Perekonomian Indonesia kini tengah bergerak dinamis melalui revolusi digital dan penguatan sektor UMKM sebagai tulang punggung ekonomi lokal.
Di antaranya, UMKM Diyang Kinjut di Banjarbaru sebagai contoh konkret kain sasirangan sebagai produk lokal bernilai tinggi, dan menjalankan program edukasi sosialisasi dengan 35 mahasiswa dari berbagai provinsi.
Langkah ini tidak hanya mendorong kewirausahaan, tetapi juga memperkuat keterampilan masyarakat dan mahasiswa sekaligus mendukung pencapaian SDG 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur.
Secara nasional, data dari Kadin Indonesia (2024) menunjukkan terdapat sekitar 30,18 juta unit usaha mikro hingga makro yang mendominasi sektor UMKM. Angka lain menyebut total UMKM Indonesia mencapai 64,2 juta unit dengan kontribusi terhadap PDB sekitar 61,07% atau senilai Rp 8.573,89 triliun.
Dilansir dari pendapat sebagian besar UMKM bergerak di sektor perdagangan, reparasi kendaraan bermotor, dan industri pengolahan (~4,16 juta unit) serta jasa (~1,91 juta unit) hingga akhir 2024.
Di tingkat regional, misalnya di Kota Banjarmasin dan Banjarbaru (Kalimantan Selatan), tercatat industri kecil menengah seperti industri pakaian jadi, anyaman bambu atau rotan dan kerajinan kain sasirangan. Hal ini menegaskan bahwa kerajinan lokal seperti sasirangan memiliki potensi untuk menjadi penggerak ekonomi sekaligus pelestari budaya.
“Kegiatan UMKM ini melibatkan pengrajin berpengalaman sebagai bentuk dukungan terhadap ekonomi lokal, kemudian memasarkan hasil kerajinan melalui ekspor dan pasar domestik maupun luar negeri, sasirangan berbeda dengan produk lain karena memiliki motif yang unik, dengan atau tanpa bordir, mengedepankan kreativitas sesuai manca negara sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi.” Ujar Heni, pemilik UMKM Diyang Kinjut

Proses produksi kain sasirangan di UMKM ini menggabungkan tradisi dan inovasi: motif daun digambar dengan canting, kemudian kain diikat benang, dicelup ke larutan pewarna alami dari tumbuhan, dan diberi kombinasi warna biru, kuning, ungu, hijau dan coklat yang khas Banjar.
Produk jadi berupa kain yang dijadikan pakaian, aksesoris atau hiasan dinding serta dipasarkan ke luar negeri seperti Malaysia. Harga bervariasi mulai dari sekitar Rp 150.000 untuk kain tanpa bordir hingga lebih dari Rp 3.000.000 untuk kain bordir dengan motif kompleks, tergantung kualitas pewarnaan dan kerumitan motif.
Dukungan eksternal seperti kunjungan Menteri Sosial Hj. Tri Rismaharini pada 24 Juni 2024, Bupati Tanah Laut Rahmat Trianto, serta kolaborasi dengan brand ambassador Adidas Indonesia turut memperkuat dinamika pertumbuhan UMKM ini.
Kegiatan yang dijalankan UMKM Diyang Kinjut sangat selaras dengan SDG 9 yang menekankan industrialisation inclusive and sustainable, akses usaha kecil ke pasar domestik dan internasional, serta produksi berkelanjutan dan efisien.
Khususnya, target 9.2 (industrialisation inklusi & berkelanjutan), target 9.3 (akses usaha kecil ke pasar & rantai nilai), dan target 9.4 (upgrade industri agar berkelanjutan dan efisiensi sumber daya) sangat terlihat dalam praktik mereka.
“Melalui pelatihan juga, mahasiswa tidak hanya mempelajari teknik tetapi juga memahami budaya dan sejarah kain Banjar ini menjadi pengalaman yang sangat berharga,” ujar Heni pemilik usaha.
Produk sasirangan memiliki motif burung sebagai maskot Kalimantan Selatan yang dihasilkan hingga 100 unit per hari menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat lokal, inovasi produksi, dan pengembangan kapasitas dapat menarik wisatawan, membuka pasar ekspor, memperkuat pendapatan pengrajin.
Dengan pendekatan pewarna alami, motif kreatif lokal, pelatihan dan pemasaran global, UMKM ini menunjukkan bahwa industri kreatif lokal bukan hanya pelengkap ekonomi tetapi agen perubahan nyata.
UMKM Diyang Kinjut menegaskan bahwa inovasi lokal didukung kolaborasi, pelatihan, akses pasar, dan pelestarian budaya, mampu menggerakkan ekonomi daerah sekaligus mendukung pencapaian SDGs secara konkret. Industri kreatif lokal sebagai penggerak sektor pertumbuhan ekonomi Indonesia. Semangat masyarakat membantu dan mengelola produk menghasilkan hingga 100 kain sasirangan, yang menjadi sumber pendapatan pengrajin dan menarik wisatawan.
Produk dengan motif burung sebagai maskot Kalimantan Selatan, menunjukkan kreativitas lokal yang mampu menembus pasar internasional. Keberhasilan UMKM Diyang Kinjut membuktikan bahwa inovasi lokal dapat mendorong ekonomi inklusif, memberdayakan masyarakat, serta menjembatani tradisi dan industri modern sesuai dengan SDG 9.






















