Contact Us
Login
Logout
Pelataran
Leaderboard Satu Rumah
  • Berita Utama
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Nasional
  • Properti
  • SBTV
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Teknologi
    • Otomotif
    • English
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Pariwisata
    • Pendidikan
    • Product Review
    • Sorot
    • Sport
    • Event
    • Opini
    • Profil
  • Kirim Tulisan
    • Login
    • Akun Saya
    • Tulisan Saya
    • Logout
Pelataran
  • Berita Utama
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Nasional
  • Properti
  • SBTV
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Teknologi
    • Otomotif
    • English
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Pariwisata
    • Pendidikan
    • Product Review
    • Sorot
    • Sport
    • Event
    • Opini
    • Profil
  • Kirim Tulisan
    • Login
    • Akun Saya
    • Tulisan Saya
    • Logout
No Result
View All Result
Pelataran
No Result
View All Result
Home Opini

Kalau Mendukung, Mengapa Harus Demo?

Dinda Fatimah Zahra by Dinda Fatimah Zahra
29 August 2026
in Opini
A A
0
13441 ilustrasi demo di dpr
853
SHARES
1.2k
VIEWS

Saya sempat membawa satu pertanyaan sederhanla dari depan Gedung DPR/MPR RI, Kamis, 27 Agustus 2026: kalau mendukung, mengapa harus demo?

Pertanyaan itu tidak muncul dari berita. Ia muncul setelah saya melihat sendiri sekelompok orang membawa bendera Prabowo dan Gerindra, memasang spanduk besar, menggunakan pengeras suara, serta menjadikan mobil bak terbuka sebagai panggung. Mereka berada di kawasan yang berdekatan dengan massa yang sejak siang menuntut pengesahan RUU Perampasan Aset. Pemandangan itu membuat saya berhenti, mendekat, mengamati, lalu bertanya.

Tetapi sebelum sampai pada kelompok itu, saya sudah lebih dulu melihat bagaimana sebuah demonstrasi berubah dari waktu ke waktu.

Sekitar pukul 10.00 WIB, saya berada di kawasan DPR. Massa belum sepenuhnya padat. Mereka datang bertahap dari beberapa arah. Dari sisi jalan layang, saya sempat berada di bawah, kemudian naik ke atas untuk mengabadikan sekaligus memantau situasi. Dari ketinggian, kerumunan terlihat perlahan memenuhi ruang. Mahasiswa bergerak menuju kawasan depan DPR, sementara polisi membuat penyekatan.

Saya turun kembali ketika massa semakin ramai.

Ruang bergerak semakin sempit. Beberapa kali ambulans melintas dan membuka celah di tengah kerumunan. Sekitar pukul 11.40 WIB, ambulans kembali lewat. Celah yang terbuka membuat massa dari dua arah bergerak dan bertemu di depan DPR. Saya ikut masuk bersama arus massa.

Di dalam, pemandangannya sudah berbeda.

Bendera Merah Putih berkibar. Banner terbentang di atas pagar. Beberapa orang berdiri di pagar DPR. Ada yang berorasi, ada yang menyanyi dengan iringan gitar, ada pula yang sekadar berdiri memperhatikan. Massa terus berdatangan. Ban sudah dibakar. Botol-botol mulai dilempar.

Di antara kerumunan itu saya melihat wajah demonstrasi yang beragam. Ada mahasiswa yang datang membawa almamater atau identitas organisasi. Ada warga Jakarta. Ada pelajar. Ada organisasi masyarakat. Ada pula orang-orang yang datang sendiri. Tidak semuanya membawa pesan yang sama, tetapi mereka bertemu di tempat yang sama.

Tuntutan yang paling jelas terdengar adalah desakan agar RUU Perampasan Aset segera disahkan dan koruptor dihukum berat. AMPB memang membawa dua tuntutan tersebut dalam aksi hari itu.

Kemudian situasi berubah.

Sekitar siang, massa beberapa kali tiba-tiba mundur. Salah satunya dipicu kabar tentang pencopet. Saya melihat sendiri seseorang yang dituduh sebagai pelaku dikerumuni. Tubuhnya setengah telanjang dan bagian tubuhnya diinjak. Saya bergeser mencari tempat yang lebih aman ketika massa kembali bergerak. Di depan saya, orang lain yang juga dituduh sebagai pelaku mendapat perlakuan serupa.

Saya tidak tahu apakah mereka benar-benar pencopet.

Saya hanya tahu apa yang saya lihat: sebuah tuduhan dapat membuat kerumunan bergerak dalam hitungan detik.

Setelah itu keadaan kembali relatif kondusif. Sore hari, massa kembali bergerak dan berlari. Beredar kabar bahwa seseorang yang diduga merusak pagar terjatuh dan mengalami kejang. Saya sempat mengira gas air mata digunakan. Menjelang magrib, hujan gerimis turun. Sebagian massa pulang. Sebagian lainnya datang.

Malam kembali mengubah suasana. Ban dan sepeda motor dibakar. Aksi meluas ke jalan. Kemacetan terjadi. Transportasi berhenti beroperasi di sejumlah titik. Sinyal telepon pun timbul-tenggelam.

Namun, dari seluruh perubahan suasana itu, justru ada satu pemandangan yang paling lama tinggal di kepala saya.

Bendera Prabowo.

Sore itu saya berjalan dan melihat sebuah kelompok dengan atribut yang jauh lebih lengkap. Spanduk besar terbentang. Pengeras suara digunakan. Mobil bak terbuka menjadi panggung. Bendera Prabowo berkibar bersama bendera Gerindra.

Saya menghampiri mereka.

Saya mengamati beberapa saat. Lalu bertanya.

Kalau mendukung, mengapa harus demo?

Bagi saya saat itu, pertanyaannya masuk akal. Saya terbiasa memahami demonstrasi sebagai cara warga menyatakan keberatan. Ketika orang turun ke jalan, biasanya ada sesuatu yang ingin ditolak, ditagih, atau diubah.

Karena itu, melihat orang berdemo untuk menunjukkan dukungan terasa ganjil. Terlebih lagi fokus pembahasannya berbeda.

Dan kalau memang mendukung, bukankah cukup dengan menjalankan program pemerintah? Bukankah dukungan tidak harus diteriakkan melalui pengeras suara di jalan?

Ternyata saya yang terlalu cepat menyimpulkan.

Kelompok pendukung Presiden Prabowo memang tercatat sebagai salah satu kelompok yang menggelar aksi di kawasan DPR pada hari itu. RMP4, yang datang dari Bangkalan, Madura, membawa agenda mendukung program prioritas pemerintahan Prabowo, terutama Makan Bergizi Gratis. Menariknya, dukungan tersebut tidak berarti menutup mata terhadap persoalan. Mereka juga berbicara tentang evaluasi dan perbaikan pelaksanaan program.

Di situ saya mulai melihat demonstrasi dengan cara berbeda.

Turun ke jalan ternyata tidak selalu berarti mengatakan tidak.

Ada orang yang turun ke jalan untuk mengatakan ya. Ada yang datang untuk menagih. Ada yang datang untuk mendukung. Ada yang datang karena kecewa. Ada pula yang datang karena masih percaya. Dan semuanya dapat menggunakan ruang publik yang sama.

Mungkin persoalannya bukan pada mengapa mereka berdemo.

Mungkin persoalannya ada pada cara kita memahami dukungan.

Kita sering menganggap mendukung berarti menerima. Mengkritik berarti menolak. Memilih pemerintah berarti harus percaya kepada seluruh kebijakannya. Menyampaikan kritik kemudian dianggap sebagai tanda telah berpindah kubu.

Padahal, mengapa harus begitu?

Bukankah seseorang bisa memilih presiden sekaligus meminta pemerintah memperbaiki programnya? Bukankah warga yang mendukung pemerintah tetap berhak mengawasi? Bukankah orang yang mengkritik satu kebijakan tidak otomatis menolak seluruh pemerintahan?

Saya kira, politik warga memang tidak sesederhana atribut yang mereka kenakan.

Bendera Prabowo tidak otomatis menjelaskan seluruh isi kepala orang yang membawanya.

Almamater tidak otomatis menjelaskan seluruh alasan mahasiswa turun ke jalan.

Spanduk tidak otomatis menjelaskan seluruh keresahan orang yang berdiri di belakangnya.

Begitu pula kerumunan tidak pernah benar-benar memiliki satu suara.

Itulah sebabnya saya tidak ingin menyebut pemandangan hari itu sebagai dua kubu yang sedang berhadap-hadapan.

Mereka berada di kawasan yang sama. Bahkan dalam satu rangkaian ruang yang sama. Namun, pesan yang dibawa berbeda.

Satu kelompok menuntut DPR segera menyelesaikan RUU Perampasan Aset. Kelompok lain datang menunjukkan dukungan kepada program pemerintah. Dan di antara keduanya ada begitu banyak orang dengan alasan yang tidak bisa dimasukkan begitu saja ke dalam kategori “pro” atau “kontra”.

Bahkan kelompok yang menuntut RUU Perampasan Aset pun tidak otomatis sedang menolak Presiden Prabowo. AMPB menegaskan aksi mereka berfokus pada pemberantasan korupsi dan tidak membawa agenda untuk melengserkan Prabowo-Gibran.

Ini penting.

Sebab ketika kritik selalu diterjemahkan sebagai permusuhan, ruang demokrasi menjadi terlalu sempit.

Orang akhirnya dipaksa memilih: mendukung atau mengkritik.

Padahal warga negara tidak pernah hanya memiliki satu sikap terhadap kekuasaan.

Kita bisa mendukung sebuah program karena menganggapnya baik, lalu meminta pelaksanaannya diperbaiki ketika menemukan masalah. Kita bisa memilih seorang pemimpin karena percaya kepadanya, tetapi tetap meminta lembaga negara bekerja. Kita bisa berharap kepada pemerintah tanpa memberikan kekuasaan hak untuk terbebas dari pengawasan.

Dukungan bukan cek kosong.

Baca Juga

956d7385 5610 4947 8cf4 04ef061790c7

Titik Impas, Titik Terang: Memanfaatkan Analisis Cost-Volume-Profit untuk Menentukan Kapan Bisnis Mulai Untung

13 October 2026
Strategi Efisiensi Laporan Keuangan di Era Digital untuk UMKM 960x675 1

Mengendalikan Biaya Usaha Era Digital Melalui Peran Akuntansi Manajemen Bagi UMKM

13 October 2026
Gemini Generated Image 43rada43rada43ra 1

Jangan Buka Usaha Sebelum Hitung: Proyeksi Anggaran dan Laba dalam Studi Kelayakan Bisnis

13 October 2026
054b21ab813a29ea9cef5eee7f5d40c5

Tipe Tipe Nasabah Bank Syariah

12 October 2026

Dan kritik bukan selalu penolakan.

Tuntutan mengenai RUU Perampasan Aset memperlihatkan persoalan itu dengan jelas.

Pada hari aksi, tuntutan agar RUU tersebut segera disahkan terdengar dari jalan. Beberapa jam kemudian, DPR menyatakan target penyelesaian dan pengesahan paling lambat 15 Desember 2026. Pimpinan DPR bahkan menyatakan siap meletakkan jabatan jika target tersebut tidak tercapai.

Pernyataan itu tentu penting.

Tetapi bagi publik, pekerjaan tidak selesai ketika sebuah tanggal diumumkan.

Justru setelah itu pengawasan menjadi lebih penting.

Publik perlu melihat bagaimana pembahasannya berjalan. Apa isi pasalnya. Kepentingan siapa yang masuk. Bagaimana mekanisme perampasan aset diatur. Dan yang tidak kalah penting, apakah aturan tersebut benar-benar memperkuat pemberantasan korupsi atau sekadar menjadi janji legislasi yang terdengar keras di tengah demonstrasi.

Sebab orang-orang yang berdiri di depan DPR hari itu tidak hanya sedang menunggu sebuah undang-undang disahkan.

Mereka sedang menunggu bukti bahwa suara warga memiliki konsekuensi di dalam ruang kekuasaan.

Saya teringat lagi pada pagi hari ketika saya masih berdiri di atas jalan layang.

Dari sana, massa terlihat seperti satu kerumunan besar.

Tetapi setelah saya turun dan berada di tengahnya, saya melihat bahwa kerumunan itu tidak pernah benar-benar satu.

Ada yang bernyanyi. Ada yang berteriak. Ada yang membawa tuntutan. Ada yang membawa bendera. Ada yang datang karena organisasi. Ada yang datang karena keyakinannya sendiri.Ada yang ingin negara berubah. Ada pula yang ingin pemerintah tetap berjalan.

Mungkin kita memang terlalu terbiasa melihat politik dari kejauhan. Dari layar. Dari potongan video. Dari satu foto. Dari satu atribut.

Padahal, ketika berdiri di tengahnya, batas-batas itu menjadi jauh lebih rumit.

Dan mungkin justru kerumitan itu yang perlu kita pertahankan.

Sebab demokrasi bukan hanya hak untuk berkata tidak.

Ia juga hak untuk berkata ya.

Keduanya boleh hadir di jalan yang sama. Keduanya boleh berdiri di depan gedung yang sama.

Dan keduanya tetap harus berhadapan dengan pertanyaan yang sama: setelah suara kami sampai, apa yang negara lakukan?

Saya datang ke depan DPR dengan niat mengamati demonstrasi.

Saya pulang membawa pertanyaan yang berbeda.

Bukan lagi, “Siapa yang pro dan siapa yang kontra?”

Melainkan, mengapa kita begitu sulit percaya bahwa seseorang bisa mendukung sekaligus mengawasi?

Mungkin karena kita terlalu menyukai politik yang sederhana.

Padahal manusia tidak sesederhana itu.

Di jalan yang sama, hari itu saya melihat orang-orang dengan keyakinan yang berbeda.

Ada yang menagih. Ada yang mendukung. Ada yang mengkritik. Ada yang percaya.

Mereka tidak harus menjadi satu suara.

Tetapi negara tetap punya satu pekerjaan: mendengarkan semuanya.

    Tags: demoKalau MendukungMengapa Harus DemoPrabowoRUU Perampasan Aset
    Share341Tweet213Share60Pin77SendShare
    Leaderboard Puteri Anak dan Puteri Remaja Banten 2027
    Previous Post

    Gerai Penerbitan PAS Sungai dan Danau di Waduk Cacaban, 17 PAS Diterbitkan

    Next Post

    Semarak Kemerdekaan PT Tamanesia Raya Abadi 2026 Perkuat Kebersamaan Karyawan dan Peserta PKL

    Dinda Fatimah Zahra

    Dinda Fatimah Zahra

    Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan atau pemilik nama pena Faqod Faaz percaya bahwa setiap manusia menyimpan cerita yang layak didengar. Mahasiswa Sosiologi Unusia ini menulis tentang perempuan, keluarga, pendidikan, dan berbagai wajah kehidupan sosial yang sering luput diperhatikan. Aktif sebagai redaktur Katasulsel.com dan kontributor NU Online serta sejumlah media digital. Jejaknya dapat ditelusuri melalui Instagram @difaatimah_13 dan @faq_odfaaz.

    Related Posts

    956d7385 5610 4947 8cf4 04ef061790c7

    Titik Impas, Titik Terang: Memanfaatkan Analisis Cost-Volume-Profit untuk Menentukan Kapan Bisnis Mulai Untung

    13 October 2026
    Strategi Efisiensi Laporan Keuangan di Era Digital untuk UMKM 960x675 1

    Mengendalikan Biaya Usaha Era Digital Melalui Peran Akuntansi Manajemen Bagi UMKM

    13 October 2026
    Gemini Generated Image 43rada43rada43ra 1

    Jangan Buka Usaha Sebelum Hitung: Proyeksi Anggaran dan Laba dalam Studi Kelayakan Bisnis

    13 October 2026
    054b21ab813a29ea9cef5eee7f5d40c5

    Tipe Tipe Nasabah Bank Syariah

    12 October 2026
    Next Post
    Estafet Sarung Kelompok

    Semarak Kemerdekaan PT Tamanesia Raya Abadi 2026 Perkuat Kebersamaan Karyawan dan Peserta PKL

    Digital marketing yang berfokus pada memahami manusia, audience persona, dan customer journey — Ahmad Madani

    Brand Perlu Memiliki Karakter dan Mengenal Audiensnya

    WhatsApp Image 2026 08 29 at 08.58.22

    Wujudkan SDG 4 Melalui Transformasi Digital Pembelajaran IPS di MTsN 1 Bantul

    WhatsApp Image 2026 08 29 at 08.33.19

    Melalui Seni Musik, Lapas Bandanaira Kembangkan Bakat dan Minat Warga Binaan

    Lapas Bengkulu, Lembaga Pemasyarakatan, Pemasyarakatan, Ditjenpas, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, pengelolaan sampah, pemilahan sampah

    Bangun Kebiasaan Hidup Bersih, Lapas Bengkulu Sediakan Tempat Sampah Terpilah

    Please login to join discussion
    Square Media Wanita

    Berita Utama

    Demo 27 Agustus: Polda Metro Jaya Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Sekitar Gedung DPR
    Berita Utama

    Demo 27 Agustus: Polda Metro Jaya Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Sekitar Gedung DPR

    by Redaksi
    27 August 2026
    0

    Demo 27 Agustus: Polda Metro Jaya Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Sekitar Gedung DPR Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menyiapkan...

    Read moreDetails
    IMG 20260813 WA0042

    Pilar Saga Ultimatum Provider: Jangan Lagi Pasang Kabel Fiber Optik di Atas Jalan

    14 August 2026
    Banjir di Suwawa Selatan. (foto BPBD PROV. Gorontalo)

    BPBD Imbau Warga Gorontalo Waspadai Hujan Lebat

    12 June 2026
    Presiden Prabowo Didampingi Menteri Trenggono Tinjau KNMP Leato Selatan

    Presiden Prabowo Didampingi Menteri Trenggono Tinjau KNMP Leato Selatan

    15 May 2026
    Kampung Literasi Pekijing Kota Serang Bangun Budaya Literasi dari Halaman Rumah

    Kampung Literasi Pekijing Kota Serang Bangun Budaya Literasi dari Halaman Rumah

    15 May 2026
    Rumah Prabu Half Page

    Berita Terkait

    956d7385 5610 4947 8cf4 04ef061790c7

    Titik Impas, Titik Terang: Memanfaatkan Analisis Cost-Volume-Profit untuk Menentukan Kapan Bisnis Mulai Untung

    13 October 2026
    WhatsApp Image 2026 10 12 at 14.23.02

    Kantor Pertanahan Kabupaten Way Kanan Sosialisasikan Reforma Agraria dan Pendaftaran Hak Tanah di Kampung Umpu Bhakti

    13 October 2026
    WhatsApp Image 2026 10 13 at 10.18.39

    Dukung Ketahanan Pangan, Rutan Bengkulu Kembangkan Peternakan Bebek sebagai Sarana Pembinaan Kemandirian WBP

    13 October 2026
    WhatsApp Image 2026 10 13 at 10.18.07

    Tingkatkan Kompetensi Pengadaan, Lapas Arga Makmur Ikuti Diseminasi Peraturan LKPP Nomor 2 Tahun 2026

    13 October 2026
    WhatsApp Image 2026 10 13 at 10.18.21

    Lapas Arga Makmur Ikuti Rekonsiliasi Laporan Keuangan dan BMN Triwulan III

    13 October 2026
    WhatsApp Image 2026 10 13 at 10.13.15

    Dukung Ketahanan Pangan, Rutan Bengkulu Kembangkan Budidaya Ikan Nila sebagai Program Produktif WBP

    13 October 2026
    Pelataran

    Pelataran.com adalah portal media berita online yang terbuka untuk umum dan menerima kontribusi tulisan dari berbagai penulis. Tulisan yang dimuat dapat berupa berita, press release, opini, maupun bentuk tulisan lainnya.

    Segala konten yang dipublikasikan di Pelataran.com merupakan tanggung jawab penuh dari masing-masing penulis. Hak cipta atas isi tulisan, gambar, maupun video yang ditayangkan di situs ini sepenuhnya menjadi milik penulis atau pengunggah konten.

    Follow Us

    Pelataran.com

    Jika Anda merasa keberatan dengan adanya tulisan, gambar, atau video yang ditampilkan di situs ini karena alasan hak cipta atau alasan lainnya, silakan hubungi tim redaksi melalui email di:

    📧 redaksi@pelataran.com

    Kami akan segera meninjau dan menghapus konten yang dimaksud sesuai dengan kebijakan dan pertimbangan redaksi.

    Penting!

    Tulisan yang tidak disertai dengan foto atau gambar atau ilustrasi tidak akan dipublikasikan dan akan langsung dihapus oleh Redaksi. Gambar harus ada hubungannya dengan tulisan ya dan bukan foto selfie penulis

    Pemberitahuan!

    Pelataran.com adalah portal berita komunitas yang berpusat di Jakarta dan tidak memiliki kantor perwakilan dimanapun. Tulisan atau berita yang ada merupakan kontribusi penulis lepas dari seluruh Indonesia bahkan dari seluruh dunia. Hati-Hati dengan oknum yang meng-atas-nama-kan Pelataran.com dengan mengaku sebagai wartawan, karena kami tidak memiliki wartawan dan tidak mengeluarkan kartu pengenal wartawan atau Kartu Pers atau Press ID Card.

    Gunakan Gambar AI atau 100% Gratis

    Untuk menghindari klaim hak cipta maka setiap gambar wajib merupakan gambar 100% gratis atau buatan AI. Cantumkan link sumber gambar di akhir tulisan kamu ya, tanpa ini tulisan kamu tidak akan kami terbitkan!

    Iklan Banner Ucapan Selamat

    Pasang Iklan Banner Ucapan Selamat, Kenaikan Pangkat, Pelantikan dan Lain-Lain

    Iklan Guest Post
    • Privacy Policy
    • Panduan Komunitas Pelataran
    • Syarat dan Ketentuan Pelataran
    • Disclaimer
    • Mengapa Tulisan Belum Ditayangkan?
    • Contact Us

    © 2023 Pelataran - Pres Rilis dan Berita

    No Result
    View All Result
    • Berita Utama
    • Ekonomi & Bisnis
    • Internasional
    • Nasional
    • Properti
    • SBTV
    • Lainnya
      • Gaya Hidup
      • Teknologi
      • Otomotif
      • English
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Pariwisata
      • Pendidikan
      • Product Review
      • Sorot
      • Sport
      • Event
      • Opini
      • Profil
    • Kirim Tulisan
      • Login
      • Akun Saya
      • Tulisan Saya
      • Logout
    • Login

    © 2023 Pelataran - Pres Rilis dan Berita