Sleman, 23 Agustus 2026 Dalam rangka memperluas akses Pendidikan yang inklusif bagi murid berkebutuhan khusus, SLB-B Wiyata Dharma 1 Sleman Bersama Universitas Negeri Yogyakarta dan Pondok Pesantren Darul Ashom mengadakan pelatihan Sholat dan Wudhu dengan Bahasa isyarat. Acara ini diikuti oleh para guru SLB-B Wiyata Dharma 1 Sleman dan sejumlah Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) dari Program Pendidikan Luar Biasa UNY. Pelatihan di laksanakan SLB-B Wiyata Dharma 1 Sleman pada tanggal 19 Agustus 2026 hari Rabu, guna untuk membekali para pendidik dengan kemampuan mendampingi murid yang memiliki hambatan pendengaran. Kegiatan ini berkontribusi nyata terhadap SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), khususnya target 4,4 yang menekankan penghapusan kesenjangan dan jaminan akses Pendidikan yang setara bagi kelompok disabilitas, dalam hal ini melalui peningkatan kapasitas guru sebagai ujung tombak Pendidikan inklusif. Selain itu, kegiatan ini juga sejalan dengan SDG 10 (Berkurangnya kesenjangan), sebab memastikan bahwa hak menjalankan ibadah dapat difasilitasi secara setara oleh tenaga pendidik yang kompeten dan memahami kebutuhan komunikasi murid hambatan pendengaran.
Rangkaian acara diawali dengan penyampaian materi seputar huruf hijaiyah dan bacaan Al-quran menggunakan Bahasa isyarat dilanjutkan kembali dengan materi tata cara wudhu dan sholat menggunakan Bahasa isyarat, kemudia dilanjutkan dengan sesi praktik yang langsung dibimbing oleh Kiyai Abu Kahfi. Para peserta dilatih mengenali dan memperagakan gerakan isyarat untuk setiap bacaan serta rukun dalam sholat, agar dapat diterapkan secara berkelanjutan saat mendampingi murid hambatan pendengaran belajar dan beribadah disekolah. Mahasiswa turut hadir mengikuti rangkaian perlatihan sebagai bagian dari proses belajar, sekaligus mempersiapkan diri untuk turut mendukung guru dalam pendampingan ibadah murid kedepan nya.
Manfaat pelatihan ini dirasakan terutama oleh para guru, yang kini memiliki bekal keterampilan komunikasi isyarat dalam konteks keagamaan yang sebelumnya jarang tersedia secara formal. Dengan bekal ini, guru dapat mendampingi siswa beribadah dengan lebih percaya diri dan tepat sasaran. Bagi murid, dampaknya akan terlihat pada kualitas pendampingan ibadah yang lebih baik dan konsisten di sekolah. Bagi mahasiswa PK, kegiatan ini menjadi pengalaman belajar berharga mengenai pentingnya kompetensi guru dalam Pendidikan inklusif. Secara kelembagaan, pelatihan ini memperkuat komitmen SLB-B Wiyata Dharma 1 Sleman dalam mencetak tenaga pendidik yang siap menghadirkan layanan Pendidikan yang ramah dan setara bagi penyandang disabilitas.
Harapanya, pelatihan bagi guru semacam ini dapat terus dilaksanakan secara berkala dan diperluas cakupan materinya, tidak terbatas pada praktik Sholat dan Wudhu saja, tetapi juga mencakup aspek keagamaan lain yang relevan bagi murid hambatan pendengaran. Investasi pada kompetensi guru melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi dan Lembaga keagamaan diharapkan menjadi fondasi berkelanjutan bagi Pendidikan inklusif di SLB.




















