Di tengah lautan Pasifik yang sangat luas Kiribati adalah sebuah negara kecil yang terdiri dari beberapa pulau negara ini memiliki banyak pulau dan atol dan saat ini sedang menghadapi ancaman nyata yang disebabkan oleh perubahan iklim. Kenaikan air laut, banjir karena pasang surut, serta ancaman terhadap sumber air bersih adalah masalah-masalah yang bisa memengaruhi masa depan penduduk Kiribati.
Berbeda dengan negara-negara besar yang memiliki wilayah daratan yang luas, sebagian besar wilayah Kiribati terletak di daerah dataran rendah lokasi ini membuat Kiribati menjadi salah satu negara yang paling rentan terkena dampak kenaikan permukaan laut.
Bagi negara-negara kepulauan di Pasifik perubahan iklim bisa dianggap sebagai bahaya bagi keamanan manusia ketika banjir dan kenaikan air laut mulai mengancam rumah mereka masyarakat tidak hanya kehilangan rumah mereka, mereka juga merasa khawatir tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
Kiribati adalah negara yang ukurannya kecil baik dari segi luas tanah maupun jumlah orang yang tinggal di dalamnya namun masalah yang di alami menunjukkan isu yang lebih besar lagi di seluruh dunia, masa depan Kiribati menunjukkan bahwa perubahan iklim berdampak pada semua orang terlepas dari tempat mereka tinggal.
Ancaman terhadap Kiribati juga membuka masalah-masalah yang lebih luas dalam hubungan internasional. Jika suatu negara kehilangan sebagian besar wilayahnya karena permukaan laut naik bagaimana hal itu memengaruhi kemampuan negara tersebut mengendalikan wilayah tersebut? Apa yang akan terjadi pada rakyatnya? Apakah sebuah negara bisa tetap menjaga identitasnya dan bertahan hidup meskipun wilayahnya sering kali diserang?
Salah satu gagasan yang muncul karena adanya ancaman terhadap kelangsungan hidup negara-negara kepulauan adalah konsep “Negara Virtual”. Negara virtual berarti sebuah negara bisa tetap menjaga identitasnya, cara kerjanya, dan keberadaannya di dunia maya meskipun wilayahnya di dunia nyata sedang terancam konsep ini berhubungan dengan gagasan “negara yang tidak terikat pada wilayah fisik” (Deterritorialized statehood) yang mengatakan bahwa sebuah negara masih bisa terus ada meskipun tidak lagi sepenuhnya mengandalkan wilayah fisik untuk menjaga kemerdekaannya. Karena adanya risiko hilangnya wilayah atau wilayah yang tidak lagi layak untuk ditinggali akibat kenaikan permukaan laut, sekarang muncul pertanyaan apakah sebuah negara masih bisa dianggap sebagai negara yang benar-benar ada jika penduduk dan pemerintahnya tidak lagi berada di tempat yang sama seperti sebelumnya.
Dalam hal ini mengambil Tuvalu sebagai contoh yang tepat. Negara itu telah membuat “Digital Tuvalu” dengan menggunakan teknologi digital untuk menjaga identitas, budaya, sejarah, dan keberadaannya di peta meskipun permukaan air laut sedang naik upaya ini menunjukkan cara penggunaan perangkat digital atau digitalisasi sebagai strategi untuk membantu menghadapi mengurangi bahaya kemungkinan kehilangan kendali atas wilayah fisik dan memastikan negara tetap ada serta berjalan normal.
Situasi Tuvalu kini menjadi perhatian bagi negara-negara kepulauan Pasifik lainnya yang menghadapi masalah yang sama seperti Kiribati ini memunculkan pertanyaan: apakah Kiribati akan mengikuti jalur yang sama seperti Tuvalu dengan mengusulkan konsep “digital nation” sebagai upaya menciptakan bentuk kebangsaan yang tidak bergantung pada wilayah fisik (deterritorialized statehood) dan untuk mempertahankan keberlanjutan negara khususnya di tengah ancaman perubahan iklim?
Bagi masyarakat di kawasan Pasifik, melawan perubahan iklim bukan hanya tentang menjaga lingkungan saja Ini bukan hanya tentang menjaga rumah, pekerjaan, gaya hidup, dan masa depan negara mereka tetap aman.
DI TULIS OLEH : DANIEL ADRIANUS SAYA





















