CIANJUR, 4 September 2026 — Siswa kelas XII Pemasaran Bisnis Ritel SMK Negeri 1 Cipanas Cianjur diperkenalkan kepada framework I-C-E-P untuk membangun identitas dan portofolio digital.
Framework yang disampaikan Ahmad Madani tersebut terdiri atas Identity, Context, Evidence, dan Presence.
“Siswa harus menjelaskan siapa dirinya, menempatkan kemampuan dalam konteks yang spesifik, menunjukkan bukti, lalu menghadirkannya secara konsisten di ruang digital,” ujar Ahmad Madani.
Kepala SMK Negeri 1 Cipanas Cianjur, Kankan Sukanda, S.Pd.I., M.Pd., mengatakan bahwa portofolio membantu sekolah menghubungkan pembelajaran dengan masa depan lulusan.
“Ijazah tetap penting, tetapi dunia kerja juga ingin melihat apa yang pernah dikerjakan siswa. Portofolio membuat proses belajar, keterampilan, kreativitas, dan tanggung jawab mereka lebih mudah dikenali,” katanya.
Guru produktif Jurusan Pemasaran, Dian Eva Sunariningsih, menjelaskan bahwa siswa sebenarnya telah memiliki banyak bahan untuk membangun bukti digital.
“Proyek sekolah, praktik kerja lapangan, kegiatan teaching factory, pengalaman menjual, konten promosi, sertifikat, serta presentasi dapat menjadi portofolio. Yang perlu dilatih adalah cara menjelaskan masalah, peran, proses, hasil, dan pembelajarannya,” ujarnya.
Pada unsur Identity, siswa diminta menjelaskan nama, jurusan, minat, kemampuan, dan arah profesional. Unsur Context memperjelas bidang yang ditekuni, seperti digital marketing, pemasaran ritel, pelayanan pelanggan, live selling, riset pasar, atau pembuatan konten.
Unsur Evidence menekankan bukti melalui karya dan pengalaman nyata. Adapun Presence mendorong kehadiran yang konsisten melalui LinkedIn, situs pribadi, media sosial profesional, atau platform portofolio.
Ahmad menegaskan bahwa konsistensi tidak berarti harus mengunggah konten setiap hari. Hal yang lebih penting adalah kesesuaian identitas, topik, dan kualitas dokumentasi.
LinkedIn dapat dikembangkan sebagai portofolio hidup melalui tiga bagian utama: headline yang spesifik, about yang menjelaskan diri dan arah pengembangan, serta aktivitas yang menunjukkan proyek beserta konteksnya.
“Dunia kerja tidak hanya bertanya, ‘Kamu bisa apa?’ Dunia kerja juga bertanya, ‘Mana buktinya?’ I-C-E-P membantu siswa menghubungkan jawaban dan bukti tersebut,” tutup Ahmad.
Tentang Ahmad Madani
Ahmad Madani adalah praktisi pemasaran dan vokasi, trainer, konsultan, guru, serta narasumber tamu SMK Jurusan Pemasaran. Ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal KOMISI, Co-Founder AGMARI, dan Juri LKS Digital Marketing Tingkat Nasional 2026. Informasi lebih lanjut tersedia di ahmadmadani.id.
























