Jember, 6 Oktober 2026 — Sebuah tugas sekolah biasanya selesai ketika telah dinilai guru. Namun di era digital, tugas, project, praktik, dan pengalaman belajar sebenarnya dapat memiliki umur yang jauh lebih panjang jika dikembangkan menjadi portofolio profesional.
Gagasan tersebut dibahas dalam workshop “Berkarya, Berjejak, Berdampak di Era AI” yang dilaksanakan di SMK Islam Bustanul Ulum (IBU) Pakusari Jember pada 6 Oktober 2026.
Workshop bersama Praktisi Pemasaran dan Vokasi Ahmad Madani tersebut memberi perhatian besar pada pemanfaatan LinkedIn bagi siswa SMK, terutama siswa Bisnis Digital. Madani mengajak siswa mengubah cara pandang terhadap platform profesional itu: dari sekadar tempat mencari pekerjaan menjadi ruang untuk menyusun perjalanan kompetensi sejak sekolah.
Menurut Madani, project sekolah dapat dikembangkan menjadi digital evidence. Contohnya, siswa yang membuat riset pasar tidak cukup hanya menyimpan file tugas. Mereka bisa menjelaskan tujuan riset, metode yang dipakai, temuan yang diperoleh, kesulitan yang dihadapi, dan apa yang dipelajari kemudian menuliskannya di LinkedIn.
Hal yang sama dapat dilakukan pada project live selling, content marketing, pembuatan buyer persona, pengelolaan marketplace, praktik penjualan, hingga kegiatan organisasi.
“Kalau semuanya hanya tersimpan di laptop, orang lain tidak tahu. Mesin pencari juga tidak tahu. AI pun tidak memiliki konteks untuk memahami kemampuan kita. Karena itu kompetensi perlu mempunyai bukti,” kata Madani.
Pembahasan ini menjadi relevan karena Bisnis Digital menjadi salah satu program keahlian dengan peminat terbesar di SMK IBU. Pada tahun ini saja terdapat 10 kelas X baru Bisnis Digital.
Kepala SMK IBU, Muhammad Muslim, dalam draf keterangannya menyampaikan bahwa tingginya minat tersebut menunjukkan perubahan cara generasi muda melihat masa depan pendidikan dan pekerjaan.
“Ketertarikan siswa terhadap Bisnis Digital sangat besar. Kami ingin menjawab kepercayaan tersebut dengan pembelajaran yang relevan, termasuk mengenalkan bagaimana kompetensi siswa dapat dibangun, dibuktikan, dan dikomunikasikan secara profesional.
Ketua Program Keahlian Bisnis Digital, Guntur Rayana Putra, menilai kemampuan mendokumentasikan karya menjadi keterampilan penting bagi peserta didik.
“Kami ingin siswa memahami bahwa portofolio bukan dibuat mendadak ketika akan melamar kerja. Portofolio seharusnya tumbuh sejak proses belajar. Semakin banyak project berkualitas yang mereka dokumentasikan, semakin kuat pula gambaran kompetensi mereka.”
Tim Pengajar Produktif Pemasaran, Nuning, menambahkan bahwa guru memiliki peran penting dalam membiasakan siswa melihat tugas sebagai bagian dari proses membangun kompetensi.
“Anak-anak perlu didorong untuk tidak sekadar menyelesaikan tugas. Mereka perlu mampu menjelaskan mengapa sesuatu dikerjakan, prosesnya bagaimana, hasilnya apa, dan apa yang mereka pelajari. Kebiasaan refleksi seperti itu sangat baik untuk membangun portofolio.”
Madani juga mengingatkan siswa agar tidak terjebak membuat profil digital yang penuh klaim tetapi minim bukti. Menurutnya, personal branding yang kuat bukan tentang menulis banyak gelar atau menyebut diri sebagai ahli, melainkan membangun hubungan yang konsisten antara identitas, bidang yang ditekuni, karya yang dihasilkan, dan bukti yang tersedia secara digital.
Dengan pendekatan tersebut, LinkedIn dapat berfungsi sebagai tempat bertemunya personal branding, portofolio, kemampuan menulis, dokumentasi project, networking, serta AI Visibility.
“Kalau satu hari perusahaan, kampus, mitra bisnis, atau bahkan AI mencari nama kita, pertanyaannya bukan apakah nama kita muncul. Pertanyaannya: setelah nama itu ditemukan, apakah mereka memahami kita sebagai siapa?” ujar Madani.
























