiliki keunikan dari segi motif. Jika sebelumnya klompen lebih banyak dibuat polos, pengrajin kemudian mulai berinovasi dengan menambahkan ukiran hingga mengembangkan motif batik.
“Dulu itu klompen rata-rata polos. Kemudian saya pernah melihat sesuatu dan muncul inisiatif untuk mencoba mengukir klompen. Setelah itu, mayoritas mulai menggunakan ukiran. Saya kemudian punya ide, bagaimana kalau klompen itu dibatik. Akhirnya, batik sempat booming juga. Namun, karena penggunaan pewarna batik seperti pada pakaian membutuhkan biaya dan tenaga yang lebih besar, akhirnya kami menggunakan cat,” jelas Darto.
Inovasi tersebut membuat klompen tidak hanya berfungsi sebagai alas kaki, tetapi juga berkembang menjadi produk kerajinan yang dapat dijadikan cendera mata. Dari sisi harga, klompen yang dijual secara grosir berada di kisaran Rp20 ribuan per pasang. Sementara itu, untuk penjualan satuan, klompen model biasa dibanderol sekitar Rp50 ribuan, sedangkan model dengan hak tinggi berada di kisaran Rp80 ribuan.
Dari sisi pemasaran, sebagian besar klompen produksi Darto dikirim ke toko-toko oleh-oleh di luar Desa Toyomarto. Produk tersebut dititipkan di sejumlah daerah seperti Bali, Batu, dan Kediri. Sementara itu, penjualan di wilayah Toyomarto sendiri biasanya dilakukan ketika terdapat tamu atau kunjungan ke desa. Jumlah produksi setiap bulan tidak menentu karena menyesuaikan pesanan. Dalam satu bulan, pesanan dari satu toko dapat mencapai ratusan pasang.
Kerajinan klompen juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari wisata edukasi. Wisatawan yang ingin mempelajari proses pembuatan klompen secara lebih mendalam dapat datang langsung ke tempat Darto. Selain menerima kunjungan, ia juga pernah mendapatkan undangan dari daerah lain untuk memberikan pelatihan mengenai pembuatan klompen.
Namun, keberlangsungan kerajinan klompen masih menghadapi tantangan dalam hal regenerasi. Minimnya generasi penerus menjadi salah satu persoalan karena sebagian anak muda saat ini lebih memilih bekerja di perusahaan.
Di tengah tantangan tersebut, Darto berharap keterampilan membuat klompen tetap diwariskan kepada generasi berikutnya. Keberadaan kerajinan ini dinilai tidak hanya menjadi mata pencaharian, tetapi juga bagian dari identitas Desa Toyomarto yang memiliki nilai budaya dan potensi untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata.
“Harapannya adalah ada yang bisa meneruskan kerajinan kelompen ini karena ini adalah salah satunya ikon Toyomarto yang harus dilestarikan,” pungkasnya
Penulis : Setyaning Puspita Sari





















