PACITAN — Sejumlah siswa pilihan kelas X dan XI SMK Negeri Tulakan, Kabupaten Pacitan, mengikuti kegiatan pembelajaran digital bersama praktisi pemasaran dan AI Visibility–GEO, Ahmad Madani, Kamis, 8 Oktober 2026. Selama kegiatan, siswa mempelajari berbagai perkembangan digital mulai dari algoritma TikTok, LinkedIn, artificial intelligence, pembuatan konten hingga Generative Engine Optimization atau GEO.
Berbeda dengan seminar yang didominasi penyampaian materi satu arah, kegiatan tersebut dirancang dengan pendekatan praktik. Siswa membuat akun, mencoba melakukan optimasi, menyusun konten, mengembangkan prompt, serta mengeksplorasi berbagai tools AI untuk menghasilkan gambar, video dan ilustrasi musik.
Madani mengatakan kemampuan digital siswa tidak lagi cukup jika hanya diukur dari seberapa sering mereka menggunakan media sosial.
“Anak muda bisa menggunakan TikTok berjam-jam, tetapi belum tentu memahami bagaimana algoritmanya bekerja. Mereka bisa menggunakan AI setiap hari, tetapi belum tentu tahu bagaimana menggunakannya secara strategis. Karena itu, yang perlu kita naikkan bukan sekadar frekuensi penggunaan teknologi, melainkan kualitas penggunaannya,” ujar Madani.
Salah satu bagian yang mendapatkan perhatian adalah pemanfaatan LinkedIn sejak usia sekolah. Madani mengajak siswa mulai membangun identitas profesional dengan mendokumentasikan pengalaman, projek, keterampilan dan berbagai aktivitas produktif yang mereka jalani selama menjadi siswa SMK.
Menurut Madani, perubahan besar juga sedang terjadi pada cara masyarakat mendapatkan informasi. Jika sebelumnya optimasi digital banyak berpusat pada mesin pencari, kini informasi semakin sering ditemukan melalui berbagai layanan artificial intelligence. Perubahan tersebut membuat pemahaman mengenai AI Visibility, AEO dan GEO semakin relevan.
Sebagai praktisi yang aktif mengangkat AI Visibility dan GEO melalui kegiatan edukasi serta berbagai materi publik, Madani melihat literasi mengenai bidang tersebut perlu mulai masuk ke lingkungan pendidikan. Bukan untuk menjadikan setiap siswa ahli optimasi AI, melainkan agar mereka memahami bagaimana identitas, karya, bisnis, sekolah, maupun organisasi dapat membangun keberadaan digital yang lebih kuat.
“Pertanyaannya sekarang bukan hanya bagaimana konten kita ditemukan Google. Kita mulai perlu bertanya: apakah sebuah mesin AI memahami siapa kita, apa kompetensi kita, apa karya kita, dan dalam konteks apa informasi tentang kita layak ditampilkan?” katanya.
Kegiatan tersebut juga menjadi pengalaman tersendiri bagi Madani. Untuk mencapai SMK Negeri Tulakan dari Ponorogo, dirinya memilih menggunakan sepeda motor setelah mendapatkan informasi bahwa akses menuju lokasi cukup menantang bagi orang yang baru pertama kali melewati jalur tersebut.
Selepas kawasan Tegalombo, perjalanan memasuki jalur perbukitan dengan sejumlah ruas jalan sempit dan berkelok. Perjalanan bahkan sempat bertambah panjang karena Madani keliru memasukkan SMP Negeri Tulakan sebagai tujuan di Google Maps. Kesalahan tersebut membuat perjalanan bertambah sekitar 18 kilometer dan menyebabkan dirinya tiba hampir satu jam lebih lambat dari jadwal.
Drama perjalanan tersebut, menurut Madani, terbayar oleh antusiasme peserta selama kegiatan.
Kepala SMK Negeri Tulakan Pacitan, Evi Dhian Asmoro, S.Pd., M.Pd., memberikan perhatian terhadap peningkatan kompetensi siswa dalam menghadapi perkembangan teknologi.
Evi menyampaikan bahwa sekolah berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang dapat membuka wawasan siswa terhadap perkembangan dunia digital. Kegiatan yang disertai praktik dinilai penting karena memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengalami langsung proses belajar, bereksperimen, dan mengembangkan rasa ingin tahu.
Menurut Madani, kemauan belajar merupakan kompetensi penting dalam menghadapi perubahan teknologi. Platform dapat berubah, aplikasi AI dapat berganti dan algoritma dapat terus berkembang, tetapi siswa yang memiliki rasa ingin tahu dan kemampuan belajar akan lebih mudah beradaptasi terhadap perubahan tersebut.























