MENGENAL AROMA NUSANTARA: Staf jenama parfum lokal Merah Poetih melayani pengunjung yang mencoba berbagai varian wewangian di stan pameran Merah Poetih. Jenama lokal ini menghadirkan wewangian bertema “Memori Nusantara” yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya Indonesia.
JAKARTA — Di tengah maraknya produk wewangian lokal yang berkiblat pada tren mancanegara, jenama parfum lokal Merah Poetih mengambil langkah berbeda dengan mengusung konsep “Memori Nusantara”. Langkah ini diambil untuk mengangkat identitas serta kekayaan alam dan budaya Indonesia ke dalam industri parfum tanah air.
Narahubung Merah Poetih, Ara, menyatakan bahwa fokus utama jenama di bawah naungan Nusantara Group ini adalah menyajikan aroma yang erat kaitannya dengan pengalaman indrawi dan keindahan bentang alam nusantara.
“Di tengah kompetisi produk lokal yang mayoritas terinspirasi dari kultur luar negeri, Merah Poetih ingin dikenal sebagai produk yang benar-benar identik dengan Indonesia. Kami mengemas keindahan serta memori tanah air ke dalam wewangian,” ujar Ara dalam wawancara secara daring, Rabu (21/10/2026).
Ara menjelaskan, narasi kebangsaan tersebut diterjemahkan secara langsung ke dalam formulasi produk. Sejumlah varian utama Merah Poetih diracik dari inspirasi lokasi ikonis di Indonesia, seperti varian Hutan Hujan yang mengambil suasana Hutan Sangkima di Kalimantan, Lembayung Sutra yang menangkap magisnya matahari terbit di Gunung Bromo, serta Rayuan Pulau Kelapa yang terinspirasi dari keindahan laut Raja Ampat.
Selain seri bernuansa alam tropis, Merah Poetih juga merilis varian Tjoklat dengan konsentrasi Extrait de Parfum yang mengangkat komoditas cokelat lokal, varian teranyar Benang Merah, serta paket discovery set bertajuk Jendela Nusantara.
Menurut Ara, inovasi ini sejalan dengan visi jangka panjang jenama untuk menjadikan parfum buatan dalam negeri sebagai pilihan utama masyarakat, sekaligus sarana mengenalkan keanekaragaman nusantara ke kancah global.
“Kami menargetkan Merah Poetih tidak hanya menjadi pilihan wewangian sehari-hari di tingkat nasional, tetapi juga bisa menjangkau pasar internasional sebagai representasi identitas Indonesia,” tutur Ara.
























