Tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) Universitas Lampung (Unila) kembali menghadirkan inovasi berbasis sains melalui pengembangan Covalera, sabun mandi alami berbentuk foam yang dirancang untuk memberikan perawatan lembut bagi kulit sensitif sekaligus memperhatikan aspek kelestarian lingkungan. Produk inovasi tersebut berhasil memperoleh pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Kewirausahaan tahun 2026 dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
Tim Covalera diketuai oleh Pandu Lintang Nugroho dari Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, dengan anggota Wayan Lindayani dari Akuntansi, Aurelle Yoroshi Siagian dari Teknologi Hasil Pertanian, Ratna Puspa Dewi dari Teknologi Industri Pertanian, dan Billal Pasha Hendriyadi dari Teknik Kimia. Di bawah bimbingan Esa Ghanim Fadhallah, S.Pi., M.Si., tim mengembangkan produk dengan mengedepankan pemanfaatan komoditas serta limbah lokal sebagai upaya mendukung kesehatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
Pengembangan Covalera dilatarbelakangi oleh tingginya permasalahan kulit sensitif di masyarakat. Kondisi tersebut dilaporkan dialami oleh sekitar 60–70% wanita dan 50–60% pria serta dapat semakin diperburuk oleh penggunaan produk pembersih yang mengandung surfaktan sintetis, seperti Sodium Lauryl Sulfate (SLS). Pada saat yang sama, Provinsi Lampung memiliki kekayaan bahan baku alami dan hasil samping pertanian yang melimpah, tetapi pemanfaatannya sebagai produk bernilai tambah masih dapat dikembangkan lebih lanjut.
“Banyak penderita kulit sensitif mengeluhkan kondisi kulit yang menjadi kering dan mengalami iritasi setelah menggunakan sabun konvensional. Melalui Covalera, kami ingin menghadirkan alternatif pembersih tubuh berbahan alami yang lebih lembut di kulit, tetap efektif membersihkan, serta membantu menjaga kelembapan kulit,” ujar Pandu.
Covalera memanfaatkan tiga bahan utama yang memiliki fungsi berbeda. Ekstrak kulit kakao digunakan sebagai bahan aktif yang kaya akan senyawa antioksidan dan memiliki potensi antimikroba. Buah lerak (Sapindus rarak) dimanfaatkan sebagai sumber surfaktan alami yang berperan dalam menghasilkan busa, sedangkan lidah buaya (Aloe vera) digunakan sebagai humektan alami untuk membantu mempertahankan kelembapan kulit. Keunggulan lainnya terletak pada pengembangan ekstrak kulit kakao dalam bentuk nanopartikel berukuran kurang dari 100 nm yang ditujukan untuk meningkatkan stabilitas serta efektivitas bahan aktif dalam formulasi. Tidak hanya mengedepankan inovasi pada formulasi, Covalera juga dirancang dengan konsep praktis dan ramah lingkungan. Produk dikemas menggunakan botol bioplastik PET berukuran 100 mL.


Produk “Covalera”, sabun foam untuk kulit sensitif“Melalui Covalera, kami tidak hanya ingin menghadirkan produk perawatan tubuh yang lebih sesuai bagi kulit sensitif, tetapi juga mendorong pemanfaatan limbah dan komoditas pertanian lokal menjadi produk bernilai tambah. Kami berharap Covalera dapat berkembang menjadi salah satu produk hilirisasi unggulan Unila yang mampu bersaing di pasar nasional,” tambah Pandu.
Dosen Pendamping Tim Covalera, Esa Ghanim Fadhallah, S.Pi., M.Si., turut memberikan pendampingan dan arahan strategis selama proses pengembangan produk. Pendampingan tersebut mencakup upaya menjaga kualitas produk, pemenuhan standar yang berlaku, pengujian keamanan, hingga persiapan pengurusan legalitas seperti BPOM dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Pengembangan Covalera menjadi salah satu wujud kontribusi mahasiswa Universitas Lampung dalam menghasilkan inovasi yang mengintegrasikan aspek kesehatan, pemanfaatan sumber daya lokal, keberlanjutan lingkungan, serta kewirausahaan. Melalui pendekatan berbasis sains, inovasi tersebut diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi potensi lokal sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat terhadap produk perawatan tubuh yang lebih ramah bagi kulit dan lingkungan.


























