Pelataran, Thailand, (29/10/2026) – Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Republik Indonesia, Nugroho Sulistyo Budi, menyoroti pentingnya kesiapan menghadapi transformasi ancaman keamanan digital seiring berkembangnya kecerdasan buatan dalam keynote speech bertajuk “The Silent Threat: Cyber Dominance in the Age of Agentic AI”. Paparan tersebut disampaikan pada 3rd ASEAN-Japan Cybersecurity Community Alliance (AJCCA) Conference yang berlangsung pada 29 Oktober 2026 di Thailand. Melalui penyampaian materi tersebut, Kepala BSSN menggarisbawahi bahwa kemajuan Agentic Artificial Intelligence (Agentic AI) membawa perubahan terhadap dinamika keamanan siber, sehingga diperlukan langkah antisipatif yang terencana, penguatan tata kelola teknologi, serta kerja sama regional untuk menjaga keamanan dan ketahanan ekosistem digital.
AJCCA Conference menjadi wadah pertemuan tahunan bagi berbagai pemangku kepentingan keamanan siber dari negara-negara ASEAN dan Jepang. Forum ini melibatkan perwakilan badan siber dan kementerian yang menangani keamanan siber, asosiasi industri keamanan siber, akademisi, serta praktisi yang berkontribusi dalam pengembangan dan perlindungan ruang digital. Melalui forum tersebut, para peserta memiliki kesempatan untuk membangun dialog, berbagi pengalaman, dan memperluas pemahaman terhadap tantangan keamanan siber yang berkembang seiring perubahan teknologi. Pertemuan ini juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan antarnegara serta mendorong terbentuknya langkah bersama dalam menghadapi ancaman digital yang dapat berdampak lintas wilayah.
Dalam keynote speech-nya, Kepala BSSN membahas perkembangan Agentic AI sebagai teknologi yang menghadirkan potensi pemanfaatan sekaligus tantangan baru bagi sistem keamanan siber. Kemampuan AI untuk menjalankan tugas berdasarkan sasaran tertentu dan mendukung pelaksanaan berbagai proses secara lebih mandiri memberikan peluang untuk meningkatkan efektivitas aktivitas digital. Pemanfaatan teknologi ini juga dapat membantu memperkuat proses analisis dan mendukung upaya perlindungan sistem. Namun, peningkatan kemampuan tersebut perlu diiringi kewaspadaan terhadap kemungkinan munculnya kerentanan, manipulasi, dan penyalahgunaan. Ketika AI semakin terintegrasi dalam lingkungan digital, kebutuhan untuk memahami risiko serta memastikan keandalan sistem menjadi bagian penting dalam membangun strategi keamanan yang sesuai dengan perkembangan teknologi.

Kepala BSSN menjelaskan bahwa AI dapat berperan sebagai Shield, Target, maupun Weapon dalam lanskap keamanan siber. Sebagai Shield, AI dapat digunakan untuk mendukung pertahanan melalui pengenalan pola ancaman, analisis aktivitas digital, serta peningkatan kemampuan mendeteksi potensi serangan. Namun, sistem AI juga dapat menjadi Target apabila model, data, atau komponen pendukungnya menjadi sasaran eksploitasi maupun manipulasi. Pada posisi sebagai Weapon, AI berpotensi dimanfaatkan untuk membantu pelaksanaan aktivitas serangan siber. Perbedaan ketiga peran tersebut menunjukkan bahwa teknologi AI perlu dipahami dari berbagai sisi agar pemanfaatannya dapat diarahkan untuk mendukung pertahanan, sementara potensi kerentanan dan penyalahgunaannya dapat diantisipasi melalui langkah pengamanan yang memadai.
Untuk menghadapi risiko yang menyertai perkembangan tersebut, penguatan tata kelola AI menjadi salah satu kebutuhan mendasar. Tata kelola yang tepat dapat mendukung penerapan teknologi secara bertanggung jawab melalui pengawasan yang memadai dan pengelolaan risiko yang terstruktur. Selain itu, penerapan prinsip Security by Design perlu menjadi bagian dari proses pengembangan sistem, dengan menempatkan aspek keamanan sejak tahap perencanaan dan perancangan. Pendekatan ini memungkinkan kebutuhan perlindungan dipertimbangkan sejak awal, sehingga potensi kelemahan dapat dikenali sebelum sistem digunakan secara luas. Pengelolaan risiko secara proaktif juga diperlukan untuk mengidentifikasi kemungkinan ancaman, memperhitungkan dampak yang dapat ditimbulkan, dan menyiapkan langkah mitigasi yang sesuai dengan karakteristik teknologi yang digunakan.
Dalam lingkup kerja sama internasional, Kepala BSSN menekankan tiga pilar penting untuk memperkuat ketahanan siber regional, yaitu Collaboration, Capacity, dan Connectivity. Pilar Collaboration menekankan perlunya kerja sama yang erat antara negara-negara peserta dan berbagai pemangku kepentingan dalam merespons ancaman keamanan digital. Pilar Capacity berkaitan dengan peningkatan kemampuan sumber daya manusia dan institusi, termasuk penguatan kompetensi yang diperlukan untuk menghadapi perkembangan teknologi dan pola serangan. Sementara itu, Connectivity berfokus pada keterhubungan yang memungkinkan komunikasi, pertukaran informasi, dan koordinasi antarnegara berjalan secara efektif. Ketiga pilar ini menjadi landasan untuk membangun kerja sama yang saling melengkapi dalam memperkuat kesiapan kawasan menghadapi ancaman siber lintas batas.

Penguatan kolaborasi, kapasitas, dan konektivitas memiliki arti penting karena penanganan ancaman siber membutuhkan kesiapan yang melibatkan berbagai pihak. Pertukaran informasi dapat membantu meningkatkan pemahaman terhadap perkembangan ancaman dan mendukung penyusunan respons yang lebih terarah. Peningkatan kapasitas diperlukan agar setiap institusi memiliki kemampuan yang memadai untuk mendeteksi, menganalisis, dan menangani persoalan keamanan digital. Di sisi lain, konektivitas memperkuat hubungan komunikasi yang dibutuhkan dalam koordinasi lintas negara. Apabila ketiga aspek tersebut dikembangkan secara berkesinambungan, negara-negara ASEAN dan Jepang memiliki landasan yang lebih kuat untuk menghadapi perubahan ancaman, termasuk risiko yang muncul seiring meningkatnya pemanfaatan Agentic AI.
Keterlibatan Indonesia dalam 3rd ASEAN-Japan Cybersecurity Community Alliance Conference mencerminkan komitmen BSSN untuk memperkuat kontribusi Indonesia dalam kerja sama keamanan siber regional. Melalui forum ini, Indonesia terus mendorong pengembangan dialog dan koordinasi dengan negara-negara ASEAN serta Jepang dalam menghadapi tantangan keamanan digital. Perkembangan teknologi AI menjadi salah satu isu yang membutuhkan perhatian bersama karena memunculkan peluang baru sekaligus menuntut penguatan sistem perlindungan dan pengelolaan risiko. Partisipasi tersebut juga memperlihatkan pentingnya kemitraan regional dalam mendukung peningkatan kapasitas, memperluas pertukaran pengetahuan, dan membangun kesiapan bersama menghadapi ancaman siber yang terus berubah.
Pesan utama yang disampaikan dalam forum tersebut terangkum dalam pernyataan, “Cyber threats know no borders. Resilience must be built together.” Pernyataan ini menegaskan bahwa ancaman siber dapat melampaui batas negara, sehingga pembangunan ketahanan digital memerlukan komitmen dan upaya kolektif. Perkembangan Agentic AI semakin memperjelas pentingnya mengintegrasikan keamanan ke dalam pengembangan teknologi, memperkuat tata kelola, serta menerapkan pengelolaan risiko secara proaktif. Bersamaan dengan itu, kerja sama melalui pilar Collaboration, Capacity, dan Connectivity menjadi bagian penting dalam membangun respons regional yang lebih kuat. Melalui kemitraan ASEAN–Jepang yang berkelanjutan, Indonesia menegaskan dukungannya terhadap terwujudnya ruang digital yang aman, tepercaya, dan tangguh dalam menghadapi dinamika ancaman siber di era kecerdasan buatan.
















