Contact Us
Login
Logout
Pelataran
Banner Publikasi Press Release Gratis
  • Berita Utama
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Nasional
  • Properti
  • SBTV
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Teknologi
    • Otomotif
    • English
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Pariwisata
    • Pendidikan
    • Product Review
    • Sorot
    • Sport
    • Event
    • Opini
    • Profil
  • Kirim Tulisan
    • Login
    • Akun Saya
    • Tulisan Saya
    • Logout
Pelataran
  • Berita Utama
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Nasional
  • Properti
  • SBTV
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Teknologi
    • Otomotif
    • English
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Pariwisata
    • Pendidikan
    • Product Review
    • Sorot
    • Sport
    • Event
    • Opini
    • Profil
  • Kirim Tulisan
    • Login
    • Akun Saya
    • Tulisan Saya
    • Logout
No Result
View All Result
Pelataran
No Result
View All Result
Home Opini

Komunikasi Manusia dan Mesin Ketika Batas Itu Semakin Kabur

Agus Budiana by Agus Budiana
10 September 2026
in Opini
A A
0
Komunikasi manusia dan mesin AI

Ilustrasi Komunikasi manusia dan mesin AI (Generate AI)

851
SHARES
1.2k
VIEWS

Pernahkah Anda tanpa sadar mengucapkan “tolong” atau “terima kasih” kepada asisten suara di ponsel? Atau merasa sedikit bersalah ketika mematikan chatbot di tengah percakapan, seolah-olah Anda baru saja memutus obrolan dengan seseorang? Kalau pernah,

Anda tidak sendirian dan itu bukan tanda Anda aneh. Itu justru bukti bahwa garis pemisah antara “berkomunikasi dengan manusia” dan “berkomunikasi dengan mesin” sudah tidak sejelas dulu.

Selama puluhan tahun, ilmu komunikasi berdiri di atas asumsi sederhana: ada pengirim manusia, ada penerima manusia, dan mesin hanyalah saluran di tengah-tengahnya seperti telepon atau kabel.

Tapi asumsi itu kini goyah. Kehadiran chatbot, asisten virtual, dan kecerdasan buatan generatif membuat mesin tidak lagi sekadar perantara pesan, melainkan pihak yang seolah-olah ikut “berbicara”. Dari sinilah lahir bidang kajian yang disebut komunikasi manusia-mesin (human-machine communication), dan dari sinilah opini ini bermula.

Ketika Mesin Dianggap Punya “Kehadiran”

Pertanyaan paling mendasar dalam relasi manusia dan mesin sebenarnya bukan soal teknologi, melainkan soal ontology apa sebenarnya “mesin” itu bagi kita. Riset Andrea Guzman, salah satu peletak dasar kajian komunikasi manusia-mesin, menemukan bahwa orang-orang membedakan manusia dari komputer berdasarkan sejumlah hal dari mana mereka “berasal”.

Seberapa besar kemandirian yang mereka miliki, apakah mereka sekadar alat atau pengguna alat, seberapa “cerdas” mereka, sejauh mana mereka punya emosi, dan apakah mereka bisa keliru sebagaimana manusia keliru.

Temuan itu ia peroleh lewat wawancara mendalam dengan puluhan orang dewasa tentang pengalaman mereka menggunakan teknologi kecerdasan buatan tanpa wujud fisik, seperti asisten suara dan perangkat lunak penulis otomatis.

Baca Juga

Ilustrasi peningkatan produktivitas kerja di lingkungan perusahaan. (Ilustrasi/AI)

Pemerintah Bantu Dorong Perusahaan Tingkatkan Produktivitas di Tengah Tekanan Ekonomi

5 September 2026
IMG 2765

Perencanaan SDM di Era AI: Apakah Perusahaan Harus Mengurangi Karyawan atau Justru Meningkatkan Kompetensinya?

3 September 2026
1787323144748

“Pengabdian Sama Mulianya, Hak Harus Sama Adilnya”: Suara Hati Ribuan Pendidik Madrasah Swasta yang Selama Ini Diam Mengabdi

31 August 2026
13441 ilustrasi demo di dpr

Kalau Mendukung, Mengapa Harus Demo?

29 August 2026

Yang menarik, Guzman mendapati bahwa batas-batas ontologis semacam ini justru semakin kabur seiring teknologi meniru kualitas-kualitas manusiawi dan cara seseorang memaknai batas manusia-komputer itulah yang pada akhirnya ikut membentuk bagaimana ia berinteraksi dengan teknologi tersebut.

Ini yang menurut saya menjadi inti persoalan: kita tidak lagi berhadapan dengan mesin yang “kosong” secara sosial. Sebuah aplikasi obrolan berbasis AI dirancang agar terasa alami, semirip mungkin dengan percakapan antarmanusia lengkap dengan suara bergender, nada ramah, bahkan nama panggilan.

Ketika desain itu berhasil, batas ontologis yang tadinya jelas (manusia di satu sisi, alat di sisi lain) mulai berbaur. Dan begitu batas itu buyar, cara kita bersikap terhadap mesin pun ikut berubah.

Mengapa Kita Refleks Bersikap Sopan pada Layar

Fenomena ini sebetulnya sudah lama diramalkan sebelum era chatbot secanggih sekarang. Byron Reeves dan Clifford Nass dari Stanford, lewat gagasan yang dikenal sebagai paradigma “Computers Are Social Actors” (CASA), menemukan bahwa manusia secara tidak sadar memperlakukan komputer dan media lain seolah-olah entitas itu memiliki sifat manusiawi, lengkap dengan aturan dan kebiasaan sosial yang biasa kita terapkan pada sesama manusia.

Serangkaian eksperimen mereka memperlihatkan bahwa orang bersikap “sopan” pada komputer, memperlakukan suara berkarakter perempuan berbeda dari suara berkarakter laki-laki, bahkan merasa ruang pribadinya “terganggu” oleh wajah besar di layar.

Bagi keduanya, kesimpulannya sederhana namun mengejutkan: interaksi manusia dengan komputer, televisi, dan media baru pada dasarnya bersifat sosial dan alami, hampir setara dengan interaksi dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Yang membuat temuan ini istimewa bukan sekadar bahwa orang bisa memperlakukan mesin secara sosial, melainkan bahwa respons itu terjadi tanpa disengaja refleks bawah sadar, bukan pilihan rasional.

Nass menyebutnya sebagai kecenderungan yang “mindless”: otak kita, yang berevolusi untuk mengenali sinyal-sinyal sosial dari sesama manusia, ternyata tetap “terpicu” begitu mesin menampilkan sinyal serupa, sekecil apa pun sinyal itu.

Bagi saya, inilah yang menjelaskan mengapa percakapan dengan AI generatif hari ini terasa begitu lancar dan hampir tidak canggung: bukan karena mesin benar-benar memahami kita, tapi karena otak manusia sudah lebih dulu siap memperlakukannya seperti lawan bicara sungguhan.

Kedekatan Semu dan Harga yang Mesti Dibayar

Namun di titik inilah opini saya berbelok ke arah yang lebih hati-hati. Kesediaan kita bersikap sosial terhadap mesin bukan tanpa konsekuensi. Sherry Turkle, sosiolog dan psikolog dari MIT yang selama belasan tahun meneliti relasi manusia dengan robot serta perangkat digital, mengingatkan bahwa kedekatan yang kita rasakan terhadap mesin sering kali merupakan ilusi sepihak.

Dalam pengamatannya terhadap lansia yang berinteraksi dengan robot pendamping berbentuk anjing laut bernama Paro, ia mencatat bahwa manusia bisa merasakan keintiman dengan sebuah entitas, padahal sesungguhnya mereka sendirian sebab mesin itu tidak benar-benar memahami apa pun dari momen yang “dibagikan” bersama manusia.

Dalam pandangan Turkle, kita cenderung tidak lagi mempersoalkan sejauh mana kecerdasan buatan itu benar-benar “mengetahui” atau “memahami” momen manusiawi yang seolah kita bagi dengannya dan justru di situlah letak kerentanan kita.

Turkle menyebut kondisi ini sebagai “momen robotik” titik ketika simulasi terasa cukup, dan imitasi empati bahkan bisa lebih disukai daripada empati yang sesungguhnya.

Peringatan Turkle inilah yang menurut saya paling relevan untuk kita renungkan hari ini, ketika chatbot AI hadir sebagai teman curhat, teman belajar, bahkan “teman dekat” bagi sebagian orang.

Kenyamanan berkomunikasi dengan mesin memang nyata dan bermanfaat ia bisa membantu, menemani, meringankan. Tapi kenyamanan itu semestinya tidak membuat kita lupa bahwa di ujung percakapan itu tidak ada kesadaran yang benar-benar hadir, tidak ada pengalaman hidup yang benar-benar dibagi.

Menemukan Titik Seimbang

Bagi saya, tiga sudut pandang ini ontologi Guzman, media equation Reeves dan Nass, serta kritik Turkle justru saling melengkapi, bukan bertentangan. Guzman menunjukkan bahwa batas manusia-mesin memang kian kabur.

Reeves dan Nass menjelaskan mengapa kita begitu mudah memperlakukan mesin secara sosial dan Turkle mengingatkan agar kemudahan itu tidak membuat kita kehilangan kepekaan pada apa yang sesungguhnya manusiawi.

Komunikasi manusia dan mesin, pada akhirnya, bukan soal memilih antara merangkulnya sepenuhnya atau menolaknya sepenuhnya. Ia soal tetap sadar bahwa kenyamanan berbicara dengan mesin adalah alat bantu, bukan pengganti kehadiran manusia lain dalam hidup kita.

Selama kesadaran itu terjaga, mesin bisa menjadi mitra komunikasi yang berguna tanpa perlu menggantikan kehangatan yang hanya bisa diberikan oleh sesama manusia.

 

    Tags: komunikasiManusiamesin
    Share340Tweet213Share60Pin77SendShare
    Leaderboard Satu Rumah
    Previous Post

    PEDAL JUARA Dorong Anak Pemulung Bantargebang Berani Bermimpi dan Mengenali Potensi Diri

    Next Post

    Apartemen Cacing Sutra Berbasis Energi Surya, Dorong Kemandirian Pakan di Desa Karangnanas

    Agus Budiana

    Agus Budiana

    Agus Budiana adalah jurnalis, penulis, dan mantan akademisi di bidang komunikasi.  Memiliki perhatian pada isu jurnalistik, media digital, komunikasi publik, kecerdasan buatan (AI), literasi digital, serta perkembangan media dan teknologi. Aktif menulis opini dan artikel mengenai media, komunikasi, jurnalistik, dan berbagai isu sosial yang berkembang di masyarakat. Latar belakang di bidang ilmu komunikasi menjadi landasan dalam melihat perubahan lanskap media dan komunikasi di era digital.

    Related Posts

    Ilustrasi peningkatan produktivitas kerja di lingkungan perusahaan. (Ilustrasi/AI)

    Pemerintah Bantu Dorong Perusahaan Tingkatkan Produktivitas di Tengah Tekanan Ekonomi

    5 September 2026
    IMG 2765

    Perencanaan SDM di Era AI: Apakah Perusahaan Harus Mengurangi Karyawan atau Justru Meningkatkan Kompetensinya?

    3 September 2026
    1787323144748

    “Pengabdian Sama Mulianya, Hak Harus Sama Adilnya”: Suara Hati Ribuan Pendidik Madrasah Swasta yang Selama Ini Diam Mengabdi

    31 August 2026
    13441 ilustrasi demo di dpr

    Kalau Mendukung, Mengapa Harus Demo?

    29 August 2026
    Next Post
    Melihat secara langsung apartemen cacing sutra

    Apartemen Cacing Sutra Berbasis Energi Surya, Dorong Kemandirian Pakan di Desa Karangnanas

    Alat NoodleTech berbasis IoT untuk proses pengacakan, pencetakan, penggulungan, dan pendataan produksi Mie Lethek

    Saat Tradisi Bertemu Otomasi: NoodLeTech Hadir untuk Menjawab Tantangan Produksi Mie Lethek

    Please login to join discussion
    Square Media Wanita

    Berita Utama

    Demo 27 Agustus: Polda Metro Jaya Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Sekitar Gedung DPR
    Berita Utama

    Demo 27 Agustus: Polda Metro Jaya Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Sekitar Gedung DPR

    by Redaksi
    27 August 2026
    0

    Demo 27 Agustus: Polda Metro Jaya Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Sekitar Gedung DPR Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menyiapkan...

    Read moreDetails
    IMG 20260813 WA0042

    Pilar Saga Ultimatum Provider: Jangan Lagi Pasang Kabel Fiber Optik di Atas Jalan

    14 August 2026
    Banjir di Suwawa Selatan. (foto BPBD PROV. Gorontalo)

    BPBD Imbau Warga Gorontalo Waspadai Hujan Lebat

    12 June 2026
    Presiden Prabowo Didampingi Menteri Trenggono Tinjau KNMP Leato Selatan

    Presiden Prabowo Didampingi Menteri Trenggono Tinjau KNMP Leato Selatan

    15 May 2026
    Kampung Literasi Pekijing Kota Serang Bangun Budaya Literasi dari Halaman Rumah

    Kampung Literasi Pekijing Kota Serang Bangun Budaya Literasi dari Halaman Rumah

    15 May 2026
    Rumah Prabu Half Page

    Berita Terkait

    Alat NoodleTech berbasis IoT untuk proses pengacakan, pencetakan, penggulungan, dan pendataan produksi Mie Lethek

    Saat Tradisi Bertemu Otomasi: NoodLeTech Hadir untuk Menjawab Tantangan Produksi Mie Lethek

    10 September 2026
    Melihat secara langsung apartemen cacing sutra

    Apartemen Cacing Sutra Berbasis Energi Surya, Dorong Kemandirian Pakan di Desa Karangnanas

    10 September 2026
    Komunikasi manusia dan mesin AI

    Komunikasi Manusia dan Mesin Ketika Batas Itu Semakin Kabur

    10 September 2026
    pelataran 1

    PEDAL JUARA Dorong Anak Pemulung Bantargebang Berani Bermimpi dan Mengenali Potensi Diri

    10 September 2026
    WhatsApp Image 2026 09 10 at 09.37.22

    KUA Pangkalan Gelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Momentum Meneladani Akhlak Rasulullah

    10 September 2026
    Reward konten zoyalink

    Mengenal Sistem Reward dan Monetisasi Konten ZOYALINK

    10 September 2026
    Pelataran

    Pelataran.com adalah portal media berita online yang terbuka untuk umum dan menerima kontribusi tulisan dari berbagai penulis. Tulisan yang dimuat dapat berupa berita, press release, opini, maupun bentuk tulisan lainnya.

    Segala konten yang dipublikasikan di Pelataran.com merupakan tanggung jawab penuh dari masing-masing penulis. Hak cipta atas isi tulisan, gambar, maupun video yang ditayangkan di situs ini sepenuhnya menjadi milik penulis atau pengunggah konten.

    Follow Us

    Pelataran.com

    Jika Anda merasa keberatan dengan adanya tulisan, gambar, atau video yang ditampilkan di situs ini karena alasan hak cipta atau alasan lainnya, silakan hubungi tim redaksi melalui email di:

    📧 redaksi@pelataran.com

    Kami akan segera meninjau dan menghapus konten yang dimaksud sesuai dengan kebijakan dan pertimbangan redaksi.

    Penting!

    Tulisan yang tidak disertai dengan foto atau gambar atau ilustrasi tidak akan dipublikasikan dan akan langsung dihapus oleh Redaksi. Gambar harus ada hubungannya dengan tulisan ya dan bukan foto selfie penulis

    Pemberitahuan!

    Pelataran.com adalah portal berita komunitas yang berpusat di Jakarta dan tidak memiliki kantor perwakilan dimanapun. Tulisan atau berita yang ada merupakan kontribusi penulis lepas dari seluruh Indonesia bahkan dari seluruh dunia. Hati-Hati dengan oknum yang meng-atas-nama-kan Pelataran.com dengan mengaku sebagai wartawan, karena kami tidak memiliki wartawan dan tidak mengeluarkan kartu pengenal wartawan atau Kartu Pers atau Press ID Card.

    Iklan Banner Ucapan Selamat

    Pasang Iklan Banner Ucapan Selamat, Kenaikan Pangkat, Pelantikan dan Lain-Lain

    Salsa
    • Privacy Policy
    • Panduan Komunitas Pelataran
    • Syarat dan Ketentuan Pelataran
    • Disclaimer
    • Mengapa Tulisan Belum Ditayangkan?
    • Contact Us

    © 2023 Pelataran - Pres Rilis dan Berita

    No Result
    View All Result
    • Berita Utama
    • Ekonomi & Bisnis
    • Internasional
    • Nasional
    • Properti
    • SBTV
    • Lainnya
      • Gaya Hidup
      • Teknologi
      • Otomotif
      • English
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Pariwisata
      • Pendidikan
      • Product Review
      • Sorot
      • Sport
      • Event
      • Opini
      • Profil
    • Kirim Tulisan
      • Login
      • Akun Saya
      • Tulisan Saya
      • Logout
    • Login

    © 2023 Pelataran - Pres Rilis dan Berita