Yogyakarta (MAN 1 Yogya) — MAN 1 Yogyakarta mulai mematangkan program Mansa English Corner sebagai upaya membangun budaya berbahasa Inggris yang lebih dekat dengan aktivitas sehari-hari di lingkungan madrasah. Para guru Bahasa Inggris bersama Kanit Kelas Internasional MAN 1 Yogyakarta, Dra. Endang Sri Utami KWPA, M.Pd., membahas perencanaan program tersebut dalam rapat di area ruang tamu Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) MAN 1 Yogyakarta pada Selasa (13/10/2026).
Rapat berfokus pada penyusunan roadmap program, perencanaan kegiatan, pemilihan materi sesuai kebutuhan peserta, serta berbagai persiapan teknis untuk mendukung pelaksanaannya. Perencanaan ini menjadi langkah awal agar Mansa English Corner memiliki arah yang jelas, kegiatan yang terukur, dan manfaat yang dapat dirasakan oleh seluruh warga madrasah.
Endang menjelaskan, program tersebut dirancang dengan pendekatan yang menyesuaikan kebutuhan komunikasi di lingkungan kerja. Sasaran Mansa English Corner tidak terbatas pada guru, tetapi mencakup tenaga kependidikan, petugas keamanan (security), hingga petugas kebersihan (cleaning service).
“Kami ingin menyusun roadmap Mansa English Corner yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan warga madrasah. Karena pesertanya beragam, materi dan kegiatannya juga perlu dirancang agar relevan dengan keseharian mereka. Harapannya, semua bisa belajar dan mulai menggunakan bahasa Inggris secara bertahap, sesuai peran dan kebutuhan masing-masing,” ujar Endang.
Melalui program ini, pembelajaran bahasa Inggris diharapkan tidak hanya berlangsung di ruang kelas atau menjadi bagian dari kegiatan akademik, tetapi juga hadir dalam interaksi sehari-hari. Kemampuan menyapa, memberikan informasi, menyambut tamu, hingga merespons pertanyaan sederhana dalam bahasa Inggris dapat menjadi bagian dari praktik yang dikembangkan.
Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., menyambut baik inisiatif tersebut. Menurutnya, penguatan kemampuan bahasa Inggris perlu dibangun melalui kesempatan praktik yang nyata dan melibatkan berbagai unsur di madrasah.
“Belajar bahasa itu akan lebih terasa manfaatnya kalau langsung digunakan. Karena itu, saya berharap Mansa English Corner tidak berhenti sebagai program atau kegiatan sesaat, tetapi bisa menjadi kebiasaan baru di lingkungan madrasah. Tidak harus langsung lancar, yang penting berani mencoba, terus berlatih, dan saling mendukung,” ungkap Edi.
Ia juga menekankan pentingnya merancang program yang inklusif. Setiap peserta memiliki tugas, pengalaman, dan kebutuhan komunikasi yang berbeda sehingga materi perlu dibuat praktis dan mudah diterapkan.
“Jangan sampai program bahasa Inggris hanya dirasakan oleh mereka yang memang sudah terbiasa menggunakannya. Guru, tenaga kependidikan, petugas keamanan, dan petugas kebersihan juga perlu mendapat kesempatan yang sama untuk belajar. Kita mulai dari hal sederhana yang mereka butuhkan dalam pekerjaan sehari-hari, lalu dikembangkan secara bertahap,” tambahnya.
Menurut Edi, inovasi pendidikan tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang rumit. Program yang sederhana, konsisten, dan menjawab kebutuhan nyata justru berpeluang memberikan dampak lebih luas apabila dilaksanakan bersama-sama.
Pembahasan roadmap menjadi bagian penting untuk memastikan Mansa English Corner berjalan secara terarah, mulai dari penentuan materi, bentuk kegiatan, hingga persiapan pelaksanaan. Dengan perencanaan tersebut, program ini diharapkan dapat memperkuat keterampilan komunikasi sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri warga madrasah dalam menggunakan bahasa Inggris.
Melalui Mansa English Corner, MAN 1 Yogyakarta berupaya membangun lingkungan belajar yang terbuka terhadap pengembangan kompetensi dan kebiasaan baru. Bahasa Inggris diharapkan tidak lagi dipandang semata-mata sebagai mata pelajaran, tetapi juga sebagai keterampilan praktis yang dapat digunakan oleh seluruh warga madrasah dalam memberikan layanan dan berinteraksi di lingkungan yang semakin terbuka. (dee)



















