Bandung – Memerangi penyalahgunaan narkoba tidak cukup hanya melalui penegakan hukum. Dibutuhkan peran aktif seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda, untuk membangun kesadaran kolektif dan menciptakan lingkungan yang sehat serta bebas dari penyalahgunaan narkotika. Berangkat dari semangat tersebut, Kader Inti Anti Narkoba (KIPAN) Kota Bandung menggelar Diskusi Panel Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2026 di Grand Arjuna Hotel Bandung, Kamis (25/6).
Mengusung tema “World Drug Problem: Persisting Issues, New Challenges, Innovative Responses”, kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, Badan Narkotika Nasional (BNN), organisasi kepemudaan, akademisi, mahasiswa, dan komunitas untuk membahas berbagai tantangan penyalahgunaan narkoba yang terus berkembang seiring perubahan zaman.
Berbeda dari seminar pada umumnya, KIPAN Kota Bandung menerapkan konsep yang lebih strategis dalam menentukan peserta. Mereka yang diundang bukan sekadar memenuhi kuota kehadiran, melainkan dipilih berdasarkan kapasitas, kepemimpinan, serta pengaruh yang dimiliki di lingkungannya masing-masing. Peserta terdiri atas mahasiswa yang aktif dan kritis, pengurus organisasi kemahasiswaan, founder organisasi dan komunitas, pelajar, hingga tokoh-tokoh muda Kota Bandung yang selama ini aktif dalam kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat.
Strategi tersebut dilakukan agar pesan-pesan mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba tidak berhenti di ruang diskusi. KIPAN berharap setiap peserta mampu menjadi agen perubahan (agent of change) yang meneruskan edukasi kepada teman-teman di kampus, sekolah, organisasi, maupun komunitas sehingga gerakan anti narkoba dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas. Dengan pendekatan ini, peserta tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga diharapkan menjadi penggerak perubahan di lingkungan masing-masing setelah kegiatan berakhir.
Selama diskusi berlangsung, para narasumber menyampaikan berbagai perspektif mengenai kondisi penyalahgunaan narkoba di Indonesia, tantangan yang dihadapi generasi muda di era digital, hingga pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat langkah-langkah pencegahan. Forum juga menjadi ruang dialog bagi peserta untuk menyampaikan gagasan, pengalaman, serta solusi terhadap berbagai persoalan narkotika yang mereka temui di lingkungan kampus, sekolah, maupun komunitas.
Tidak hanya mengikuti sesi pemaparan materi, para peserta juga dilibatkan secara aktif dalam Focus Group Discussion (FGD) yang dirancang untuk menggali ide, kreativitas, dan perspektif generasi muda mengenai upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba. Dalam sesi ini, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda, mulai dari pengaruh lingkungan pergaulan, perkembangan teknologi digital, hingga strategi membangun budaya hidup sehat dan produktif yang bebas dari narkoba.

Sebagai luaran dari diskusi tersebut, setiap kelompok diminta menuangkan hasil pemikiran mereka dalam bentuk visual campaign anti narkoba pada selembar kertas berwarna jingga. Melalui ilustrasi, slogan, simbol, dan pesan-pesan kreatif, setiap kelompok menyusun kampanye sederhana yang mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini.
Suasana FGD berlangsung dinamis dan penuh antusiasme. Setiap kelompok saling bertukar ide, menyampaikan pengalaman, serta merumuskan solusi yang dapat diterapkan di lingkungan masing-masing. Berbagai gagasan menarik bermunculan, mulai dari pentingnya memperkuat ketahanan keluarga, menciptakan lingkungan pertemanan yang positif, meningkatkan literasi mengenai bahaya narkoba, hingga memanfaatkan media sosial sebagai sarana kampanye edukatif yang mampu menjangkau lebih banyak kalangan muda.
Usai menyusun visual kampanye, masing-masing kelompok diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil diskusinya di hadapan seluruh peserta dan narasumber. Perwakilan kelompok menjelaskan makna visual yang dibuat, pesan utama yang ingin disampaikan, serta strategi implementasi kampanye anti narkoba di kampus, sekolah, organisasi, dan komunitas. Sesi ini berlangsung interaktif karena para narasumber turut memberikan tanggapan, masukan, dan apresiasi terhadap berbagai ide kreatif yang disampaikan peserta.
Bagi KIPAN Kota Bandung, metode FGD menjadi salah satu pendekatan yang efektif untuk membangun gerakan anti narkoba yang lebih partisipatif. Peserta tidak hanya menerima materi secara satu arah, tetapi diajak berpikir kritis, berdiskusi, menyampaikan solusi, sekaligus merancang aksi nyata yang dapat diwujudkan setelah kembali ke lingkungan masing-masing. Dengan demikian, semangat Hari Anti Narkotika Internasional diharapkan dapat terus hidup melalui aksi-aksi kecil yang dilakukan oleh para peserta di tengah masyarakat.
Ketua Umum KIPAN Kota Bandung, Nur Rizqi, mengatakan bahwa generasi muda memiliki peran yang sangat strategis dalam menentukan keberhasilan upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba. Menurutnya, edukasi akan lebih efektif ketika disampaikan oleh sesama anak muda yang memiliki kedekatan dan pengaruh di lingkungannya.
“Karena itu kami sengaja mengundang mahasiswa yang aktif dan kritis, founder organisasi, pengurus organisasi kemahasiswaan, serta tokoh-tokoh muda. Harapan kami, setelah kegiatan ini mereka dapat menjadi penyambung pesan-pesan anti narkoba di kampus, sekolah, komunitas, dan lingkungan sosialnya masing-masing,” ujarnya.

Salah satu sesi yang mendapat perhatian peserta adalah pematerian yang disampaikan oleh Ketua DPRD Kota Bandung. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa upaya pemberantasan narkoba tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah, Badan Narkotika Nasional (BNN), dunia pendidikan, organisasi kepemudaan, komunitas, serta masyarakat untuk membangun ketahanan generasi muda dari ancaman penyalahgunaan narkotika.
Usai sesi pematerian, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan Deklarasi Anti Narkoba yang dipimpin oleh Ketua DPRD Kota Bandung sebagai bentuk komitmen bersama dalam mendukung upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkotika di Kota Bandung. Prosesi tersebut turut diikuti oleh Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bandung, perwakilan Badan Narkotika Nasional (BNN), Kepala Bidang Pembinaan Pemuda Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bandung, Demisioner Ketua Umum KIPAN Kota Bandung, Ketua Umum KIPAN Kota Bandung, serta para peserta yang hadir.
Penandatanganan deklarasi tersebut menjadi simbol bahwa gerakan melawan narkoba harus diwujudkan melalui aksi nyata dan kolaborasi lintas sektor. KIPAN Kota Bandung berharap komitmen yang dibangun dalam forum ini tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan mampu melahirkan gerakan berkelanjutan melalui para peserta yang telah dipilih sebagai agen perubahan untuk menyebarluaskan edukasi dan semangat anti narkoba di lingkungan kampus, sekolah, organisasi, komunitas, hingga masyarakat luas.
Selain memperkuat komitmen, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperluas jejaring kolaborasi antarorganisasi kepemudaan di Kota Bandung. KIPAN meyakini bahwa semakin banyak komunitas dan organisasi yang bergerak bersama, semakin besar pula peluang untuk membangun lingkungan yang sehat, produktif, dan bebas dari penyalahgunaan narkoba.
Menutup kegiatan, Ketua Umum KIPAN Kota Bandung, Nur Rizqi, menyampaikan harapannya agar semangat Hari Anti Narkotika Internasional tidak hanya diperingati sebagai agenda tahunan, tetapi diwujudkan melalui aksi nyata yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
“Dengan memperingati Hari Anti Narkotika Internasional ini semoga masyarakat, pemuda dan pemudi khususnya yang berada di wilayah Kota Bandung dapat mewujudkan Bandung Utama dan Bandung Bersinar (Bersih dari Narkoba) demi terwujudnya Indonesia Emas 2045. Pesan saya kepada para pemuda dan pemudi di Kota Bandung, jadilah pemuda pemain zaman, jangan mau menjadi pemuda yang dipermainkan oleh zaman. Salam Bersinar,” ujar Nur Rizqi.
Melalui kegiatan ini, KIPAN Kota Bandung menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan program edukasi, kampanye publik, serta kolaborasi lintas sektor dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba. Organisasi tersebut berharap semakin banyak generasi muda yang tidak hanya memiliki kesadaran akan bahaya narkotika, tetapi juga bersedia menjadi pelopor perubahan di lingkungannya masing-masing. Dengan semangat kolaborasi dan kepedulian bersama, gerakan menuju Bandung Bersinar (Bersih dari Narkoba) diharapkan semakin kuat sebagai bagian dari kontribusi nyata dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.





















