RINGINANOM, BLITAR – Di tengah kesibukan masa tanam, puluhan petani di Desa Ringinanom, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, mendapat angin segar. Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya Kelompok 68 menggelar pelatihan perawatan alat pertanian dan pembuatan alat penabur pupuk sederhana pada Jumat (24/7/2026) di salah satu rumah warga setempat.
Kegiatan yang berlangsung pada malam hari diikuti oleh sekitar 40 petani dari berbagai dusun di Ringinanom. Mereka tampak antusias mendengarkan pemaparan materi sambil sesekali mencatat poin-poin penting di buku kecil masing-masing.
“Selama ini kami hanya pakai alat seadanya. Kalau rusak, ya dibawa ke tukang las atau dibiarkan begitu saja. Jarang yang tahu cara perawatan yang benar,” ujar Slamet Siswanto, Ketua Kelompok Tani.
Perawatan Alat Tani yang Selama Ini Terabaikan

Dalam sesi pertama, para mahasiswa memaparkan pentingnya perawatan rutin terhadap alat-alat pertanian seperti cangkul, sabit, traktor mini, dan mesin semprot. Menurut mereka, banyak petani yang mengabaikan perawatan karena menganggapnya merepotkan atau memakan biaya.
“Padahal perawatan sederhana seperti membersihkan sisa tanah, mengolesi oli pada bagian besi untuk mencegah karat, dan menyimpan di tempat yang kering bisa memperpanjang usia pakai alat hingga bertahun-tahun,” jelas Raffi, salah satu mahasiswa MMD UB Kelompok 68 yang menjadi pemateri.
Para mahasiswa juga mendemonstrasikan cara membersihkan mesin semprot yang kerap tersumbat karena sisa pupuk atau pestisida yang mengendap. Mereka mengajarkan teknik pembilasan yang benar menggunakan air bersih dan sedikit minyak sayur agar selang dan nosel tidak cepat rusak.
“Ternyata selama ini saya salah. Biasanya habis pakai ya langsung saya simpan, tidak dibersihkan. Pantas saja mesin semprot saya sering mampet,” ujar petani lain yang turut hadir.
Inovasi Alat Penabur Pupuk dari Pipa Paralon

Sesi kedua menjadi yang paling dinanti. Mahasiswa UB mengajak para petani untuk membuat alat penabur pupuk sederhana menggunakan pipa paralon yang mudah ditemukan di toko bangunan sekitar.
Cara pembuatannya cukup sederhana. Pipa paralon berukuran sedang dipotong sesuai panjang yang diinginkan, kemudian salah satu ujungnya diberi tutup berlubang-lubang kecil sebagai saluran keluar pupuk. Ujung lainnya dibiarkan terbuka sebagai tempat menuangkan pupuk. Saat digoyangkan di atas lahan, pupuk akan keluar secara perlahan dan merata melalui lubang-lubang kecil di ujung pipa.
“Kami memilih pipa paralon karena bahan ini ringan, tahan lama, dan murah. Petani bisa membuatnya sendiri di rumah dengan biaya yang sangat terjangkau,” terang Rafif Fauzi sambil mempraktikkan langsung cara pembuatannya di hadapan para peserta.
Para petani pun diajak untuk mencoba langsung membuat alat tersebut. Suasana semakin hangat ketika mereka saling membantu dan bertukar ide tentang modifikasi alat sesuai kebutuhan masing-masing. Beberapa petani bahkan bereksperimen dengan ukuran lubang yang berbeda-beda untuk menyesuaikan jenis pupuk yang akan digunakan.
“Ini sangat membantu. Biasanya kami tabur pupuk pakai tangan, selain tidak rata juga bikin pegal. Dengan alat dari pipa paralon ini, pekerjaan jadi lebih cepat dan pupuk lebih hemat. Murah lagi!” seru salah satu peserta dengan antusias.
Harapan untuk Ketahanan Pangan Lokal
Koordinator Desa, Goldie Eleanora menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari rangkaian 14 program kerja MMD UB Kelompok 68 di Desa Ringinanom. Pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mengurangi biaya operasional yang selama ini membebani petani.
Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung antusias. Para petani tampak antusias menanyakan berbagai hal, mulai dari cara mengatasi mesin yang sering mogok hingga tips memilih pupuk yang tepat. Mahasiswa UB pun dengan sabar menjawab satu per satu.
Ucapan terima kasih juga disampaikan oleh Kelompok 68 MMD UB kepada Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Universitas Brawijaya atas dukungan pendanaan, fasilitasi, dan kepercayaan yang diberikan sehingga kegiatan pelatihan ini dapat terselenggara dengan lancar. Kehadiran DRPM UB di balik layar menjadi fondasi penting bagi setiap program pengabdian yang dijalankan, termasuk program pertanian yang menyentuh langsung kebutuhan pokok masyarakat Ringinanom.
Tak lupa, rasa hormat dan terima kasih yang mendalam disampaikan kepada Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kelompok 68, Dr. Arif Yustina Maulana Noor, S.TP., M.Agr. yang dengan sabar memberikan arahan, masukan, dan semangat kepada seluruh mahasiswa sejak persiapan hingga pelaksanaan di lapangan. Keteladanan dan bimbingan beliau menjadi motivasi tersendiri bagi tim untuk terus berinovasi dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat petani.
“Semoga ilmu yang kami bagikan hari ini bisa bermanfaat dan dipraktikkan. Karena petani adalah pahlawan pangan, dan kami bangga bisa belajar banyak dari mereka,” pungkas perwakilan mahasiswa di akhir acara, mengakhiri pelatihan yang penuh makna bagi warga Desa Ringinanom.
























