Bantul (MAN 1 Yogya) – Menunggu giliran tampil menjadi bagian dari tantangan yang harus dilalui Alfarezi Muhammad Istadi dalam ajang Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) Tingkat Kota Yogyakarta Tahun 2026. Murid kelas X D MAN 1 Yogyakarta tersebut menanti hingga namanya dipanggil untuk memasuki ruang perlombaan dan menunjukkan hafalan terbaiknya di hadapan dewan juri. Perjuangannya berbuah manis, akhirnya di MA Mu’allimin Sedayu, Alfarezi dinobatkan sebagai juara 1 MHQ dalam ajang Pekan Kompetisi Madrasah (PKM), Selasa (15/09/2026).
Keberhasilan Alfarezi meraih juara 1 menjadi salah satu capaian yang membanggakan dari salah satu murid MAN 1 Yogyakarta dalam ajang PKM 2026. PKM merupakan ajang tahunan yang ditunggu karena dengan mengikuti PKM murid mendapatkan ruang untuk mengembangkan potensi yang dimiliki sekaligus memperoleh pengalaman berkompetisi dengan murid dari madrasah lain. Pengalaman tersebut tidak hanya menguji kemampuan dalam bidang yang dilombakan, tetapi juga melatih murid untuk beradaptasi dengan lingkungan di luar madrasah dan membangun mental agar tidak mudah menyerah.
Capaian tersebut mendapat apresiasi dari Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd. Menurut Edi, prestasi dalam bidang MHQ tidak hanya menunjukkan kemampuan murid dalam menghafal Al-Qur’an, tetapi juga mencerminkan proses menjaga hafalan dan membangun konsistensi. Edi menegaskan, MHQ bukan hanya tentang kemampuan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga tentang bagaimana murid menjaga hafalannya dengan sungguh-sungguh, mempersiapkan diri, dan berani tampil ketika kesempatan datang. “Proses seperti ini penting bagi murid karena mengajarkan mereka untuk disiplin, konsisten, dan tidak mudah menyerah,” tutur Edi.
Sebelum memasuki arena perlombaan, Alfarezi mempersiapkan diri dengan terus mengulang hafalan yang menjadi materi lomba. Pengulangan dilakukan agar hafalan tetap terjaga dan semakin siap ketika harus ditampilkan di hadapan dewan juri. Setelah briefing persiapan sebelum memasuki rangkaian lomba, Alfarezi kembali fokus pada hafalannya agar penampilannya tidak terganggu. Sebelum mendapat giliran tampil, peserta menunggu di luar ruang perlombaan untuk dipanggil satu per satu sesuai urutan yang telah ditentukan. Ketika namanya dipanggil, Alfarezi memasuki ruang lomba dan memulai penampilannya. Ia harus berkonsentrasi untuk menyampaikan hafalan dengan sebaik mungkin di hadapan dewan juri. Setelah menyelesaikan penampilan, ia kembali menunggu di luar ruangan sambil memberikan kesempatan kepada peserta lainnya untuk tampil.
Bagi Alfarezi, proses menuju podium juara berawal dari hal yang sederhana yaitu menjaga dan mengulang hafalan. Konsistensi tersebut menjadi bekal ketika ia harus tampil dan diuji di hadapan dewan juri. Prestasi yang diraihnya pun menjadi pengalaman berharga untuk terus mengembangkan diri.
Di balik prestasinya dalam MHQ, Alfarezi memiliki cita-cita di bidang yang berbeda. Ia ingin menjadi atlet panahan tingkat nasional. Cita-cita tersebut menjadi salah satu impian yang ingin ia wujudkan melalui proses belajar dan latihan yang terus dijalaninya. Untuk itu, disamping hari-harinya menghafal Al’Qur’an, Alfarezi serius menekuni latihan panahan.
Juara 1 MHQ PKM 2026 akhirnya menjadi satu catatan penting bagi Alfarezi. Dari hafalan yang terus diulang, ia belajar tentang konsistensi, keberanian untuk tampil, dan dari panahan ia belajar kesungguhan dalam mempersiapkan diri. Sebuah pengalaman yang tidak hanya menghadirkan piala, tetapi juga bekal untuk melangkah menuju tantangan berikutnya. (luf)




















