Contact Us
Login
Logout
Pelataran
Leaderboard Puteri Anak dan Puteri Remaja Banten 2027
  • Berita Utama
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Nasional
  • Properti
  • SBTV
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Teknologi
    • Otomotif
    • English
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Pariwisata
    • Pendidikan
    • Product Review
    • Sorot
    • Sport
    • Event
    • Opini
    • Profil
  • Kirim Tulisan
    • Login
    • Akun Saya
    • Tulisan Saya
    • Logout
Pelataran
  • Berita Utama
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Nasional
  • Properti
  • SBTV
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Teknologi
    • Otomotif
    • English
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Pariwisata
    • Pendidikan
    • Product Review
    • Sorot
    • Sport
    • Event
    • Opini
    • Profil
  • Kirim Tulisan
    • Login
    • Akun Saya
    • Tulisan Saya
    • Logout
No Result
View All Result
Pelataran
No Result
View All Result
Home Teknologi

Dari SMS ke AI, Evolusi Komunikasi Manusia

Agus Budiana by Agus Budiana
17 September 2026
in Teknologi
A A
0
Ilustrasi seorang perempuan diantara SMS dan AI dalam dunia digital (Generate AI)

Ilustrasi seorang perempuan diantara SMS dan AI dalam dunia digital (Generate AI)

859
SHARES
1.2k
VIEWS

Ada masa ketika mengetik SMS berarti berjuang dengan bahasa singkatan “btw”, “gpp”, “otw” karena tarif per karakter dan layar tombol angka yang menyiksa jempol. Bagi generasi yang tumbuh di era 2000-an awal, SMS adalah revolusi.

Kini, dua dekade kemudian, kita justru mengetik lebih sedikit dari sebelumnya, karena yang menulis balasan bukan lagi kita sendiri, melainkan asisten AI yang menyusun kalimat, merapikan nada bicara, bahkan menyarankan respons yang “kita” akan kirim.

Perjalanan dari SMS ke AI bukan sekadar soal alat baru menggantikan alat lama. Ini adalah cerita tentang bagaimana manusia terus-menerus menegosiasikan ulang apa artinya “berbicara” satu sama lain.

Bahasa Kita Diam-Diam Ditulis Ulang

Ada satu suara yang paling pas menyoroti transisi dari SMS ke AI, justru karena ia sudah mengikutinya sejak awal. Naomi Baron, Guru Besar emerita linguistik di American University, adalah salah satu peneliti pertama yang secara serius mempelajari bagaimana pesan instan dan SMS mengubah cara orang berbahasa.

Baron mendapati sesuatu yang mengejutkan singkatan dan bahasa gaul digital ternyata tidak merusak tata bahasa penggunanya seburuk yang dikhawatirkan orang, sebab teknologi cenderung memperbesar kebiasaan berkomunikasi yang sudah ada, bukan menciptakan kebiasaan yang sama sekali baru.

Menariknya, riset Baron juga menyoroti bagaimana teknologi pesan memberi kita kendali baru atas ketersediaan diri sendiri terhadap orang lain lewat fitur menyaring, memblokir, atau memilih kapan mau membalas.

Kini, di babak terbarunya, Baron mengalihkan perhatian pada AI generatif dan mengajukan pertanyaan yang jauh lebih menusuk, jika dulu SMS hanya mengubah gaya bahasa kita, apa yang terjadi ketika mesin mulai menulis dan bahkan membaca teks untuk kita?

Dalam karya terbarunya, ia menyoroti bahaya ketika manusia mulai mempercayakan proses menulis dan sebentar lagi proses membaca kepada model bahasa besar demi alasan efisiensi, sehingga pelan-pelan kehilangan keterampilan yang selama ini menjadi inti dari berpikir dan berkomunikasi itu sendiri.

Perjalanan dari SMS ke AI, menurut kacamata Baron, bukan cuma soal medium yang berubah, tapi soal siapa yang sebenarnya masih “menulis” ketika kita mengetik.

Mesin Terasa Lebih Nyaman daripada Manusia

Pergeseran ini punya sisi yang jauh lebih personal, dan di sinilah suara psikolog sekaligus Guru Besar Massachusetts Institute of Technology (MIT) Sherry Turkle, penting untuk didengar. Selama puluhan tahun meneliti hubungan manusia dengan komputer,

Turkle mengamati sebuah pola yang ia sebut sebagai “pelarian dari percakapan” kecenderungan orang merasa lebih aman dan nyaman berkomunikasi lewat layar dibanding bertatap muka langsung, karena pesan digital bisa dikontrol, diedit, dan disunting sebelum dikirim, sementara percakapan langsung penuh risiko emosional yang tak terduga.

Dalam karya-karyanya, ia menggambarkan paradoks masyarakat modern manusia makin terhubung secara teknologis, tapi tidak jarang makin kesepian secara emosional.

Kini, dengan hadirnya chatbot AI yang bisa “terdengar” penuh empati menjeda kalimat seolah berpikir, memilih nada seolah peduli Turkle melihat gejala baru yang lebih dalam lagi.

Ia menyebutnya bukan lagi sekadar kecerdasan buatan, melainkan “keintiman buatan” situasi ketika manusia mulai menerima kinerja empati dari mesin sebagai empati yang cukup, lalu pelan-pelan mendefinisikan ulang kapasitas manusiawi seperti kepedulian dan kedekatan berdasarkan apa yang bisa ditiru mesin.

Ini bukan sekadar soal SMS jadi chatbot. ini soal siapa atau apa yang kita percaya sebagai lawan bicara yang “cukup baik” untuk mendengarkan kita.

Kita Tak Lagi Bisa Membedakan Manusia dan Mesin

Kegelisahan itu ternyata bukan cuma renungan filosofis, tapi juga temuan riset yang cukup mengejutkan. Jeffrey Hancock, Guru Besar komunikasi di Stanford yang mendalami isu kepercayaan dan kebohongan dalam interaksi bermedia.

Mendapati bahwa era di mana manusia masih bisa membedakan tulisan manusia dari tulisan mesin kini sudah lewat bot-bot percakapan sekarang terdengar begitu meyakinkan sehingga kemampuan membedakan itu nyaris hilang sama sekali, sebuah kondisi yang membawa risiko besar berupa manipulasi dan penipuan dalam skala massal.

Ia juga menekankan bahwa teknologi seperti ini bukan hal baru sama sekali koreksi ejaan otomatis dan prediksi teks sudah lama diam-diam mengubah cara kita menulis pesan, hanya saja kita berhenti menganggapnya sebagai “AI” begitu ia menjadi kebiasaan.

Yang menarik, Hancock menaruh perhatian besar pada persoalan kepercayaan sebagai taruhan utama dari pergeseran ini. Ketika orang mulai curiga bahwa lawan bicaranya bisa jadi mesin, kepercayaan terhadap segala bentuk komunikasi daring ikut tergerus—bukan cuma pada percakapan yang memang dibantu AI, tapi pada interaksi digital secara keseluruhan. Ironisnya, ia menduga hal ini bisa mendorong efek berlawanan: orang-orang justru akan makin merindukan pertemuan tatap muka, sesuatu yang tak bisa dipalsukan oleh algoritma secanggih apa pun.

Bukan Soal Alat, tapi Soal Apa yang Ingin Kita Pertahankan

Membaca ulang perjalanan dari SMS ke AI, saya justru melihatnya bukan sebagai garis lurus kemajuan, melainkan sebagai siklus tarik-menarik yang berulang. Setiap generasi teknologi komunikasi menjanjikan efisiensi lebih cepat, lebih murah, lebih mudah menjangkau siapa saja dan setiap kali itu terjadi, ada sesuatu yang pelan-pelan terkikis dari cara kita hadir satu sama lain.

Baca Juga

Ilustrasi seorang perempuan sedang mengamati informasi dari suatu media (Generated by AI)

AI dan Opini Publik: Siapa Sebenarnya yang Membentuk Pikiran Kita?

28 September 2026
Gamifikasi

Gamifikasi menggunakan multimedia interaktif: meningkatkan keterlibatan pengguna

30 November 2025
Ilustrasi polusi udara di wilayah Jakarta. Sumber: greenpeace.org

Pemantauan Kualitas Udara Berbasis IoT: Solusi Cerdas untuk Lingkungan yang Lebih Sehat

28 July 2025
gambar deepfake

Antara Asli dan Imitasi: Eksplorasi AI, Deepfake, dan Ectype Modern

8 July 2025

SMS mengikis panjangnya kalimat. Media sosial mengikis kesabaran menunggu. AI generatif berpotensi mengikis sesuatu yang lebih mendasar: kejujuran tentang siapa yang benar-benar sedang berbicara, dan kesediaan kita berlatih menjadi pendengar yang sabar bagi manusia lain, bukan sekadar penikmat respons instan dari mesin.

Ini bukan ajakan untuk anti-teknologi, sebab jelas AI membawa manfaat nyata dari menjembatani hambatan bahasa, membantu penyandang disabilitas berkomunikasi, hingga memudahkan pekerjaan administratif yang selama ini menyita waktu.

Tapi ada baiknya kita tidak lupa bertanya, dari semua kemudahan yang ditawarkan setiap era, mana yang benar-benar kita butuhkan, dan mana yang diam-diam menggantikan sesuatu yang justru ingin kita pertahankan?

SMS mengajarkan kita menulis singkat. AI, kalau kita tidak hati-hati, bisa mengajarkan kita untuk berhenti menulis sama sekali dan pada akhirnya, berhenti benar-benar mendengarkan.

 

    Tags: AIEvolusi Komunikasi ManusiaSMS
    Share344Tweet215Share60Pin77SendShare
    Leaderboard Puteri Anak dan Puteri Remaja Banten 2027
    Previous Post

    Kalapas Mojokerto Berikan Pengarahan kepada Pegawai Peserta Seleksi Ujian Dinas dan Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat

    Next Post

    Perkuat Ketahanan Pangan, Lapas Arga Makmur Kembangkan Budidaya Cabe dan Terong

    Agus Budiana

    Agus Budiana

    Agus Budiana adalah jurnalis, penulis, dan mantan akademisi di bidang komunikasi.  Memiliki perhatian pada isu jurnalistik, media digital, komunikasi publik, kecerdasan buatan (AI), literasi digital, serta perkembangan media dan teknologi. Alumni Journalism Course Thomson Foundation UK (Inggris), anggota Society for Features Journalism USA (Amerika), alumni Mafindo Institute (Fact-Checking - Anti-Scam dan AI). Aktif menulis opini dan artikel mengenai media, komunikasi, jurnalistik, dan berbagai isu sosial yang berkembang di masyarakat. Latar belakang di bidang ilmu komunikasi menjadi landasan dalam melihat perubahan lanskap media dan komunikasi di era digital.

    Related Posts

    Ilustrasi seorang perempuan sedang mengamati informasi dari suatu media (Generated by AI)

    AI dan Opini Publik: Siapa Sebenarnya yang Membentuk Pikiran Kita?

    28 September 2026
    Gamifikasi

    Gamifikasi menggunakan multimedia interaktif: meningkatkan keterlibatan pengguna

    30 November 2025
    Ilustrasi polusi udara di wilayah Jakarta. Sumber: greenpeace.org

    Pemantauan Kualitas Udara Berbasis IoT: Solusi Cerdas untuk Lingkungan yang Lebih Sehat

    28 July 2025
    gambar deepfake

    Antara Asli dan Imitasi: Eksplorasi AI, Deepfake, dan Ectype Modern

    8 July 2025
    Next Post
    1

    Perkuat Ketahanan Pangan, Lapas Arga Makmur Kembangkan Budidaya Cabe dan Terong

    WhatsApp Image 2026 09 17 at 14.02.32

    Lapas Arga Makmur Ikuti Arahan Dirjenpas Cegah Penyalahgunaan Wewenang

    WhatsApp Image 2026 09 17 at 12.11.14

    Lapas Arga Makmur Bahas Usulan Integrasi 11 Narapidana melalui Sidang TPP

    Siswa SMK Negeri 4 Yogyakarta mempraktikkan pembuatan desain busana secara digital sejalan dengan SDGs 4

    Mahasiswa PK Tata Busana UNY Ajarkan Aplikasi Desain Digital untuk Tingkatkan Kualitas Pembelajaran di SMK Negeri 4 Yogyakarta

    Screenshot 2026 09 17 201944

    Lapas Mojokerto Ikuti Arahan Dirjenpas Secara Virtual, Teguhkan Integritas Jajaran

    Please login to join discussion
    Square Media Wanita

    Berita Utama

    Demo 27 Agustus: Polda Metro Jaya Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Sekitar Gedung DPR
    Berita Utama

    Demo 27 Agustus: Polda Metro Jaya Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Sekitar Gedung DPR

    by Redaksi
    27 August 2026
    0

    Demo 27 Agustus: Polda Metro Jaya Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Sekitar Gedung DPR Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menyiapkan...

    Read moreDetails
    IMG 20260813 WA0042

    Pilar Saga Ultimatum Provider: Jangan Lagi Pasang Kabel Fiber Optik di Atas Jalan

    14 August 2026
    Banjir di Suwawa Selatan. (foto BPBD PROV. Gorontalo)

    BPBD Imbau Warga Gorontalo Waspadai Hujan Lebat

    12 June 2026
    Presiden Prabowo Didampingi Menteri Trenggono Tinjau KNMP Leato Selatan

    Presiden Prabowo Didampingi Menteri Trenggono Tinjau KNMP Leato Selatan

    15 May 2026
    Kampung Literasi Pekijing Kota Serang Bangun Budaya Literasi dari Halaman Rumah

    Kampung Literasi Pekijing Kota Serang Bangun Budaya Literasi dari Halaman Rumah

    15 May 2026
    Rumah Prabu Half Page

    Berita Terkait

    1

    Bekali Keterampilan Kerja, WBP Lapas Arjasa Kelola SAE Cuci Kendaraan

    6 October 2026
    WhatsApp Image 2026 10 06 at 14.06.57

    Lapas Arga Makmur Perkuat Persiapan Pusat Rehabilitasi dan Reedukasi WBP

    6 October 2026
    WhatsApp Image 2026 10 06 at 14.05.24

    Lapas Arga Makmur Ikuti Anev Menteri, Perkuat Evaluasi dan Tindak Lanjut Kinerja

    6 October 2026
    WhatsApp Image 2026 10 06 at 12.10.20

    Rutan Bengkulu Gelar Sidang TPP, Bahas Perkembangan dan Program Pembinaan Warga Binaan

    6 October 2026
    WhatsApp Image 2026 10 06 at 14.12.53

    15 Warga Binaan Rutan Bengkulu Bebas Melalui Program Integrasi, Siap Kembali ke Masyarakat

    6 October 2026
    WhatsApp Image 2026 10 06 at 10.48.36

    Hari Pertama Renovasi Dapur, Rutan Bengkulu Mulai Tingkatkan Kualitas Sarana Pengolahan Makanan

    6 October 2026
    Pelataran

    Pelataran.com adalah portal media berita online yang terbuka untuk umum dan menerima kontribusi tulisan dari berbagai penulis. Tulisan yang dimuat dapat berupa berita, press release, opini, maupun bentuk tulisan lainnya.

    Segala konten yang dipublikasikan di Pelataran.com merupakan tanggung jawab penuh dari masing-masing penulis. Hak cipta atas isi tulisan, gambar, maupun video yang ditayangkan di situs ini sepenuhnya menjadi milik penulis atau pengunggah konten.

    Follow Us

    Pelataran.com

    Jika Anda merasa keberatan dengan adanya tulisan, gambar, atau video yang ditampilkan di situs ini karena alasan hak cipta atau alasan lainnya, silakan hubungi tim redaksi melalui email di:

    📧 redaksi@pelataran.com

    Kami akan segera meninjau dan menghapus konten yang dimaksud sesuai dengan kebijakan dan pertimbangan redaksi.

    Penting!

    Tulisan yang tidak disertai dengan foto atau gambar atau ilustrasi tidak akan dipublikasikan dan akan langsung dihapus oleh Redaksi. Gambar harus ada hubungannya dengan tulisan ya dan bukan foto selfie penulis

    Pemberitahuan!

    Pelataran.com adalah portal berita komunitas yang berpusat di Jakarta dan tidak memiliki kantor perwakilan dimanapun. Tulisan atau berita yang ada merupakan kontribusi penulis lepas dari seluruh Indonesia bahkan dari seluruh dunia. Hati-Hati dengan oknum yang meng-atas-nama-kan Pelataran.com dengan mengaku sebagai wartawan, karena kami tidak memiliki wartawan dan tidak mengeluarkan kartu pengenal wartawan atau Kartu Pers atau Press ID Card.

    Gunakan Gambar AI atau 100% Gratis

    Untuk menghindari klaim hak cipta maka setiap gambar wajib merupakan gambar 100% gratis atau buatan AI. Cantumkan link sumber gambar di akhir tulisan kamu ya, tanpa ini tulisan kamu tidak akan kami terbitkan!

    Iklan Banner Ucapan Selamat

    Pasang Iklan Banner Ucapan Selamat, Kenaikan Pangkat, Pelantikan dan Lain-Lain

    Salsa
    • Privacy Policy
    • Panduan Komunitas Pelataran
    • Syarat dan Ketentuan Pelataran
    • Disclaimer
    • Mengapa Tulisan Belum Ditayangkan?
    • Contact Us

    © 2023 Pelataran - Pres Rilis dan Berita

    No Result
    View All Result
    • Berita Utama
    • Ekonomi & Bisnis
    • Internasional
    • Nasional
    • Properti
    • SBTV
    • Lainnya
      • Gaya Hidup
      • Teknologi
      • Otomotif
      • English
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Pariwisata
      • Pendidikan
      • Product Review
      • Sorot
      • Sport
      • Event
      • Opini
      • Profil
    • Kirim Tulisan
      • Login
      • Akun Saya
      • Tulisan Saya
      • Logout
    • Login

    © 2023 Pelataran - Pres Rilis dan Berita