SUKOHARJO – Sebuah potret kebersamaan yang mengharukan tersaji di kawasan ekowisata Taman Banyu Gemblinding, pada hari Ahad, 27 September 2026. Sebanyak 50 warga dari kelompok marjinal yang terdiri dari penyandang disabilitas, anak jalanan, hingga keluarga prasejahtera berkumpul dalam kehangatan program “Bina Cahaya Abinaya: Pendampingan Spiritual Berkelanjutan dan Edutainment Inklusif bagi Kelompok Marjinal Sukoharjo”. Program inisiatif Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia yang didukung secara penuh oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Republik Indonesia ini berlangsung sukses dan khidmat mulai pukul 07.00 hingga 15.00 WIB.
Acara pembinaan yang dikemas dengan nuansa alam ini dibuka secara resmi oleh perwakilan Divisi Dakwah, Mualaf, dan Sabilillah BAZNAS RI, M. Reno Fathur Rahman, S.E., M.M. Dalam petikan sambutannya, Reno menyoroti betapa krusialnya program-program berbasis inklusi sosial sebagai kepanjangan tangan dari dana umat.
“Kami mewakili jajaran BAZNAS RI memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia atas eksekusi program yang sangat menyentuh ini. Perlu kita ingat dan syukuri bersama bahwa kegiatan luar biasa ini dapat terwujud berkat amanah dana zakat dari para muzakki. BAZNAS sangat berharap, inisiatif dakwah yang turun langsung memeluk akar rumput seperti ini menjadi wujud nyata perpanjangan dakwah yang transformatif. Tidak hanya memberikan bimbingan spiritual, tetapi juga membangun kemandirian serta mengembalikan harga diri saudara-saudara kita yang kerap terlupakan,” tegas Reno Fathur Rahman.
Bagi Ketua Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia, Fadhel Moubharok Ibni Faisal, perhelatan ini adalah janji pemberdayaan yang ditunaikan. Ia menegaskan bahwa pembinaan bagi kelompok marjinal pantang berhenti hanya pada momentum seremonial bulan suci Ramadan semata.
“Pasca-Ramadan, teman-teman disabilitas dan adik-adik jalanan ini kembali menghadapi kerasnya realitas kehidupan dan stigma sosial yang tak jarang menyudutkan mereka. Melalui ‘Bina Cahaya Abinaya’, kami berkomitmen untuk menciptakan ruang aman (safe space) yang berkesinambungan. Dakwah yang sesungguhnya adalah dakwah yang menemani proses hijrah mereka secara konsisten, memastikan mereka merasa setara, dihargai karyanya, dan tidak pernah merasa berjuang sendirian,” papar Fadhel.
Dampak emosional dari tersedianya ruang aman ini dirasakan betul oleh para peserta maupun pendamping, sebagaimana diungkapkan oleh Ketua Sanggar Inklusi Permata Hati, Listri Sedyaningsih. Ia menilai pendekatan yang digunakan pada acara ini sangat relevan dengan kebutuhan psikologis penyandang disabilitas.
“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas ruang penerimaan yang luar biasa ini. Terkadang, anak-anak disabilitas merasa inferior, takut, atau cemas untuk sekadar berbaur di tengah masyarakat umum. Namun, melalui program yang ramah dan penuh kesabaran hari ini, mereka merasa dirangkul seutuhnya. Mereka diakui potensinya, dan itu adalah sebuah kemajuan besar untuk meruntuhkan sekat-sekat diskriminasi di Kabupaten Sukoharjo,” ujar Listri dengan nada haru.
Guna menghindari kejenuhan yang kerap muncul pada format kajian konvensional, seluruh rangkaian materi disajikan lewat metode edutainment. Antusiasme peserta memuncak saat memasuki sesi lokakarya seni Eco Art yang dikawal langsung oleh Founder DaurAyu.id, Anisa Eka Lailatur Rohmah. Di bawah arahannya, barang-barang bekas didaur ulang menjadi karya seni yang tidak hanya melatih fungsi motorik, tetapi juga menjadi sarana relaksasi mental bagi peserta.
Keseruan semakin berlanjut pada sesi dinamika kelompok bertajuk “Arus Setara” yang dipandu oleh tim fasilitator Taman Banyu Gemblinding. Sesi permainan dan kerja sama di alam terbuka ini sukses meleburkan segala perbedaan, membangun kekompakan kolaboratif, serta menumbuhkan rasa saling percaya di antara sesama peserta dan relawan.

Menjelang penutupan, suasana berubah menjadi lebih kontemplatif dan mendalam ketika Ustadzah Ganing Widarwati mengambil alih panggung. Menyampaikan materi inti tentang “Harapan dan Komitmen Perubahan”, Ustadzah Ganing dengan lembut mengajak seluruh peserta untuk berdamai dengan kekurangan, memaafkan masa lalu, dan berani merajut asa di masa depan.
Momen puncak acara ditandai dengan aksi simbolis yang sangat emosional. Dipandu oleh para relawan Kakak Asuh, setiap peserta dibagikan secarik kertas sticky notes dan spidol untuk menuliskan satu doa, harapan, atau tekad perbaikan diri mereka. Kertas-kertas penuh makna tersebut kemudian ditempelkan secara bergantian oleh para peserta hingga memenuhi ranting-ranting pada spanduk MMT raksasa bergambar “Pohon Harapan dan Komitmen Perubahan”.
Pohon yang tadinya tampak gersang tanpa daun itu, seketika rimbun oleh doa-doa dan tekad suci dari 50 jiwa yang tengah berjuang mencari cahaya. Keberhasilan pelaksanaan program “Bina Cahaya Abinaya” ini menjadi pembuktian nyata bahwa sinergi dana zakat, metode dakwah yang kreatif, dan ketulusan para pegiat sosial mampu melahirkan sebuah ekosistem kebaikan yang menyelamatkan harapan.




















