Di era media sosial, gaya hidup anak muda semakin lekat dengan fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Berbagai tren baru muncul hampir setiap hari, mulai dari barang viral, kafe estetik, kemudahan paylater, hingga gaya berpakaian yang sedang populer. Banyak orang merasa perlu mengikuti tren tersebut agar tidak dianggap ketinggalan zaman. Akibatnya, keputusan membeli sering kali didasarkan pada keinginan untuk mengikuti lingkungan, bukan kebutuhan yang sebenarnya. Tanpa disadari, kebiasaan ini dapat membuat pengeluaran menjadi tidak terkendali dan menyulitkan pengelolaan keuangan pribadi.
Gaya hidup konsumtif di kalangan anak muda dapat berdampak buruk apabila tidak diimbangi dengan kemampuan mengatur keuangan yang baik. Menurut Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 yang diterbitkan OJK menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 65,4 persen. Meskipun angka tersebut meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya, masih banyak generasi muda yang menghadapi tantangan dalam menerapkan pengelolaan keuangan secara bijak di kehidupan sehari-hari. Anak muda memang bebas menikmati uang yang mereka miliki, baik dari hasil kerja sendiri maupun pemberian orang tua, tetapi tetap harus memahami batas antara kebutuhan dan keinginan. Oleh karena itu, pemahaman mengenai pengelolaan keuangan sederhana perlu diterapkan sejak usia muda agar tidak terbiasa hidup boros.
Banyak anak muda membeli sesuatu bukan karena benar-benar diperlukan, melainkan karena sedang viral atau ramai digunakan orang lain. Misalnya membeli skincare baru karena digunakan influencer favorit, mengganti gawai padahal yang lama masih berfungsi dengan baik, atau nongkrong di tempat mahal demi konten media sosial. Akibatnya, uang habis untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting. Lingkungan pergaulan juga sering memengaruhi cara seseorang menggunakan uang. Banyak yang takut dianggap tidak gaul jika tidak mengikuti tren. Padahal, jika terus menuruti gengsi, pengeluaran akan sulit dikendalikan dan kebiasaan boros semakin sulit dihentikan.
Masalah lain yang sering terjadi adalah anak muda jarang mencatat pengeluaran. Uang yang keluar sedikit demi sedikit memang terlihat sepele, tetapi jika dikumpulkan jumlahnya bisa sangat besar. Jajan online, membeli kopi, membayar ongkir, atau checkout barang saat tengah malam sering dilakukan tanpa pertimbangan yang matang. Padahal, kebiasaan mencatat pemasukan dan pengeluaran sangat penting karena membantu seseorang mengetahui pengeluaran mana yang berlebihan dan mana yang benar-benar diperlukan.
Perkembangan teknologi menghadirkan berbagai kemudahan dalam bertransaksi, salah satunya melalui layanan paylater. Fitur ini memungkinkan seseorang membeli barang yang diinginkan tanpa harus membayar secara langsung. Bagi sebagian anak muda, paylater dianggap sebagai solusi praktis untuk memenuhi kebutuhan maupun keinginan. Namun, kemudahan tersebut sering kali mendorong perilaku konsumtif karena seseorang merasa dapat membeli apa saja dan membayarnya nanti. Padahal, setiap transaksi akan menjadi tagihan yang harus dilunasi pada bulan berikutnya. Jika digunakan tanpa perencanaan yang baik, paylater dapat membuat kondisi keuangan menjadi tidak sehat dan mengurangi kemampuan seseorang untuk menabung.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa nilai utang masyarakat melalui layanan paylater perbankan mencapai sekitar Rp22,99 triliun dengan hampir 27 juta rekening pengguna pada tahun 2025. Data tersebut menunjukkan bahwa penggunaan paylater semakin meningkat dan perlu disertai kesadaran dalam mengelola keuangan agar tidak berubah menjadi beban di masa depan.
Sebagian anak muda memiliki pola pikir bahwa uang pasti bisa dicari lagi sehingga tidak perlu terlalu dipikirkan. Akibatnya, mereka lebih memilih menghabiskan uang untuk kesenangan sesaat dibandingkan menabung atau menyimpan dana untuk kebutuhan mendadak. Padahal, kebiasaan seperti ini cukup berbahaya. Jika terus terbiasa hidup tanpa perencanaan keuangan, seseorang dapat mengalami kesulitan saat menghadapi kebutuhan penting di masa depan. Sebenarnya, saat ini mengatur keuangan jauh lebih mudah dibandingkan sebelumnya. Banyak aplikasi pencatat keuangan yang dapat digunakan secara gratis melalui telepon pintar. Dengan mencatat pemasukan dan pengeluaran setiap hari, seseorang dapat memantau kondisi keuangannya dengan lebih baik. Namun, masalah utamanya bukan terletak pada ketersediaan aplikasi, melainkan pada kesadaran untuk mulai mengatur uang secara lebih bijak.
Dari pembahasan tersebut, dapat dilihat bahwa gaya hidup anak muda sangat memengaruhi kondisi keuangan mereka. Kebiasaan mengikuti tren dan gengsi sering membuat pengeluaran tidak terkontrol. Selain itu, penggunaan layanan paylater yang tidak bijak juga dapat memperbesar risiko pengeluaran berlebihan karena mendorong seseorang berbelanja di luar kemampuan keuangannya. Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk mulai belajar mengelola keuangan sejak sekarang agar tidak terjebak dalam kebiasaan hidup boros.
Mengikuti tren bukanlah sesuatu yang salah selama dilakukan sesuai kemampuan keuangan masing-masing. Generasi muda perlu menyadari bahwa penampilan dan gaya hidup tidak harus dibangun dengan mengorbankan kondisi finansial. Membiasakan diri membuat anggaran, menabung, mencatat pengeluaran, serta menggunakan fasilitas keuangan secara bijak merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan sejak sekarang. Pada akhirnya, kemampuan mengelola uang dengan baik akan jauh lebih bermanfaat daripada sekadar mengikuti tren yang sifatnya sementara. Masa depan finansial yang sehat dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten sejak usia muda. Dengan membangun kebiasaan tersebut, generasi muda dapat menikmati perkembangan zaman tanpa harus terjebak dalam jeray gaya hidup konsumtif.

























