Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Lampung (Unila) kembali menghadirkan inovasi berbasis sains melalui pengembangan EtiGuard, lembaran pengemas aktif berbasis komposit selulosa dari limbah kulit dan ampas kopi Lampung yang berfungsi sebagai agen penyerap gas etilen pada komoditas hortikultura. Produk inovasi tersebut berhasil memperoleh pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2026 dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), dengan periode pelaksanaan berlangsung dari Mei hingga September 2026.
Tim EtiGuard diketuai oleh Gustaf Triyoga, dengan anggota Anita Dwi Foristiana, Arien Ariannie, Diah Pitaloka, dan Fitri Nuraini Fadila. Di bawah bimbingan Esa Ghanim Fadhallah, S.Pi., M.Si., tim mengembangkan produk dengan mengedepankan pemanfaatan limbah pertanian lokal sebagai upaya mendukung pengendalian food loss dan keberlanjutan lingkungan.

Pengembangan EtiGuard dilatarbelakangi oleh tingginya food loss pada komoditas hortikultura akibat gas etilen yang terus dihasilkan selama penyimpanan dan distribusi, sementara kemasan yang umum digunakan saat ini masih bersifat pasif dan berbasis plastik. Pada saat yang sama, Provinsi Lampung memiliki limbah kulit dan ampas kopi dalam jumlah besar yang berpotensi diolah menjadi material kemasan fungsional, namun pemanfaatannya sebagai produk bernilai tambah masih dapat dikembangkan lebih lanjut.

EtiGuard dikembangkan dari limbah kulit kopi yang kaya selulosa dan ampas kopi yang diolah menjadi karbon aktif. Kombinasi kedua bahan ini menghasilkan material komposit dengan daya adsorpsi tinggi terhadap gas etilen, sehingga mampu menekan laju respirasi dan memperlambat proses pembusukan produk hortikultura selama penyimpanan maupun distribusi.
“Melalui EtiGuard, kami tidak hanya ingin menghadirkan solusi pascapanen yang lebih efektif, tetapi juga mendorong pemanfaatan limbah kopi Lampung menjadi produk bernilai tambah. Kami berharap EtiGuard dapat membantu petani dan pelaku usaha hortikultura menekan food loss serta mendukung praktik pengemasan yang lebih ramah lingkungan,”
— Gustaf Triyoga, Ketua Tim EtiGuard
Dosen pembimbing EtiGuard, Esa Ghanim Fadhallah, S.Pi., M.Si., turut memberikan pendampingan dan arahan strategis selama proses pengembangan produk. Pendampingan tersebut mencakup penyempurnaan formulasi, pengujian efektivitas, hingga persiapan agar produk dapat diaplikasikan secara lebih luas oleh petani dan pelaku usaha hortikultura.
Pengembangan EtiGuard menjadi salah satu wujud kontribusi mahasiswa Universitas Lampung dalam menghadirkan inovasi yang mengintegrasikan pemanfaatan limbah lokal, keberlanjutan lingkungan, dan penyelesaian masalah nyata di sektor pertanian. Melalui pendekatan berbasis sains, inovasi ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi limbah kopi Lampung sekaligus menjawab kebutuhan pelaku usaha hortikultura akan kemasan yang lebih efektif dan ramah lingkungan.
























