Pontianak – Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), perguruan tinggi dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan jati dirinya sebagai ruang pembentukan manusia. Pertanyaan itu menjadi salah satu pokok bahasan dalam Workshop Humaniora bertema “Filsafat dan Relevansinya bagi Dunia Pendidikan Tinggi Dewasa Ini” yang diselenggarakan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo bekerja sama dengan Ditktsaintek Berdampak, Kamis (26/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai 4 Kampus II tersebut menghadirkan Uskup Keuskupan Sanggau, Mgr. Dr. Valentinus Saeng, CP, dan Imam Jesuit sekaligus dosen filsafat STF Driyarkara Jakarta, Dr. Agustinus Setyo Wibowo, SJ. Diskusi dipandu oleh Trio Kurniawan, S.S., M.Fil., dengan panelis dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari pendidikan, keuangan dan perbankan, hingga sains dan teknologi.
Workshop ini tidak sekadar membahas filsafat sebagai mata kuliah. Lebih jauh, para pembicara mengajak peserta melihat kembali fungsi pendidikan tinggi di tengah dunia yang semakin dikuasai algoritma, otomatisasi, dan budaya instan.
Menurut Mgr. Valentinus Saeng, filsafat justru semakin penting ketika teknologi berkembang semakin cepat. Di era digital, manusia memang dapat memperoleh jawaban atas hampir semua pertanyaan hanya melalui gawai di tangannya. Namun persoalannya bukan lagi soal menemukan jawaban, melainkan kemampuan mengajukan pertanyaan yang benar.
Ia menegaskan bahwa filsafat melatih manusia untuk berpikir kritis, menelaah berbagai asumsi yang diterima begitu saja, serta memahami realitas secara lebih mendalam. Tanpa kemampuan tersebut, pendidikan berisiko hanya menghasilkan individu yang terampil secara teknis tetapi miskin refleksi dan kehilangan arah moral.
“Teknologi boleh digunakan, tetapi tidak boleh menggantikan manusia sebagai pemikir,” tegasnya di hadapan peserta workshop.
Menurutnya, pendidikan tinggi tidak boleh hanya menjadi tempat mencetak tenaga kerja bagi industri. Kampus harus tetap menjadi ruang lahirnya pemimpin, ilmuwan, inovator, dan warga negara yang mampu mempertanggungjawabkan pikirannya secara rasional maupun etis.
Generasi yang Kehilangan Kemampuan Bertanya
Dalam pengantar diskusi, moderator Trio Kurniawan menyoroti fenomena yang kini semakin sering ditemukan di ruang-ruang kuliah. Banyak mahasiswa mampu menyelesaikan tugas, membuat presentasi, bahkan menulis makalah dengan bantuan AI. Namun ketika diminta menjelaskan alasan di balik kesimpulan yang mereka tulis, tidak sedikit yang kesulitan memberikan argumentasi.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis melahirkan kemampuan berpikir.
“Kita mungkin menghasilkan lulusan yang pintar, tetapi apakah mereka benar-benar mampu berpikir?” ujarnya.
Pertanyaan itu menjadi relevan ketika kampus-kampus di seluruh dunia mulai beradaptasi dengan kehadiran AI yang mampu menulis, menganalisis data, membuat presentasi, bahkan membantu penelitian dalam hitungan detik.
Jika proses pendidikan hanya berorientasi pada hasil akhir, maka mahasiswa akan semakin tergoda mencari jalan pintas. Akibatnya, proses intelektual yang seharusnya membentuk karakter dan kedewasaan berpikir perlahan menghilang.
AI dan Ancaman Matinya Nalar Kritis
Sementara itu, Dr. Agustinus Setyo Wibowo, SJ, menyoroti dampak yang lebih luas dari perkembangan teknologi digital terhadap kehidupan manusia.
Menurutnya, generasi muda saat ini hidup dalam arus informasi yang nyaris tanpa henti. Media sosial, video pendek, dan berbagai platform digital menawarkan hiburan instan yang membuat manusia semakin sulit berkonsentrasi dalam jangka panjang.
Akibatnya, muncul kecenderungan untuk menghindari proses berpikir yang membutuhkan usaha dan kesabaran.
Ia menjelaskan bahwa belajar sejatinya membutuhkan perjuangan. Otak manusia berkembang ketika menghadapi tantangan, membaca, berdiskusi, menulis, dan merefleksikan pengalaman. Sebaliknya, jika segala sesuatu diserahkan kepada mesin, kemampuan intelektual manusia akan melemah.
Dalam konteks inilah filsafat kembali menemukan relevansinya. Filsafat mengajarkan manusia untuk mempertanyakan, meragukan, menguji, dan memahami berbagai persoalan hingga ke akarnya. Kemampuan tersebut tidak dapat digantikan oleh teknologi secanggih apa pun.
Pendidikan untuk Memanusiakan Manusia

Salah satu pesan kuat yang mengemuka dalam workshop adalah bahwa pendidikan pada hakikatnya merupakan proses memanusiakan manusia.
Tujuan pendidikan bukan sekadar menghasilkan lulusan dengan indeks prestasi tinggi atau keterampilan teknis yang sesuai kebutuhan pasar kerja. Pendidikan harus membentuk manusia yang mampu berpikir mandiri, memiliki kepekaan moral, serta sanggup mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Di tengah dunia yang semakin terhubung oleh teknologi, kemampuan tersebut justru menjadi pembeda utama antara manusia dan mesin.
Karena itu, filsafat tidak boleh dipandang sebagai ilmu yang usang atau tidak relevan. Sebaliknya, ketika dunia bergerak semakin cepat dan dipenuhi berbagai informasi yang saling bertabrakan, filsafat hadir sebagai kompas yang membantu manusia memahami arah perjalanan hidupnya.
Workshop Humaniora ini menjadi pengingat bahwa masa depan pendidikan tinggi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh kemampuan kampus menjaga ruang bagi refleksi, dialog, dan nalar kritis. Sebab ketika algoritma semakin pandai memberikan jawaban, manusia tetap membutuhkan kemampuan untuk bertanya, menilai, dan memilih jalan yang benar.
Penulis: Vinsensius, S.Fil., M.M.
Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak.
























