Ada kemungkinan, pagi ini, sebelum kopi Anda benar-benar dingin, seseorang sedang kehilangan nama baiknya.
Bukan di ruang sidang. Bukan pula di kantor polisi.
Melainkan di sebuah tempat yang ukurannya hanya beberapa inci: layar ponsel.
Mungkin bermula dari sebuah video berdurasi lima belas detik. Potongan percakapan yang kehilangan awal dan akhir. Tangkapan layar tanpa tanggal. Atau satu kalimat sederhana yang diawali dengan kata paling berbahaya dalam sejarah percakapan manusia:
“Katanya…”
Aneh, bukan?
Kita bisa sangat hati-hati ketika menerima uang dari orang lain. Kita meminta bukti, tanda tangan, bahkan perjanjian tertulis. Namun, ketika kabar buruk tentang seseorang melintas di layar, kehati-hatian sering kali berubah menjadi rasa penasaran.
Yang penting bukan lagi apakah kabar itu benar.
Yang penting: apakah orang lain sudah melihatnya?
“Eh, sudah tahu belum?”
Kalimat itu mungkin terdengar biasa. Tidak ada nada jahat. Tidak ada niat terang-terangan untuk menghancurkan seseorang. Banyak orang yang menyebarkan kabar hanya merasa sedang berbagi informasi, sedang ikut percakapan, sedang menjadi bagian dari sesuatu yang sedang ramai.
Tidak ada yang merasa sedang menjadi pelaku. Sebab di zaman digital, penyebaran kabar buruk sering terjadi tanpa wajah. Tidak ada satu orang yang merasa bertanggung jawab sepenuhnya. Semua hanya meneruskan sesuatu yang sebelumnya sudah diteruskan orang lain.
Satu jempol bergerak. Satu unggahan berpindah. Satu nama perlahan berubah menjadi cerita yang tidak lagi bisa dikendalikan pemiliknya.
Padahal, reputasi manusia dibangun dengan cara yang lambat. Bertahun-tahun seseorang berusaha menjadi baik, bekerja, menjaga hubungan, membangun kepercayaan. Namun, semua itu dapat diguncang hanya oleh beberapa detik video yang kehilangan konteks.
Internet memiliki ingatan yang panjang, tetapi sering kali memiliki kesabaran yang pendek.
Kita hidup dalam zaman ketika klarifikasi datang terlambat, sementara tuduhan sudah lebih dulu melakukan perjalanan.
Sebenarnya, manusia tidak pernah benar-benar berhenti membicarakan manusia lain.
Jauh sebelum media sosial hadir, gosip sudah menjadi bagian dari kehidupan sosial. Ia hidup di warung kopi, halaman rumah, pasar, ruang kerja, hingga percakapan kecil setelah sebuah pertemuan selesai.
Antropolog Max Gluckman pernah melihat gosip bukan semata sebagai kebiasaan buruk, melainkan sebagai mekanisme sosial. Melalui percakapan tentang orang lain, sebuah kelompok sebenarnya sedang membicarakan nilai, aturan, dan batas perilaku yang dianggap pantas.
Ketika masyarakat kecil membicarakan seseorang yang melanggar norma, yang sedang dipertaruhkan bukan hanya nama orang tersebut. Ada pesan yang sedang dikirim kepada anggota kelompok lain: begini cara kita hidup bersama.
Dulu, gosip memiliki ruang yang terbatas. Ia berhenti ketika percakapan selesai. Kini, gosip memiliki algoritma. Ia bisa berjalan lebih jauh daripada orang yang membicarakannya.
Media sosial tidak pernah benar-benar bertanya apakah sebuah kabar benar atau salah. Ia hanya menghitung berapa lama seseorang berhenti menggulir layar.
Semakin membuat marah, semakin mengundang perdebatan. Semakin kontroversial, semakin besar peluangnya muncul kembali di hadapan pengguna lain.
Dalam ekonomi perhatian, emosi manusia menjadi bahan bakar. Kemarahan, rasa malu, keterkejutan, bahkan kebencian dapat berubah menjadi angka: jumlah tayangan, komentar, dan bagikan.
Sebuah cerita tidak harus benar untuk menjadi besar. Ia hanya harus menarik.
Di titik inilah gosip mengalami perubahan besar. Ia tidak lagi sekadar menjadi percakapan sosial. Ia menjadi pertunjukan.
Sosiolog Erving Goffman pernah menjelaskan bahwa manusia dalam kehidupan sosial selalu melakukan pengelolaan kesan. Kita memilih bagaimana ingin dilihat oleh orang lain. Kita membangun “panggung” tertentu agar identitas kita diterima.
Namun, media sosial membuat panggung itu menjadi sangat rapuh.
Seseorang tidak lagi hanya berhadapan dengan lingkungan terdekatnya. Ia berhadapan dengan ribuan bahkan jutaan mata yang tidak mengenalnya secara utuh.
Masalahnya, publik digital sering kali mengenal seseorang melalui potongan.
Bukan keseluruhan cerita.
Kita menilai seseorang dari satu unggahan, satu komentar, satu ekspresi wajah, atau satu momen yang mungkin tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi konsumsi bersama.
Manusia yang kompleks dipadatkan menjadi sebuah narasi pendek.
Baik atau buruk. Pahlawan atau penjahat. Benar atau salah. Tidak ada ruang yang cukup untuk keraguan.
Barangkali persoalan terbesar hari ini bukan karena manusia masih bergosip.
Manusia selalu melakukannya.
Persoalannya adalah ketika setiap bisikan memiliki pengeras suara.
Ketika satu percakapan kecil dapat berubah menjadi pengadilan terbuka.
Ketika rasa ingin tahu lebih cepat bergerak daripada upaya memahami.
Dan ketika sebuah nama yang tidak pernah kita kenal, bisa kita hancurkan hanya karena kita merasa sedang tidak melakukan apa-apa.(*)























