Lebih dari 150 mahasiswa dan akademisi dari Indonesia serta Malaysia mengikuti Webinar Internasional “Diskusi Paper Kolaborasi Antarbudaya” yang digelar secara hybrid oleh MNC University bersama Universitas Bina Darma (UBD). Dengan tema “Tantangan Komunikasi Antarbudaya dan Keberlanjutan dalam Masyarakat Global”, para pemateri membawa konsep seperti Culture Connect, negosiasi identitas, hingga kepemimpinan lintas budaya.
Jakarta, 4 Juni 2026 – Di era ketika seseorang bisa video call dengan teman di Korea, bekerja bersama kolega di Singapura, dan belajar dari dosen Jepang lewat Zoom, tantangan komunikasi tidak lagi terletak pada jarak, melainkan pada pemahaman. Hal inilah yang menjadi benang merah dalam Webinar Internasional yang diselenggarakan oleh MNC University berkolaborasi dengan Universitas Bina Darma (UBD) dan turut menghadirkan pembicara dari Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia.
Webinar yang digelar pada Kamis (4/6/2026) secara hybrid di MNC University, UBD Palembang, dan Zoom Meeting diikuti oleh 151 peserta. Acara ini merupakan hasil inisiatif Kelas R2C Prodi Sains Komunikasi MNC University bersama KOMIK FIKOM MNC University dan UBD. Sepanjang kurang lebih tiga jam, peserta tidak hanya menyimak paparan, tetapi juga terlibat aktif dalam breakout session yang dirancang untuk mensimulasikan dinamika komunikasi lintas budaya.

Tujuan dan Manfaat: Membangun Kompetensi Antarbudaya
Ketua pelaksana dari MNC University, Gian Shadiq Ardiza, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membangun empati digital dan kompetensi antarbudaya (intercultural competence) di kalangan mahasiswa. “Kami ingin peserta tidak hanya tahu teori, tetapi juga mengalami langsung bagaimana perbedaan bahasa, nada bicara, dan nilai budaya dapat memengaruhi komunikasi,” ujarnya.
Secara spesifik, webinar ini membahas empat fokus utama:
1. Dinamika Komunikasi Antarbudaya di Era Globalisasi,
2. Sosial Komunikasi Antarbudaya dalam Mendukung Keberlanjutan,
3. Pengaruh Teknologi dan Media Digital, serta
4. Strategi Membangun Kompetensi Antarbudaya.
Manfaat yang diperoleh peserta adalah pemahaman lintas budaya, perluasan relasi Indonesia-Malaysia, serta e-sertifikat. Bagi MNC University, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring global dan mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pendidikan berkualitas dan kemitraan.

Rangkaian Kegiatan: Dari Lagu Kebangsaan hingga Breakout Room
Acara dimulai pukul 08.15 WIB dengan pembukaan oleh MC, dilanjutkan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan lagu kebangsaan Malaysia. Sambutan disampaikan oleh Dekan MNC University, Dekan Universitas Bina Dharma Nuzsep Almigo, S.Psi., M.Si., Ph.D. , Dosen Pembimbing Wati Misna Desy, serta laporan kegiatan oleh Gian Shadiq Ardiza (MNC University ) dan Sesil Sapira (Universitas Bina Dharma).
Sesi inti menghadirkan tiga keynote speaker. Masing-masing memaparkan materi diselingi video profil kampus. Setelah itu, peserta memasuki breakout room Zoom selama 60 menit untuk mendiskusikan keempat topik secara mendalam. Acara ditutup pada pukul 11.00 WIB.
Sorotan Materi Narasumber: Dari Culture Shock ke Culture Connect
Chelsa Grasceon Natalia (MNC University): Culture Shock to Culture Connect
Dalam paparannya, Chelsa membuka dengan pantun khas Indonesia: “Naik kereta menuju Jakarta, melihat gedung berdiri berjajar. Kita mungkin lahir dari budaya berbeda, namun hari ini berkumpul untuk saling belajar.”
Ia memaparkan bahwa dulu tantangan manusia adalah bagaimana terhubung (to connect), tetapi hari ini tantangannya berubah menjadi bagaimana memahami satu sama lain. Dengan merujuk pada teori Cultural Dimensions dari Geert Hofstede, Chelsa menjelaskan empat dimensi utama:
● Power Distance (cara masyarakat memandang hierarki),
● Individualism vs Collectivism (fokus pada individu atau kelompok)
● Long-Term Orientation (orientasi jangka panjang atau pendek), serta
● Uncertainty Avoidance (cara menghadapi ketidakpastian).
Chelsa mengajak peserta untuk bertransformasi dari Culture Shock menuju Culture Connect melalui empat tahap: Cultural Awareness (kesadaran akan perbedaan cara pandang), Cultural Sensitivity (kemampuan menghargai perbedaan), Cultural Intelligence (kemampuan beradaptasi secara efektif), dan akhirnya Culture Connect. “Pada akhirnya, tujuan komunikasi antarbudaya bukan untuk membuat semua orang menjadi sama. Justru perbedaan itulah yang memperkaya cara kita melihat dunia,” tegasnya. Ia menutup dengan kutipan Albert Einstein: “Peace cannot be kept by force, it can only be achieved by understanding.”

Ayu Indah Permata (Universitas Bina Dharma): “Beda Kata, Tetap Nyambung Jua”
Dengan judul yang lugas khas Palembang, Ayu Indah membawa pendekatan yang lebih kontekstual. Ia menyoroti bahwa perbedaan bukan hanya soal bahasa, tetapi juga intonasi dan kosakata yang memiliki tempatnya sendiri. Menurutnya, dari culture shock kita bisa bergerak menuju culture shared dengan tiga langkah: mengenali persamaan kosakata, memahami bahwa intonasi punya makna tersendiri, dan secara aktif mengatasi culture shock.
Ayu juga menekankan pentingnya keberanian bicara dan kemauan mendengar. Ia memperkenalkan konsep Negosiasi Identitas “tempat membaur dan menyerap, tanpa membuang identitas asli.” Dalam konteks komunikasi antarbudaya, seseorang tidak harus meninggalkan budayanya sendiri, tetapi bisa menegosiasikan identitasnya di ruang lintas budaya.
“Ruasai public speaking, hadapi berbagai emosi. Komunikasi yang merangkul harus dibangun dengan membaca situasi dan active listening” ujarnya. Pesan penutupnya: “Beda kata, tetap nyambung jua.”
Nursafika Binti Amat (Universitas Pendidikan Sultan Idris Malaysia): Kepelbagaian Budaya dan Kepemimpinan
Nursafika membawa perspektif dari Malaysia dengan menyoroti kepelbagaian budaya dan identitas global. Ia mengidentifikasi tiga tantangan utama:
1. Perbezaan Bahasa dan Gaya Komunikasi – termasuk logat, slang, nada, dan intonasi yang kerap menimbulkan kesalahpahaman.
2. Pengaruh Media Sosial dan Maklumat Palsu – dunia tanpa batas justru mempercepat penyebaran informasi yang belum tentu akurat.
3. Kesamaan Warisan Budaya – yang bisa menjadi jembatan sekaligus sumber konflik jika tidak dikelola dengan baik.
Nursafika mengajak peserta untuk bersikap aktif bukan pasif. “Dunia itu luas, jika kamu memilih untuk menerokainya. Tidak semua bakat wujud dari lahir, kecuali diasah untuk terlahir,” pesannya. Ia menutup dengan pernyataan inspiratif:
“Dalam dunia yang penuh perbezaan, menjadi manusia yang memahami orang lain juga adalah satu bentuk kepimpinan.”
Kutipan Tambahan dari Penyelenggara
Gian Shadiq Ardiza (Ketua Pelaksana MNC University)
“Kami sengaja menghadirkan format breakout session agar peserta benar-benar merasakan betapa menantangnya berkomunikasi dengan orang dari latar budaya berbeda. Ini adalah laboratorium hidup.”
Sesil Sapira (Ketua Pelaksana Universitas Bina Dharma)
“Antusiasme 151 peserta membuktikan bahwa diskusi antarbudaya tidak pernah kehilangan relevansinya. Justru di tengah banjir informasi digital, kita perlu lebih sering duduk bersama dan mendengarkan.”
Penutup: Kolaborasi sebagai Jembatan
Webinar ini berhasil menunjukkan bahwa komunikasi antarbudaya bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan seni untuk bertumbuh di tengah perbedaan. Mulai dari konsep Culture Connect dari Chelsa, negosiasi identitas dari Ayu Indah, hingga kepemimpinan pemahaman dari Nursafika semuanya bermuara pada satu kesimpulan: kolaborasi lintas budaya mungkin terjadi jika ada kemauan untuk belajar, mendengar, dan beradaptasi.
Dekan MNC University dalam sambutannya menyatakan harapan agar kegiatan serupa dapat terus digelar secara berkala. “Kami ingin mahasiswa tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki kecerdasan budaya yang mumpuni untuk bersaing di tingkat global.”
Dengan berakhirnya acara ini, MNC University dan UBD mengukuhkan komitmen mereka untuk terus membuka ruang dialog antarbudaya. Seperti pantun pembuka dari Chelsea, kita mungkin lahir dari budaya berbeda, namun hari ini dan seterusnya kita berkumpul untuk saling belajar.





















