Mahasiswa UNIMMA Teliti Peran Treatment Burnout dan Kesehatan Mental dalam Keputusan Pengobatan Pasien Penyakit Kronis Lewat Program Kreativitas Mahasiswa-Skema Riset Sosial Humaniora
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) melakukan penelitian mengenai treatment burnout, dinamika kesehatan mental, dan pengaruh paparan informasi kesehatan digital terhadap keputusan pengobatan pasien penyakit kronis. Riset ini dilaksanakan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Republik Indonesia.
Penelitian ini melibatkan 100 pasien penyakit kronis di antaranya penderita hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit jantung yang telah menjalani pengobatan minimal enam bulan. Tim menyusun dan menguji instrumen kuesioner sebanyak 53 item pada tujuh dimensi, mencakup beban pengobatan, treatment burnout, perilaku penggunaan obat, paparan informasi kesehatan digital, keputusan farmakologis, persepsi penyakit, hingga kondisi kesehatan mental pasien. Instrumen ini telah diuji validitas isinya oleh para pakar sebelum digunakan untuk pengambilan data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kesehatan mental pasien seperti gejala stres, kecemasan, dan kesulitan beristirahat berpengaruh signifikan terhadap perilaku penggunaan obat sehari-hari. Sementara itu, treatment burnout atau kelelahan akibat rutinitas pengobatan yang panjang terbukti berhubungan signifikan dengan keputusan pengobatan pasien secara keseluruhan. Menariknya, sekadar mengakses informasi kesehatan melalui internet dan media sosial belum terbukti cukup memengaruhi keputusan pengobatan pasien, kecuali disertai dengan kemampuan literasi kesehatan digital yang memadai.
Ketua tim peneliti, Nadima Marsha Anjani, menjelaskan bahwa temuan ini penting untuk mengingatkan tenaga kesehatan agar tidak semata memandang ketidakpatuhan pasien sebagai bentuk kelalaian.
“Kami menemukan bahwa banyak pasien penyakit kronis sebenarnya bukan tidak mau patuh terhadap pengobatan, tetapi mengalami kelelahan fisik dan emosional akibat rutinitas pengobatan yang panjang. Ini yang perlu lebih diperhatikan oleh tenaga kesehatan dan pembuat kebijakan,” ujar Nadima
Penelitian ini dibimbing oleh dosen pendamping Dr. apt. Elmiawati Latifah, M.Sc., dari Fakultas Ilmu Kesehatan UNIMMA. Menurutnya, riset yang dilakukan mahasiswa bimbingannya ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan layanan farmasi dan kesehatan yang lebih berorientasi pada pasien secara utuh, tidak hanya dari sisi klinis, tetapi juga psikososial.
“Sebagai pendamping, saya melihat riset ini membuka wawasan baru bahwa kepatuhan pengobatan pasien penyakit kronis tidak bisa dipisahkan dari aspek kesehatan mental dan beban psikologis yang mereka alami. Mahasiswa berhasil menunjukkan bahwa treatment burnout adalah fenomena nyata yang perlu dideteksi sejak dini, sejalan dengan tren layanan kesehatan yang semakin digital. Saya berharap hasil riset ini dapat menjadi masukan bagi fasilitas kesehatan primer dan pembuat kebijakan dalam merancang layanan penyakit kronis yang lebih holistik,” kata Elmi
Tim peneliti berharap hasil riset ini dapat mendorong integrasi skrining treatment burnout dan kesehatan mental ke dalam layanan penyakit kronis di fasilitas kesehatan primer, seperti Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) di Puskesmas. Selain itu, tim juga menyoroti pentingnya penguatan literasi kesehatan digital masyarakat, mengingat akses informasi kesehatan yang tinggi belum tentu diikuti kemampuan menilai dan memanfaatkan informasi tersebut secara tepat.


















