SEDAYU, BANTUL — Sebanyak 32 siswa kelas XI 8 SMAN 1 Sedayu mengikuti kegiatan pembelajaran bertema “Watak Kesatria” yang memanfaatkan komik digital sebagai media pengenalan kearifan lokal Yogyakarta, Rabu (12/8/2026). Kegiatan ini menjadi upaya memperkuat pendidikan karakter sekaligus mendekatkan kembali nilai budaya lokal kepada generasi muda.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari penelitian yang digagas Dr. Grendi Hendrastomo, M.M., M.A. dan Dr. Nur Endah Januarti, M.A., dosen Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Dalam pelaksanaannya, dua mahasiswa Pendidikan Sosiologi UNY, Fauzan Eka Saputra dan Renata Liestyar Dani, bertindak sebagai fasilitator pembelajaran bersama para siswa.
Pemilihan tema Watak Kesatria berangkat dari realitas kehidupan remaja yang tidak terlepas dari pengaruh media sosial. Arus informasi dan kehidupan sosial di ruang digital kerap membuat remaja merasa tertinggal, membandingkan diri dengan orang lain, hingga mengalami rasa tidak percaya diri dan overthinking. Melalui pengenalan nilai budaya lokal, kegiatan ini membuka ruang bagi siswa untuk memahami kembali nilai yang dapat dijadikan pedoman dalam keseharian.
Watak Kesatria yang diperkenalkan merujuk pada ajaran Sri Sultan Hamengkubuwono I yang dikenal pula sebagai Kawruh Joged Mataram. Nilai tersebut terdiri atas empat prinsip utama: nyawiji, greget, sengguh, dan ora mingkuh. Nyawiji dimaknai sebagai kesatuan pikiran, perkataan, dan tindakan. Greget menggambarkan semangat dan kesungguhan. Sengguh berkaitan dengan rasa percaya diri tanpa merendahkan orang lain, sementara ora mingkuh mengajarkan keberanian menghadapi tantangan serta menjalankan tanggung jawab.
Agar lebih mudah dipahami, materi dikemas dalam komik digital berjudul “Suripto & 4 Ilmu Kesatria”. Komik ini menghadirkan tokoh Suripto, seorang anak muda yang menghadapi berbagai kecemasan dan tekanan kehidupan modern, hingga akhirnya menemukan pengetahuan mengenai nilai-nilai kesatria yang berasal dari Keraton Yogyakarta. Cerita tersebut menjadi jembatan antara nilai budaya masa lalu dan persoalan yang dekat dengan kehidupan remaja saat ini.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pre-test untuk mengukur pemahaman awal siswa, dilanjutkan pengantar materi Watak Kesatria beserta empat nilainya. Siswa kemudian membaca komik secara berurutan mulai dari nyawiji, greget, sengguh, hingga ora mingkuh melalui kode QR yang mengarahkan mereka ke platform Webtoon. Sesi berlanjut dengan tanya jawab dan refleksi, lalu ditutup dengan post-test, dokumentasi kegiatan, dan penyampaian tanggapan siswa.
Salah satu peserta, I Putu Arbi Imanuel, menilai komik tersebut memuat banyak nilai yang aplikatif.
“Menurut saya, dari komik tersebut banyak nilai-nilai yang bisa kita ambil dan kita buktikan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Fahreza Sofyan Aryantama. Ia menilai cerita dalam komik dapat menjadi bahan pertimbangan sebelum bertindak.
“Mungkin dari komik tersebut juga bisa kita jadikan pedoman sebelum melakukan sesuatu dalam kehidupan sehari-hari. Banyak hal-hal positif yang bisa kita ambil,” katanya.
Penggunaan komik digital menjadi upaya mendekatkan pengenalan nilai budaya dengan karakteristik keseharian siswa. Materi budaya tidak hanya disampaikan melalui penjelasan, tetapi dikemas dalam bentuk cerita dengan tokoh dan persoalan yang akrab bagi remaja. Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa penguatan pendidikan karakter dapat dilakukan dengan mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam proses pembelajaran.
Kegiatan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-4: Pendidikan Berkualitas, khususnya target 4.7 yang menekankan pentingnya pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan, termasuk melalui apresiasi keragaman budaya dan kontribusi budaya terhadap pembangunan. Pendidikan tidak hanya diarahkan pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada pengembangan karakter, pemahaman budaya, dan kemampuan peserta didik menghadapi tantangan kehidupan secara bertanggung jawab.
Melalui pengenalan Watak Kesatria, kegiatan ini diharapkan menjadi bentuk pembelajaran yang mempertemukan kearifan lokal Yogyakarta dengan kebutuhan pendidikan generasi muda, sekaligus membuka ruang pemanfaatan media digital sebagai sarana pembelajaran karakter.




















