Berangkat dari kepedulian terhadap kesehatan mental remaja, Nabielah Nihlatul Maula, murid kelas XII F MAN 1 Yogyakarta, menghadirkan inovasi teknologi bernama GELEMORA (Biomarker Digital Multibiosinyal Berbasis Baseline Individual untuk Deteksi Dini Stres Murid Madrasah). Inovasi ini menggabungkan teknologi sensor dan pendekatan personal untuk membantu mengenali perubahan respons tubuh yang mungkin berkaitan dengan stres. Gagasan tersebut mengantarkan Nabielah melaju ke 30 besar nasional.
GELEMORA menjadi bukti bahwa kreativitas murid madrasah dapat tumbuh dari persoalan nyata di lingkungan sekitar. Di tengah tuntutan akademik, ujian, dan padatnya aktivitas sekolah, Nabielah melihat pentingnya membantu remaja lebih mengenali kondisi dirinya. Dari kepedulian itu, ia merancang sebuah prototipe yang tidak sekadar membaca data tubuh, tetapi juga membandingkan perubahan tersebut dengan kondisi normal masing-masing individu.
“Banyak murid menghadapi tekanan akibat tugas sekolah, ujian, dan kegiatan sehari-hari. Terkadang, murid tidak menyadari bahwa tubuh mereka mulai menunjukkan respons terhadap tekanan tersebut. Saya ingin mengembangkan alat yang dapat membaca perubahan tubuh secara lebih personal, sehingga murid bisa lebih mengenali kondisi dirinya sejak dini,” ungkap Nabielah.
Keunggulan utama GELEMORA terletak pada pendekatan baseline individual. Alih-alih menggunakan satu standar yang sama untuk semua orang, sistem ini menjadikan kondisi awal setiap murid sebagai titik pembanding. Pendekatan tersebut dirancang untuk memperhatikan perbedaan respons tubuh antarindividu, sehingga analisis perubahan dapat dilakukan secara lebih personal.
Untuk mewujudkan gagasannya, Nabielah merancang prototipe berbasis mikrokontroler ESP32 dengan tiga sensor yang memiliki fungsi berbeda. Sensor GSR mengukur respons kulit, MAX30102 membaca denyut nadi, sedangkan DS18B20 digunakan untuk mengukur suhu kulit. Perpaduan ketiga sensor tersebut memungkinkan pengamatan perubahan respons tubuh melalui beberapa indikator sekaligus.
Proses pengembangan GELEMORA dilakukan melalui serangkaian tahapan, mulai dari mempelajari penelitian terkait stres dan respons fisiologis, merancang perangkat, hingga melakukan pengukuran dalam beberapa kondisi. Pengamatan dilakukan ketika murid duduk tenang, mengerjakan tugas akademik dengan batas waktu, dan kembali beristirahat. Data yang terkumpul kemudian dianalisis untuk membandingkan metode pembacaan sensor biasa dengan metode berbasis baseline individual.
Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa model berbasis baseline individual memiliki kemampuan yang lebih baik dalam membedakan kondisi stres yang diamati dibandingkan model yang hanya menggunakan nilai sensor biasa. Temuan ini menjadi pijakan awal bagi pengembangan GELEMORA sekaligus membuka peluang untuk penyempurnaan sistem pada tahap berikutnya.
Tentu, perjalanan menghadirkan inovasi ini bukan tanpa tantangan. Stabilitas pembacaan sensor menjadi salah satu pekerjaan penting yang harus diperhatikan. Gerakan tangan, posisi sensor, dan kondisi lingkungan dapat memengaruhi hasil pengukuran. Selain itu, respons tubuh setiap orang berbeda sehingga hasil pembacaan tidak dapat ditafsirkan menggunakan satu ukuran yang berlaku mutlak bagi semua individu.
Nabielah menyiasati tantangan tersebut dengan menjadikan pengukuran awal saat kondisi tenang sebagai pembanding serta menggabungkan beberapa indikator biosinyal. Ia juga melakukan analisis perbandingan untuk mengetahui metode yang memberikan hasil lebih baik. Baginya, proses ini menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa inovasi yang dikembangkan memiliki dasar pengujian yang dapat dipertanggungjawabkan.
Potensi GELEMORA tidak berhenti pada aspek teknologi. Jika terus disempurnakan dan melalui pengujian yang memadai, inovasi ini diharapkan dapat menjadi pendukung edukasi kesehatan mental di lingkungan madrasah. Murid berpotensi memperoleh sarana untuk lebih memahami perubahan respons tubuhnya, sedangkan guru bimbingan dan konseling serta pihak sekolah dapat mengeksplorasi pemanfaatannya sebagai pendukung kegiatan edukasi dan pendampingan.
Meski demikian, GELEMORA bukan alat diagnosis gangguan mental. Pengembangan lebih lanjut tetap diperlukan untuk meningkatkan ketelitian sensor, menguji keandalan sistem, serta memastikan perlindungan data dan privasi pengguna.
Bagi Nabielah, capaian menuju 30 besar nasional menjadi motivasi untuk terus menyempurnakan karyanya. Ia ingin menunjukkan bahwa teknologi dapat dikembangkan bukan semata-mata untuk mengikuti kemajuan zaman, melainkan juga untuk menjawab kebutuhan manusia.
“Melalui GELEMORA, saya ingin menunjukkan bahwa setiap murid memiliki respons tubuh yang berbeda. Karena itu, saya mencoba mengembangkan teknologi yang tidak hanya membaca angka, tetapi juga memahami perubahan tubuh berdasarkan kondisi normal masing-masing murid. Harapan saya, GELEMORA dapat terus dikembangkan menjadi inovasi yang bermanfaat bagi kesehatan mental remaja,” tuturnya.
Melalui GELEMORA, Nabielah membawa semangat inovasi murid MAN 1 Yogyakarta ke tingkat nasional. Karyanya memperlihatkan bagaimana kepedulian, pengetahuan, dan keberanian bereksperimen dapat berpadu menjadi gagasan yang menjanjikan. Lebih dari sebuah prototipe, GELEMORA merepresentasikan upaya generasi muda madrasah untuk menghadirkan teknologi yang berorientasi pada kebutuhan dan kesejahteraan manusia.
Langkah menuju 30 besar nasional menjadi awal bagi Nabielah untuk membawa GELEMORA berkembang lebih jauh. Dengan pengujian, penyempurnaan, dan pengembangan berkelanjutan, inovasi ini diharapkan dapat semakin matang dan membuka peluang kontribusi nyata bagi edukasi kesehatan mental remaja. (dee)
























