Sleman, 17 September 2026 — Potongan kain yang sering dianggap sebagai sisa produksi ternyata dapat diubah menjadi produk kreatif yang memiliki fungsi dan potensi nilai jual. Hal tersebut ditunjukkan melalui pembelajaran Kreativitas, Inovasi, dan Kewirausahaan (KIK) yang dilaksanakan mahamurid Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Isma Khairinisa, mahamurid Program Studi Pendidikan Tata Busana, Fakultas Teknik UNY, bersama 35 murid kelas XI Desain dan Produksi Busana (DPB) SMK Negeri 1 Depok.
Kegiatan yang berlangsung di SMK Negeri 1 Depok tersebut mengangkat materi manipulating fabric dengan teknik slashing. Murid diajak memanfaatkan kain perca sebagai kombinasi material dalam pembuatan totebag. Melalui pembelajaran berbasis praktik, murid tidak hanya mempelajari teknik pengolahan kain, tetapi juga diajak melihat potensi kreativitas dan kewirausahaan dari material yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah tekstil.
Pembelajaran diawali dengan penjelasan mengenai manipulating fabric dan teknik slashing, dilanjutkan dengan demonstrasi dan praktik secara langsung. Murid terlibat dalam menentukan kombinasi kain, mengolah kain perca, hingga menyelesaikan totebag. Proses tersebut memberikan ruang bagi murid untuk bereksperimen dan mengembangkan desain sesuai kreativitas masing-masing.

Antusiasme murid terlihat selama kegiatan berlangsung. Teknik slashing menjadi pengalaman baru bagi murid karena mereka dapat melihat secara langsung bagaimana kain perca dapat dimanfaatkan kembali menjadi bagian dari produk yang menarik dan fungsional.
“Menurut saya, pembelajaran manipulating fabric slashing ini menyenangkan karena memberikan pengalaman baru. Sebelumnya saya tidak menyangka kain perca yang hanya berupa sisa bisa dikombinasikan menjadi totebag yang menarik,” ujar salah satu murid kelas XI DPB.
Pemanfaatan kain perca dalam kegiatan ini memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Murid dikenalkan pada pentingnya memanfaatkan material secara lebih bijak dan memberikan nilai guna baru terhadap bahan sisa. Kegiatan tersebut sekaligus mendukung SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran praktik yang mengembangkan keterampilan, kreativitas, inovasi, dan kemampuan memecahkan masalah.
Isma Khairinisa menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dirancang agar murid tidak hanya memahami materi secara teori, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam mengembangkan produk dari material sederhana.
“Saya ingin murid tidak hanya memahami teknik manipulating fabric secara teori, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung dalam mengolah kain perca menjadi produk yang memiliki fungsi. Saya berharap mereka dapat melihat bahwa bahan sisa pun bisa memiliki nilai apabila diolah dengan kreativitas dan inovasi,” ungkap Isma.
Selain mengembangkan keterampilan, pembuatan totebag juga memberikan wawasan kewirausahaan kepada murid. Produk yang dihasilkan dapat dikembangkan dengan memperhatikan desain, fungsi, kerapian, serta kebutuhan konsumen sehingga memiliki peluang untuk menjadi produk bernilai jual.
Isma berharap pengalaman tersebut dapat mendorong murid untuk terus bereksperimen dan memanfaatkan kain sisa secara lebih kreatif.
“Harapan saya, murid dapat lebih berani mengembangkan ide dan mencoba berbagai inovasi dari bahan yang ada di sekitar mereka. Semoga keterampilan ini tidak berhenti di kelas, tetapi dapat dikembangkan menjadi berbagai produk kreatif yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, kain perca tidak lagi sekadar menjadi sisa material. Dengan kreativitas dan keterampilan, bahan tersebut dapat memperoleh kehidupan baru sebagai totebag yang fungsional sekaligus berpotensi bernilai jual. Pembelajaran ini menjadi contoh bahwa penerapan SDGs 4 dan SDGs 12 dapat dimulai dari ruang kelas melalui kegiatan sederhana, kreatif, dan berkelanjutan.

























