Sebagai bagian dari Praktik Kependidikan (PK), Dzikri Kurnia Putri Halimah, Mahasiswa Departemen Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Yogyakarta, melaksanakan pembelajaran matematika dengan materi keliling bangun datar di Sekolah Khusus Autis Bina Anggita Yogyakarta. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 9 September 2026 pukul 08.00-09.15 WIB, dengan sasaran satu orang murid Autism Spectrum Disorder (ASD) Fase D kelas 9. Pelaksanaan kegiatan ini sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), yakni SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penyediaan pembelajaran yang responsif terhadap kebutuhan murid, SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) melalui pembelajaran adaptif bagi murid berkebutuhan khusus, serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pemanfaatan kardus bekas sebagai media edukatif.

Pembelajaran ini dirancang agar murid mampu menentukan dan menghitung keliling segitiga, persegi, dan persegi panjang menggunakan benda konkret, sekaligus memahami keliling sebagai jumlah seluruh sisi bangun datar. Dengan strategi Pembelajaran Langsung (Direct Instruction) berpendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), mahasiswa PK bersama guru pamong mengajak murid mengenal konsep keliling melalui media bangun datar berbahan kardus bekas yang dilengkapi benang, batang korek api, dan lidi. Murid dibimbing untuk mengaitkan benang pada setiap sudut bangun datar, mengukur tiap sisi menggunakan batang korek api atau lidi sebagai satuan panjang tidak baku, lalu menjumlahkan hasil pengukuran melalui penjumlahan bersusun. Kegiatan diakhiri dengan pengerjaan lembar kerja secara mandiri serta refleksi bersama mengenai materi yang telah dipelajari.

Melalui media dan pendekatan tersebut, murid tidak hanya diajak untuk menghafal rumus, tetapi juga diberikan kesempatan untuk mengalami sendiri proses menemukan konsep keliling lewat kegiatan mengamati, mengukur, dan menghitung secara langsung. Hasil observasi selama kegiatan menunjukkan murid mampu mengikuti seluruh tahapan pembelajaran dengan baik dan menunjukkan pemahaman terhadap konsep keliling yang diajarkan. Bagi sekolah, kegiatan ini memperkaya penggunaan media pembelajaran matematika yang adaptif bagi murid dengan autisme, serta menjadi wujud nyata dukungan terhadap SDG 4, SDG 10, dan SDG 12 melalui pembelajaran yang memperhatikan kebutuhan murid sekaligus memanfaatkan kembali barang bekas sebagai media edukatif.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pengalaman pembelajaran yang dikembangkan secara berkelanjutan dalam mendukung pembelajaran matematika bagi murid dengan autisme. Tindak lanjut yang direncanakan mencakup perluasan penggunaan media konkret pada materi bangun datar lainnya, serta pengembangan media sejenis untuk topik matematika yang berbeda. Dengan demikian, media pembelajaran yang sederhana dan mudah dibuat dapat terus dimanfaatkan untuk menciptakan pembelajaran yang lebih adaptif, bermakna, dan mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.


















