Kafe di Kebayoran Baru ini jadi ruang inklusif di mana Teman Tuli berperan sebagai barista dan bahasa isyarat menjadi bahasa utama dalam pelayanan.
Suasana interaksi antara pengunjung dan barista Teman Tuli di meja kasir Sunyi Coffee Barito, dengan fasilitas pendukung poster edukasi Abjad dalam BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia).
Jakarta 17 Oktober 2026 – Pernah membayangkan menikmati kopi di caffe sambil belajar bahasa isyarat ?
Pengalaman berbeda ini bisa ditemukan di Sunyi Coffee yang berlokasi di kawasan Barito, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sebuah kafe yang tidak hanya menyajikan kopi, tetapi juga menjadi ruang belajar komunikasi inklusif bersama Teman Tuli.
Sunyi Coffee beroperasi seperti kafe pada umumnya. Namun yang membedakan, seluruh proses pemesanan dilakukan melalui tulisan, gestur, dan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Di dalam kafe terdapat fasilitas pendukung seperti poster alfabet BISINDO di dinding dan ‘Tembok Harapan’ yang dipenuhi sticky notes warna-warni dari pengunjung. Pengunjung diajak menuliskan pesanannya di kertas atau menunjuk menu, lalu berkomunikasi langsung dengan barista.
Soal harga, menu di Sunyi Coffee Barito cukup ramah di kantong. Untuk minuman seperti Kopi dibanderol mulai Rp30.000 hingga Rp38.000, Non-Kopi Rp35.000 – Rp37.000, serta Teh dan Air Mineral Rp15.000 – Rp32.000. Sementara untuk Camilan berkisar Rp37.000 – Rp50.000 dan Makanan Utama Rp48.000 – Rp56.000.

Pengalaman ini dirasakan langsung oleh pengunjung. Fikri, salah satu pengunjung yang kami temui mengatakan, “Pengalamannya menarik dan baru, bisa belajar bahasa isyarat dan saling memahami satu sama lain.” Ujarnya.
Sunyi Coffee sendiri dikenal sebagai salah satu pelopor social enterprise di Indonesia yang memberdayakan Teman Tuli. Sejak awal didirikan, kafe ini diniatkan bukan sebagai yayasan sosial, melainkan wirausaha sosial yang berkelanjutan. Selain di Barito, Sunyi Coffee juga memiliki cabang di Bekasi. Kehadirannya menjadi contoh nyata bagaimana kesetaraan bisa dihadirkan dalam bentuk sesederhana secangkir kopi.
Penulis : Intan Nurul Fasha





















