TASIKMALAYA — Upaya meningkatkan kompetensi, profesionalisme, dan etos kerja pendidik terus dilakukan di Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya. Salah satunya melalui kegiatan Pembinaan Personal Pendidik dan Tenaga Kependidikan (GTK) Se-Kecamatan Pagerageung.
Mengusung tema “Melalui Pembinaan, Kita Tingkatkan Kompetensi dan Etos Kerja”, kegiatan tersebut dilaksanakan secara estafet pada 9, 14, 16, 17, dan 21 September 2026. Kegiatan berlangsung di Aula Sekretariat Pendidikan Kecamatan Pagerageung, mulai pukul 10.00 hingga 12.00 WIB.
Pembinaan tersebut menjadi bagian dari upaya pengembangan profesionalisme GTK secara berkelanjutan. Selain memperkuat kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional, kegiatan juga diarahkan agar pendidik mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas proses dan hasil belajar peserta didik.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sosialisasi dari pengurus baru Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Baznas Unit Pendidikan Kecamatan Pagerageung.
Ketua UPZ Baznas Unit Pendidikan Kecamatan Pagerageung, Ening, menyampaikan bahwa terdapat sekitar 179 mustahik di Kecamatan Pagerageung yang menjadi sasaran perhatian. Mereka berasal dari kelompok yatim/piatu, masyarakat dengan kondisi ekonomi rentan, serta guru honorer.
Menurutnya, keberadaan UPZ di lingkungan pendidikan diharapkan dapat memperkuat kepedulian sosial sekaligus menjadi sarana untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Sosialisasi berikutnya disampaikan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kecamatan Pagerageung. Ketua DWP Kecamatan Pagerageung, Ida Parida, menjelaskan sejumlah program organisasi yang menginduk pada program DWP Kabupaten Tasikmalaya.
Keanggotaan DWP berasal dari para istri ASN serta ASN perempuan. Program yang dijalankan diarahkan antara lain untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas anggota, khususnya dalam bidang pendidikan dan kehidupan sosial kemasyarakatan.
Sementara itu, pengurus KBKSP Kecamatan Pagerageung turut menyampaikan informasi terkait program dana pensiun kepada para pendidik dan tenaga kependidikan.
Guru Harus Memberi Arti
Memasuki sesi utama pembinaan, Pengawas TK/SD Kecamatan Pagerageung, Hj. Eli Solihat, S.Pd., M.Pd., menyampaikan materi mengenai pentingnya refleksi diri bagi guru dan tenaga kependidikan.
Menurut Eli, pembinaan GTK tidak semata-mata berkaitan dengan tugas administratif, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan evaluasi diri, meningkatkan kompetensi, serta memaksimalkan kualitas pelayanan pendidikan.
Dalam materinya, Eli mengajak para guru untuk menjadi sosok pendidik yang “memberi arti” bagi peserta didik.
Ia menggambarkan lima karakter guru berdasarkan perilaku dalam menjalankan tugas, yakni guru wajib, guru sunat, guru mubah, guru makruh, dan guru haram.
Guru wajib digambarkan sebagai sosok yang kehadirannya selalu dirindukan peserta didik, menjalankan tugas dengan ikhlas, serta mampu menjadi teladan dan inspirasi.
Sementara guru sunat digambarkan sebagai guru yang menjalankan tugas sekadarnya dan cenderung berorientasi pada kepentingan pribadi. Guru mubah adalah guru yang keberadaannya dinilai tidak memberikan pengaruh berarti.
Adapun guru makruh digambarkan sebagai guru yang kurang disukai karena menjalankan pembelajaran tanpa persiapan dan memberikan tugas tanpa melakukan evaluasi atau koreksi. Sedangkan guru haram merupakan gambaran paling ekstrem, yakni guru yang kehadirannya justru tidak diharapkan.
Pesan tersebut menjadi refleksi bagi para GTK agar kehadiran mereka benar-benar memberikan makna bagi perkembangan peserta didik.
Penguatan Karakter dan Keteladanan
Materi berikutnya disampaikan Ketua PGRI Kecamatan Pagerageung. Ia memberikan penguatan mengenai pentingnya karakter dan akhlak guru dalam menjalankan profesinya.
Para pendidik diajak untuk senantiasa meneladani akhlak Rasulullah SAW, memperkuat rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT, serta menerima rezeki dengan penuh keikhlasan agar kehidupan dan pengabdian senantiasa mendapatkan keberkahan.
Pembinaan tersebut juga menjadi momentum mempererat silaturahmi sekaligus ruang untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.
Dalam kesempatan tersebut, PGRI juga menyampaikan komitmennya untuk terus memberikan pendampingan dan memperjuangkan aspirasi guru, termasuk mendorong percepatan penyelesaian persoalan tenaga honorer menuju status ASN sesuai ketentuan yang berlaku.
ASN: Attitude, Spirit Solutif, dan Network
Sementara itu, Ketua KBKSP Kecamatan Pagerageung, Dian Sudiana, M.Pd, mengawali materinya dengan nyanyian yang mengajak peserta merefleksikan kembali pentingnya komitmen terhadap tugas dan kewajiban sebagai guru.
Dian kemudian mengajak para ASN di lingkungan pendidikan memaknai status ASN bukan sekadar identitas kepegawaian, tetapi juga sebagai amanah untuk memberikan pelayanan terbaik.
Huruf “A” pada ASN dimaknai sebagai Attitude, yakni sikap dan akhlak. Menurutnya, seorang ASN harus mampu menghargai diri sendiri, atasan, sesama rekan kerja, maupun peserta didik.
Huruf “S” dimaknai sebagai Spirit Solutif, yaitu semangat untuk terus berinovasi mengikuti perkembangan zaman dan membangun kolaborasi. Setiap persoalan pendidikan harus direspons dengan cepat dan dicarikan solusi secara bersama-sama.
Sedangkan huruf “N” dimaknai sebagai Network atau jejaring. Pendidik dan tenaga kependidikan didorong memanfaatkan digitalisasi dalam pendidikan sekaligus membangun jaringan komunikasi yang positif dengan Paguyuban Orang Tua Siswa (POM), orang tua peserta didik, serta lingkungan sekolah.
“Bangun jejaring dengan orang tua siswa dan lingkungan sekolah dengan ramah dan pelayanan prima,” pesan Dian.
Ia mengingatkan bahwa guru dan tenaga kependidikan merupakan bagian dari profesi yang selalu menjadi sorotan publik. Karena itu, sikap, perilaku, pelayanan, dan kualitas kerja akan menjadi bagian dari penilaian masyarakat.
Dari Pembinaan Menuju Perubahan
Di akhir pembinaan, Dian menegaskan bahwa kegiatan tersebut jangan berhenti sebagai kegiatan seremonial. Seluruh materi yang disampaikan diharapkan dapat diterapkan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.
Hasil pembinaan, kata dia, harus tertanam dalam hati dan menjadi bahan introspeksi bagi setiap pendidik dan tenaga kependidikan.
“Jadikan pembinaan ini sebagai bahan introspeksi. Mari kita perbaiki kompetensi pedagogik agar terus berkembang, sehingga pengabdian dan keringat kita memberikan hasil yang berarti,” ujarnya.
Ia juga mengajak para GTK memperkuat kompetensi kepribadian melalui perbaikan akhlak dan penerapan pelayanan prima.
Dalam kompetensi sosial, kebersamaan, sikap saling menghargai dan menghormati perlu terus dibangun, baik di lingkungan kerja maupun di tengah masyarakat.
Sementara kompetensi profesional harus ditingkatkan melalui penguasaan ilmu pengetahuan, pelatihan, pendidikan, serta pembelajaran berkelanjutan.
“Adab di atas ilmu harus menjadi perhatian utama,” pesannya.
Pembinaan GTK se-Kecamatan Pagerageung tersebut diharapkan tidak hanya menjadi forum penyampaian materi, tetapi juga menjadi ruang refleksi bersama untuk memperkuat komitmen pendidik dan tenaga kependidikan dalam memberikan pelayanan pendidikan yang profesional, berkarakter, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
























