Ada masa ketika mengetik SMS berarti berjuang dengan bahasa singkatan “btw”, “gpp”, “otw” karena tarif per karakter dan layar tombol angka yang menyiksa jempol. Bagi generasi yang tumbuh di era 2000-an awal, SMS adalah revolusi.
Kini, dua dekade kemudian, kita justru mengetik lebih sedikit dari sebelumnya, karena yang menulis balasan bukan lagi kita sendiri, melainkan asisten AI yang menyusun kalimat, merapikan nada bicara, bahkan menyarankan respons yang “kita” akan kirim.
Perjalanan dari SMS ke AI bukan sekadar soal alat baru menggantikan alat lama. Ini adalah cerita tentang bagaimana manusia terus-menerus menegosiasikan ulang apa artinya “berbicara” satu sama lain.
Bahasa Kita Diam-Diam Ditulis Ulang
Ada satu suara yang paling pas menyoroti transisi dari SMS ke AI, justru karena ia sudah mengikutinya sejak awal. Naomi Baron, Guru Besar emerita linguistik di American University, adalah salah satu peneliti pertama yang secara serius mempelajari bagaimana pesan instan dan SMS mengubah cara orang berbahasa.
Baron mendapati sesuatu yang mengejutkan singkatan dan bahasa gaul digital ternyata tidak merusak tata bahasa penggunanya seburuk yang dikhawatirkan orang, sebab teknologi cenderung memperbesar kebiasaan berkomunikasi yang sudah ada, bukan menciptakan kebiasaan yang sama sekali baru.
Menariknya, riset Baron juga menyoroti bagaimana teknologi pesan memberi kita kendali baru atas ketersediaan diri sendiri terhadap orang lain lewat fitur menyaring, memblokir, atau memilih kapan mau membalas.
Kini, di babak terbarunya, Baron mengalihkan perhatian pada AI generatif dan mengajukan pertanyaan yang jauh lebih menusuk, jika dulu SMS hanya mengubah gaya bahasa kita, apa yang terjadi ketika mesin mulai menulis dan bahkan membaca teks untuk kita?
Dalam karya terbarunya, ia menyoroti bahaya ketika manusia mulai mempercayakan proses menulis dan sebentar lagi proses membaca kepada model bahasa besar demi alasan efisiensi, sehingga pelan-pelan kehilangan keterampilan yang selama ini menjadi inti dari berpikir dan berkomunikasi itu sendiri.
Perjalanan dari SMS ke AI, menurut kacamata Baron, bukan cuma soal medium yang berubah, tapi soal siapa yang sebenarnya masih “menulis” ketika kita mengetik.
Mesin Terasa Lebih Nyaman daripada Manusia
Pergeseran ini punya sisi yang jauh lebih personal, dan di sinilah suara psikolog sekaligus Guru Besar Massachusetts Institute of Technology (MIT) Sherry Turkle, penting untuk didengar. Selama puluhan tahun meneliti hubungan manusia dengan komputer,
Turkle mengamati sebuah pola yang ia sebut sebagai “pelarian dari percakapan” kecenderungan orang merasa lebih aman dan nyaman berkomunikasi lewat layar dibanding bertatap muka langsung, karena pesan digital bisa dikontrol, diedit, dan disunting sebelum dikirim, sementara percakapan langsung penuh risiko emosional yang tak terduga.
Dalam karya-karyanya, ia menggambarkan paradoks masyarakat modern manusia makin terhubung secara teknologis, tapi tidak jarang makin kesepian secara emosional.
Kini, dengan hadirnya chatbot AI yang bisa “terdengar” penuh empati menjeda kalimat seolah berpikir, memilih nada seolah peduli Turkle melihat gejala baru yang lebih dalam lagi.
Ia menyebutnya bukan lagi sekadar kecerdasan buatan, melainkan “keintiman buatan” situasi ketika manusia mulai menerima kinerja empati dari mesin sebagai empati yang cukup, lalu pelan-pelan mendefinisikan ulang kapasitas manusiawi seperti kepedulian dan kedekatan berdasarkan apa yang bisa ditiru mesin.
Ini bukan sekadar soal SMS jadi chatbot. ini soal siapa atau apa yang kita percaya sebagai lawan bicara yang “cukup baik” untuk mendengarkan kita.
Kita Tak Lagi Bisa Membedakan Manusia dan Mesin
Kegelisahan itu ternyata bukan cuma renungan filosofis, tapi juga temuan riset yang cukup mengejutkan. Jeffrey Hancock, Guru Besar komunikasi di Stanford yang mendalami isu kepercayaan dan kebohongan dalam interaksi bermedia.
Mendapati bahwa era di mana manusia masih bisa membedakan tulisan manusia dari tulisan mesin kini sudah lewat bot-bot percakapan sekarang terdengar begitu meyakinkan sehingga kemampuan membedakan itu nyaris hilang sama sekali, sebuah kondisi yang membawa risiko besar berupa manipulasi dan penipuan dalam skala massal.
Ia juga menekankan bahwa teknologi seperti ini bukan hal baru sama sekali koreksi ejaan otomatis dan prediksi teks sudah lama diam-diam mengubah cara kita menulis pesan, hanya saja kita berhenti menganggapnya sebagai “AI” begitu ia menjadi kebiasaan.
Yang menarik, Hancock menaruh perhatian besar pada persoalan kepercayaan sebagai taruhan utama dari pergeseran ini. Ketika orang mulai curiga bahwa lawan bicaranya bisa jadi mesin, kepercayaan terhadap segala bentuk komunikasi daring ikut tergerus—bukan cuma pada percakapan yang memang dibantu AI, tapi pada interaksi digital secara keseluruhan. Ironisnya, ia menduga hal ini bisa mendorong efek berlawanan: orang-orang justru akan makin merindukan pertemuan tatap muka, sesuatu yang tak bisa dipalsukan oleh algoritma secanggih apa pun.
Bukan Soal Alat, tapi Soal Apa yang Ingin Kita Pertahankan
Membaca ulang perjalanan dari SMS ke AI, saya justru melihatnya bukan sebagai garis lurus kemajuan, melainkan sebagai siklus tarik-menarik yang berulang. Setiap generasi teknologi komunikasi menjanjikan efisiensi lebih cepat, lebih murah, lebih mudah menjangkau siapa saja dan setiap kali itu terjadi, ada sesuatu yang pelan-pelan terkikis dari cara kita hadir satu sama lain.
SMS mengikis panjangnya kalimat. Media sosial mengikis kesabaran menunggu. AI generatif berpotensi mengikis sesuatu yang lebih mendasar: kejujuran tentang siapa yang benar-benar sedang berbicara, dan kesediaan kita berlatih menjadi pendengar yang sabar bagi manusia lain, bukan sekadar penikmat respons instan dari mesin.
Ini bukan ajakan untuk anti-teknologi, sebab jelas AI membawa manfaat nyata dari menjembatani hambatan bahasa, membantu penyandang disabilitas berkomunikasi, hingga memudahkan pekerjaan administratif yang selama ini menyita waktu.
Tapi ada baiknya kita tidak lupa bertanya, dari semua kemudahan yang ditawarkan setiap era, mana yang benar-benar kita butuhkan, dan mana yang diam-diam menggantikan sesuatu yang justru ingin kita pertahankan?
SMS mengajarkan kita menulis singkat. AI, kalau kita tidak hati-hati, bisa mengajarkan kita untuk berhenti menulis sama sekali dan pada akhirnya, berhenti benar-benar mendengarkan.

























