Bantul (MAN 1 Yogya) – Menjaga hafalan Al-Qur’an membutuhkan ketekunan dan konsistensi. Hal tersebut dijalani Aisyah, murid kelas X D MAN 1 Yogyakarta, dalam mempersiapkan diri mengikuti Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) Putri pada ajang Pekan Kompetisi Madrasah (PKM) Tingkat Kota Yogyakarta Tahun 2026. Dengan persiapan selama dua minggu, Aisyah berhasil meraih Juara 1 MHQ Putri pada perlombaan yang digelar di MA Mualimin Terpadu Sedayu, Selasa, (15/09/2026).
Persiapan Aisyah dilakukan bersama guru pembimbing, Ustazah Putri Luthfiana, melalui empat kali latihan selama dua minggu. Selain mengikuti latihan bersama pembimbing, ia juga rutin melakukan murojaah dan kembali mempersiapkan hafalannya secara mandiri di rumah. Pengulangan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga hafalan sekaligus mempersiapkan diri menghadapi bentuk soal yang diberikan dalam perlombaan.
Persiapan yang dilakukan di madrasah kemudian menjadi bekal ketika Aisyah memasuki arena perlombaan. MHQ pada PKM kali ini dilaksanakan secara offline. Dalam lomba, setiap peserta mengambil sebuah amplop yang berisi soal-soal. Setelah itu, juri membacakan soal yang harus dijawab oleh peserta. Soal-soal tersebut menguji ketepatan dan kekuatan hafalan peserta. Aisyah harus menghadapi beberapa bentuk pertanyaan, mulai dari melanjutkan ayat, menebak nama surat, hingga membacakan surat yang telah ditentukan. Situasi tersebut menuntut peserta untuk tetap tenang sekaligus mampu mengingat hafalan dengan tepat ketika berhadapan langsung dengan soal.
Aisyah bersaing dengan peserta dari sejumlah madrasah di Kota Yogyakarta, yaitu MA Mu’allimaat Muhammadiyah, MA Muhammadiyah 1, MA Nurul Ummah, dan MAN 2 Yogyakarta. Setelah melalui seluruh rangkaian perlombaan, Aisyah berhasil meraih Juara 1 MHQ Putri dan membawa nama MAN 1 Yogyakarta menjadi bagian dari deretan prestasi pada PKM 2026.
Capaian tersebut mendapat apresiasi dari Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd. Menurut Edi, prestasi dalam MHQ memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar hasil sebuah perlombaan. Proses mempersiapkan dan menjaga hafalan juga menjadi bagian dari pembentukan sikap disiplin dan tanggung jawab murid. Edi menegaskan bahwa prestasi dalam MHQ bukan hanya tentang kemampuan menghafal dan menjawab soal dengan tepat.
“Ada proses panjang untuk menjaga hafalan, membangun kedisiplinan, dan membiasakan diri untuk terus mengulang. Kami mengapresiasi usaha Ananda Aisyah karena proses tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk karakter murid,” tutur Edi.
Keberhasilan Aisyah sekaligus menjadi pengalaman berharga dalam proses belajarnya. Dua minggu persiapan tidak hanya digunakan untuk menghafal materi yang akan dilombakan, tetapi juga untuk membangun kesiapan menghadapi suasana kompetisi. Apa yang telah dipelajari bersama pembimbing kemudian dilanjutkan melalui murojaah secara mandiri di rumah. Bagi Aisyah, capaian tersebut menjadi pengingat bahwa hafalan perlu terus dirawat. Kebiasaan murojaah yang dilakukan sebelum perlombaan menjadi bagian dari proses untuk mempertahankan hafalan sekaligus mempersiapkan diri menghadapi tantangan baru.
Di luar kegiatan MHQ, Aisyah memiliki cita-cita untuk menjadi dokter atau menekuni bidang yang berkaitan dengan kesehatan. Cita-cita tersebut menjadi bagian dari langkahnya untuk terus belajar dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Bagi Aisyah, Juara 1 MHQ Putri PKM 2026 bukan sekadar hasil dari satu hari perlombaan. Di baliknya ada ayat-ayat yang terus diulang, latihan bersama pembimbing, dan murojaah yang dilakukan secara mandiri. Dari proses menjaga hafalan itulah, sebuah prestasi akhirnya terukir. (luf)




















