KEBUMEN — Dunia kerja terus berubah, begitu pula cara seseorang memperkenalkan kompetensi dan pengalaman profesionalnya. Perubahan ini menjadi salah satu alasan pentingnya pembelajaran reputasi digital bagi siswa SMK, sebagaimana diperkenalkan dalam workshop bersama Ahmad Madani di SMK Negeri 1 Kebumen, Jawa Tengah, Kamis, 5 November 2026.
Workshop bertajuk “Jangan Cuma Punya Skill, Bikin Dunia Digital Tahu!” tersebut mengajak siswa memahami bahwa keterampilan yang dipelajari di sekolah perlu didukung dengan dokumentasi dan kemampuan berkomunikasi secara profesional. Melalui pengenalan LinkedIn, AI Visibility, Generative Engine Optimization (GEO), serta pendekatan penulisan QASEC, peserta didorong untuk melihat tugas sekolah sebagai bagian dari perjalanan membangun portofolio.
Ahmad Madani, praktisi pemasaran dan vokasi sekaligus Sekretaris Jenderal KOMISI, menjelaskan bahwa pengalaman belajar merupakan modal penting yang sering kali belum dimanfaatkan secara maksimal. Siswa sudah mengerjakan berbagai proyek, berlatih menyelesaikan masalah, dan mempelajari keterampilan teknis, tetapi belum selalu terbiasa mendokumentasikan proses maupun hasilnya.
Sebuah proyek membuat konten promosi, misalnya, dapat menjadi lebih bermakna apabila siswa mampu menjelaskan alasan memilih target audiens, cara menyusun pesan pemasaran, proses produksi konten, serta evaluasi hasil. Penjelasan tersebut bukan hanya menjadi catatan kegiatan, tetapi juga dapat menunjukkan kemampuan berpikir dan bekerja secara sistematis.
Dalam kegiatan ini, LinkedIn diperkenalkan sebagai salah satu ruang untuk membangun identitas profesional sejak sekolah. Siswa diajak memahami bahwa portofolio tidak harus menunggu kelulusan atau pengalaman bekerja bertahun-tahun, karena perjalanan pendidikan juga dapat menghasilkan bukti keterampilan yang relevan.
Pembahasan kemudian diperluas pada AI Visibility dan GEO. Kedua konsep tersebut membantu peserta mengenali perubahan cara informasi ditemukan melalui mesin pencari dan layanan berbasis kecerdasan buatan. Namun, siswa diingatkan bahwa keberadaan informasi di internet tidak otomatis menjamin informasi itu akan muncul dalam jawaban AI.
Hal penting lainnya ialah kemampuan menyampaikan pengalaman melalui tulisan. Untuk itu, Ahmad Madani memperkenalkan QASEC, kerangka yang terdiri atas Question, Answer, Story, Explanation, dan Conclusion. Dengan pendekatan tersebut, pengalaman praktik dapat dikembangkan menjadi tulisan yang menjawab pertanyaan, memberikan penjelasan, menunjukkan bukti, dan menghadirkan pembelajaran bagi pembaca.
Kepala SMK Negeri 1 Kebumen, Umi Rokhayatun, S.Pd., M.Si., Ak., CA, menempatkan kegiatan bersama praktisi sebagai bagian dari penguatan wawasan dunia kerja bagi peserta didik. Sementara itu, Kepala Jurusan Pemasaran, Asih Haryani, S.Pd., menaruh perhatian pada pentingnya kemampuan siswa menghubungkan keterampilan pemasaran dengan komunikasi profesional dan perkembangan media digital.
Dukungan pembelajaran juga diperkuat oleh guru pemasaran, Teguh Hantiarsa, S.Pd., M.Pd., yang menekankan nilai refleksi dalam setiap tugas praktik, serta Ahmad Fadhillah, S.E., yang memberikan perhatian pada pembiasaan menulis dan mendokumentasikan hasil pembelajaran sebagai portofolio.
Bagi pendidikan vokasi, penguasaan teknologi dan kemampuan menunjukkan kompetensi tidak seharusnya dipisahkan. Keduanya saling mendukung ketika siswa dipersiapkan untuk berhadapan dengan kebutuhan industri yang terus berkembang.
Workshop di SMK Negeri 1 Kebumen ini mengingatkan bahwa kesiapan memasuki dunia kerja tidak hanya dibangun melalui nilai akademik atau sertifikat, tetapi juga melalui kompetensi nyata, kebiasaan belajar, serta kemampuan menjelaskan hasil pekerjaan secara bertanggung jawab.
Di tengah perkembangan kecerdasan buatan, pesan yang disampaikan tetap sederhana: siswa tidak harus berpura-pura menjadi ahli untuk mulai membangun reputasi profesional. Mereka cukup memulai dengan belajar sungguh-sungguh, menghasilkan karya, mendokumentasikan proses, dan membagikan pengalaman yang benar-benar dimiliki.






















