MALANG – Selama bertahun-tahun, Kelompok Wanita Tani (KWT) Srigading di Desa Ampelgading, Tirtoyudo, Malang, berada di posisi yang rentan dalam rantai nilai agribisnis. Potensi melimpah kopi robusta daerah selatan Malang sebagian besar (sekitar 85–90%) terhenti pada penjualan biji mentah (green beans) kepada pembeli partai besar. Akibatnya, nilai tambah hasil olahan kopi lenyap dan keuntungannya dinikmati oleh pihak luar.
Melihat hambatan teknis tersebut, tim pengabdian masyarakat dari UPN Veteran Jawa Timur melakukan penjajakan teknologi tepat guna berupa alih teknologi mesin pemanggang (roasting) kopi terintegrasi berbasis skala UMKM/kelompok tani. Senin, 20 Juli 2026, Tim Pengabdian UPN “Veteran” Jawa Timur mendampingi jajaran teknisi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk melangsungkan agenda observasi lapangan sekaligus konsultasi bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Srigading terkait kebutuhan mesin sortasi biji kopi (green beans).
Penjajakan teknologi ini berfokus pada penerapan mesin drum roaster semi-manual berbasis LPG bernilai investasi sekitar Rp20 juta. Mesin ini dilengkapi dengan kontrol suhu digital (digital temperature controller), sensor thermocouple tipe K (0–300°C), serta drum berbahan stainless steel 304 food grade.
Teknologi ini dikembangkan untuk memodernisasi cara pengolahan pascapanen kopi desa. Dengan sistem rotasi 40–60 rpm, cyclone exhaust system untuk menyaring asap dan kulit arsir kopi, serta cooling tray pendingin cepat, alat ini dirancang mampu beroperasi pada Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) 6. Kapasitas produksinya mencapai 60 hingga 80 kg kopi per jam.
Anisa Fitria Utami, SE., ME., selaku Ketua Tim Pengusul, menegaskan pentingnya relevansi penjajakan teknologi ini terhadap pencapaian target pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDGs Nomor 1: No Poverty (Tanpa Kemiskinan) dan SDGs Nomor 8 (Decent Work and Economic Growth).
“Penjajakan dan implementasi teknologi tepat guna ini bukan sekadar memberikan bantuan mesin, melainkan instrumen transformasi ekonomi berbasis komunitas, sentuhan teknologi roasting digital ini menjadi kunci untuk mengentas kemiskinan masyarakat desa secara inklusif. Hal ini sangat relevan dengan SDGs Nomor 1 (No Poverty), yaitu komitmen global untuk mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuk di mana pun. Melalui peningkatan nilai tambah produk lokal dari green beans menjadi kopi bubuk siap konsumsi, pendapatan rumah tangga para wanita tani dapat meningkat secara mandiri dan berkelanjutan.” ujar Anisa Fitria Utami, SE., ME. selaku dosen UPN “Veteran” Jawa Timur.
Dosen UPN “Veteran” Jawa Timur lainnya, Ary Fauziah Amini, S.Pn., M.SE., menambahkan bahwa pendampingan teknis juga menyasar pemetaan rantai pascapanen awal seperti sortasi biji.
“Proses sortasi biji kopi merupakan kunci awal dalam menentukan mutu dan kelas harga kopi di pasaran. Melalui pendampingan dan kolaborasi bersama ITS ini, kami ingin memastikan bahwa mesin sortasi yang nanti diimplementasikan benar-benar sesuai dengan kapasitas produksi KWT Srigading, sehingga mampu meningkatkan efisiensi kerja dan mengangkat standar kualitas Kopi Margading secara berkelanjutan” Lanjut Ary Fauziah Amini, S.Pn., M.SE. selaku dosen UPN “Veteran” Jawa Timur.
Proses pemetaan teknis serta pendampingan uji coba mesin di lapangan turut melibatkan peran aktif mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur sebagai wujud pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Mochamad Alfian Aleandro dan Roesyana Dwi Santi Dewi merupakan mahasiswa yang terlibat dalam pendampingan kegiatan, menyoroti aspek kesiapan teknis alat dan efisiensi operasionalnya bagi KWT.
Menurut Mochamad Alfian Aleandro, kegiatan observasi langsung ini memberikan pemahaman mendalam bahwa penerapan teknologi tepat guna di pedesaan membutuhkan pendekatan kearifan lokal. “Melalui observasi dan konsultasi langsung dengan mitra hari ini, kami belajar bahwa penerapan teknologi di tingkat desa tidak bisa asal memasukkan alat modern. Harus ada kajian mendalam mengenai kebiasaan pengurus, daya listrik desa, hingga tingkat kemudahan perawatan alat agar teknologi tersebut benar-benar memberikan manfaat nyata dan dipakai secara jangka panjang oleh KWT” ungkap Alfian.
Senada dengan hal tersebut, Roesyana Dwi Santi Dewi menyoroti temuan teknis mengenai kebutuhan spesifik alat berdasarkan kondisi cuaca dan preferensi pasar. “Dari kunjungan ini, saya jadi mengerti bahwasannya kendala produksi kopi di wilayah ini adalah sortasinya yang masih manual dan salah satu penyebab menurunnya produksi kopi itu karena cuaca. Jadi ketika cuaca kurang mendukung maka kualitas kopi akan menurun. Berdasarkan penjualan menyatakan konsumen itu lebih suka kopi yang ukurannya medium karena cita rasanya terbilang lebih enak. Dari kunjungan ini, mesin sortasi yang dibutuhkan yaitu 3 buah saringan dengan ukuran biji kopi 5 mm, 7 mm, dan 8mm yang kegunaannya untuk memisahkan antara biji kopi yang kecil, medium, dan cacat.” lanjut Santi.
Melalui penjajakan teknologi tepat guna ini, KWT Desa Ampelgading kini tidak lagi sekadar menjadi pemetik kopi di hulu, melainkan melangkah mantap menjadi produsen kopi bubuk olahan “Kopi Margading” yang berdaya saing tinggi dan siap merambah pasar yang lebih luas.
(Penulis: Anisa Fitria Utami, SE., ME., Ary Fauziah Amini, S.Pn., M.SE., Mochamad Alfian Aleandro, dan Roesyana Dwi Santi Dewi adalah Dosen UPN “Veteran” Jawa Timur serta Mahasiswa Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UPN “Veteran” Jawa Timur)
























