PASIREURIH — Di tengah masih tingginya timbulan sampah rumah tangga secara nasional, sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) menginisiasi program “Sampah Bernilai” dan “Desa Cerdas Digital” di Desa Pasireurih. Program ini mengajak warga mengelola sampah organik dan plastik rumah tangga menjadi produk bernilai guna, alih-alih dibuang begitu saja tanpa pengolahan, serta memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk mendapatkan tanda tangan atau stempel ketua RW pada surat pengantar.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, timbulan sampah nasional pada 2024 mencapai 33,79 juta ton, dengan sampah rumah tangga menyumbang lebih dari separuh total timbulan tersebut. Persoalan itu turut dirasakan di Desa Pasireurih, di mana kebiasaan memilah sampah sejak dari sumbernya masih rendah sehingga sampah organik dan anorganik kerap dibuang secara tercampur. Di sisi lain, pelayanan administrasi di tingkat RW juga masih banyak dilakukan secara manual, termasuk pada
proses pengajuan dokumen yang memerlukan persetujuan atau tanda tangan Ketua RW, sehingga proses penyelesaian administrasi sering kali memerlukan waktu lebih lama dan kurang efisien.
“Saat melihat kondisi di Desa Pasireurih, kami menyadari bahwa sampah yang berserakan akhirnya hanya terkumpul di bank sampah besar Kabupaten Bogor tanpa memiliki nilai tambah. Dari situ, kami bersama tim berinisiatif menjalankan program kompos biopori dan mengolah sampah plastik menjadi ecobrick. Ecobrick yang dihasilkan kemudian kami manfaatkan sebagai papan nama Gang Padmo di RW 07,” ujar Meysa Zahira selaku Koordinator Desa KKN UM BBM Pulang Kampung Desa Pasireurih.

Menjawab persoalan tersebut, mahasiswa KKN menghadirkan tiga inovasi sekaligus: pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos biopori, pengolahan sampah plastik menjadi ecobrick untuk papan nama gang, serta pengembangan website tanda tangan digital bagi Ketua RW.
Ubah Sampah Dapur Jadi Pupuk
Program Sampah Bernilai diawali dengan Pelatihan Pembuatan Pupuk Kompos Biopori, yang mengajak warga melihat sampah dapur bukan lagi sebagai barang buangan, melainkan bahan baku yang bisa diolah kembali. Sisa sayur, kulit buah, dan sampah organik rumah tangga lainnya yang selama ini langsung dibuang, kini dikumpulkan dan diproses menjadi pupuk yang bermanfaat bagi tanaman.

Sebagai wujud nyata dari pelatihan ini, mahasiswa KKN UM-BBM Desa Pasireurih menginisiasi pembuatan lubang biopori yang ditanam di area samping Posyandu desa dan halaman rumah pak RT. Biopori tersebut berfungsi sebagai resapan air sekaligus tempat pengolahan sampah organik rumah tangga menjadi pupuk kompos. Program ini menjadi bagian dari upaya mengurangi volume sampah organik yang selama ini dibuang tanpa pengolahan, sekaligus mendukung penghijauan di lingkungan fasilitas kesehatan masyarakat tersebut.
Kegiatan diawali dengan edukasi seputar jenis-jenis sampah organik dan dampaknya bila menumpuk tanpa pengolahan, mulai dari bau tidak sedap, munculnya lalat dan sumber penyakit, hingga potensi pencemaran tanah. Setelah itu, mahasiswa KKN UM-BBM memberikan demonstrasi pembuatan kompos secara bertahap, mulai dari pemilahan bahan organik, pencacahan, pengaturan komposisi, hingga proses fermentasi menggunakan metode biopori sederhana yang mudah diterapkan di rumah masing-masing.

Peserta pelatihan, yang sebagian besar merupakan Ibu PKK, tidak hanya menyimak materi, tetapi juga langsung mempraktikkan sendiri proses pembuatan kompos, mulai dari melubangi tanah untuk biopori,
hingga memasukkan sampah organik dan memantau proses penguraian sampai menjadi pupuk siap pakai. Hasil dari pelatihan ini berupa pupuk kompos biopori yang dapat langsung dimanfaatkan warga untuk menyuburkan tanaman pekarangan, kebun sayur rumahan, maupun berpotensi dijual sebagai tambahan penghasilan keluarga.
Warga pun mengaku pelatihan ini membuka wawasan baru bahwa sampah dapur yang selama ini dianggap tidak berguna, ternyata dapat diolah secara sederhana tanpa membutuhkan alat mahal.
Sampah Plastik Disulap Jadi Papan Nama Gang
Jika sampah organik diubah menjadi pupuk, persoalan sampah plastik dijawab mahasiswa KKN melalui program lain yang tak kalah menarik perhatian warga: pemanfaatan ecobrick sebagai bahan pembuatan papan nama gang di gang padmo Desa Pasireurih. Ecobrick sendiri dibuat dengan memadatkan sampah plastik ke dalam botol plastik bekas hingga menjadi batu bata alternatif yang padat dan kuat. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Sampah Bernilai, yang secara khusus menyasar pengelolaan sampah plastik sebagai salah satu jenis sampah paling sulit terurai.

Program Pelatihan Pembuatan Ecobrick ini diawali dengan edukasi mengenai bahaya sampah plastik, mulai dari waktu penguraiannya yang mencapai ratusan tahun, risiko pencemaran mikroplastik, hingga dampak pembakaran plastik terhadap kualitas udara. Setelah memahami persoalan tersebut, warga diajak mengumpulkan sampah plastik bersih dan kering dari rumah masing-masing, seperti bungkus makanan, kantong kresek, dan berbagai kemasan plastik lainnya, untuk kemudian dipilah, dibersihkan, dikeringkan, dan dipotong menjadi bagian-bagian kecil sebelum dipadatkan ke dalam botol plastik bekas berukuran 600 ml menggunakan tongkat kayu.
Selama kurang lebih 30 hari pelaksanaan program, mahasiswa bersama masyarakat berhasil menghasilkan 150 botol ecobrick dengan memanfaatkan sekitar 18 kilogram sampah plastik yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah di lingkungan. Ecobrick yang telah terkumpul itulah yang kemudian dirangkai menjadi papan nama gang, menunjukkan bahwa sampah plastik rumah tangga tidak harus berakhir di tempat pembuangan atau dibakar, melainkan dapat diolah menjadi fasilitas lingkungan yang bermanfaat sekaligus memperindah kawasan permukiman.

“Saya berharap semangat gotong royong, inovasi, dan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan terus terjaga, sehingga program Ecobrick dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk mengurangi sampah plastik dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.” ujar Pak Budi selaku Ketua RW 07 yang terlibat dalam pelatihan tersebut.
Dengan berjalannya dua program ini secara beriringan, sampah dapur yang dulunya menumpuk kini berubah jadi pupuk untuk tanaman warga, sementara sampah plastik yang sulit terurai berubah jadi penanda jalan yang mempercantik permukiman gang padmo.
Desa Cerdas Digital melalui Pengembangan Website Desa Pasireurih
Selain melaksanakan program di bidang pengelolaan lingkungan, mahasiswa KKN UM-BBM juga menginisiasi program Desa Cerdas Digital melalui pengembangan website layanan tanda tangan digital bagi Ketua RW Desa Pasireurih. Program ini dirancang sebagai upaya meningkatkan kualitas pelayanan administrasi kepada masyarakat dengan memanfaatkan teknologi informasi, sehingga proses pengajuan dokumen dapat berlangsung lebih praktis, efisien, dan terdokumentasi secara digital.

Pelaksanaan program diawali dengan kegiatan observasi serta koordinasi bersama Ketua RW 07 bapak Budi untuk mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi dalam proses pelayanan administrasi. Dari hasil observasi diketahui bahwa pengajuan dokumen yang memerlukan persetujuan Ketua RW masih dilakukan secara manual.
Masyarakat harus datang langsung untuk memperoleh tanda tangan, sehingga proses administrasi sering kali memerlukan waktu lebih lama, terutama ketika Ketua RW sedang memiliki kegiatan di luar atau tidak berada di lokasi.
Berdasarkan kebutuhan tersebut, mahasiswa KKN mengembangkan sebuah website yang berfungsi sebagai media pengajuan dokumen administrasi secara daring. Melalui sistem ini, masyarakat dapat mengunggah dokumen yang memerlukan pengesahan, sedangkan Ketua RW dapat melakukan verifikasi sekaligus memberikan tanda tangan digital tanpa harus bertemu secara langsung dengan pemohon. Selain mempermudah proses pengajuan, website ini juga mendukung penyimpanan arsip dokumen secara digital sehingga pengelolaan administrasi menjadi lebih rapi dan mudah ditelusuri kembali.
Setelah tahap pengembangan selesai, dilakukan pengujian sistem untuk memastikan seluruh fitur berjalan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Mahasiswa KKN juga memberikan pendampingan kepada Ketua RW mengenai penggunaan website, mulai dari proses masuk ke sistem, pemeriksaan dokumen, hingga pemberian tanda tangan digital. Kegiatan pendampingan ini bertujuan agar pengelola mampu mengoperasikan website secara mandiri dan memastikan layanan tetap dapat berjalan setelah program KKN berakhir.
Melalui implementasi program Desa Cerdas Digital, diharapkan pelayanan administrasi di RW Desa Pasireurih menjadi lebih cepat, efektif, dan mudah diakses oleh masyarakat. Pengembangan website layanan tanda tangan digital ini menjadi salah satu inovasi dalam pemanfaatan teknologi informasi untuk mendukung pelayanan publik di tingkat lingkungan serta mewujudkan tata kelola administrasi yang lebih modern, transparan, dan berkelanjutan.
Penulis: Chelsye Alinsya Cahya Ardya, Elsa Naura, Shafwan Adhi, Muhammad Raihan Mahasiswa Universitas Negeri Malaln
Tag: Biopori · Ecobrick · Desa Pasireurih · KKN · WebsiteDesa · PengabdianMasyarakat
























