JAKARTA — Bagi Ahmad Madani, perjalanan mengunjungi Sekolah Menengah Kejuruan di berbagai daerah Indonesia bukan semata-mata agenda berbagi pengalaman profesional. Setiap kunjungan menjadi kesempatan untuk memahami persoalan pendidikan vokasi, mempertemukan kebutuhan sekolah dengan perkembangan industri, sekaligus mendorong guru dan siswa agar memiliki pandangan lebih luas tentang masa depan pekerjaan.
Semangat tersebut kembali dibawa Madani saat mengisi penguatan kompetensi guru SMK Yaspia 17 Al-Wathoniyah, Jakarta Timur, Jumat, 23 Oktober 2026. Kali ini, tantangan yang dihadapi sekolah cukup spesifik: bagaimana mengembangkan jurusan Bisnis Digital yang baru memasuki tahun pertama pembelajaran.
Madani hadir membawakan tema “Jurusan Baru, Peluang Baru! Membangun Bisnis Digital yang Unggul dan Berdaya Saing”. Materinya menyentuh persoalan yang tidak selalu terlihat ketika sebuah jurusan baru dibuka, mulai dari kesiapan guru, pengembangan metode pembelajaran, penyusunan proyek siswa, peluang profesi, pembinaan LKS, hingga strategi mencari mitra industri.
Dari Sebuah Rekomendasi Menjadi Kesempatan Berbagi
Pertemuan Madani dengan SMK Yaspia 17 memiliki latar yang menarik. Ia mengenal sekolah tersebut melalui rekomendasi Erni Mawarni, S.E., M.Pd., Kepala Bidang SMK, Kursus, dan Pelatihan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta.
Ada pesan yang melekat dalam hubungan profesional tersebut: teruslah membantu SMK, baik negeri maupun swasta, sesuai kemampuan dan pengalaman yang dimiliki.
“Penguatan pendidikan vokasi membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Sekolah memerlukan ruang untuk memperbarui pembelajaran dan menjalin hubungan dengan praktisi, sementara dunia industri juga membutuhkan calon tenaga kerja yang kompeten. Kolaborasi semacam ini diharapkan dapat menjangkau sekolah negeri maupun swasta,” demikian pernyataan Erni
Bagi Madani, pesan tersebut terasa relevan dengan pengalamannya mengunjungi beragam sekolah. Ia melihat bahwa setiap SMK mempunyai titik awal yang berbeda. Sekolah yang sudah mapan membutuhkan pembaruan, sedangkan sekolah yang baru berkembang memerlukan fondasi dan arah yang jelas.
Kondisi itu membuatnya memilih pendekatan yang tidak selalu sama di setiap kunjungan. Ketika bertemu siswa, pembahasan dapat berfokus pada mentalitas penjualan, komunikasi pelanggan, atau pemanfaatan teknologi. Namun, ketika menghadapi guru yang sedang merintis jurusan baru, materi harus dimulai dari pertanyaan yang jauh lebih mendasar: lulusan seperti apa yang ingin dihasilkan sekolah?
Mempersiapkan Lulusan, Bukan Sekadar Mengikuti Tren
Dalam pandangan Madani, perkembangan pemasaran digital memang membuka banyak peluang kerja. Namun, sekolah tidak boleh terburu-buru menyamakan kompetensi Bisnis Digital dengan kemampuan membuat konten media sosial.
Seorang siswa perlu memahami kebutuhan konsumen, alasan seseorang memilih produk, cara membangun kepercayaan, dan bagaimana aktivitas pemasaran membantu pertumbuhan bisnis. Keterampilan menggunakan aplikasi merupakan bagian dari proses, bukan tujuan akhir pendidikan.
“Kalau siswa masuk tahun 2026 dan lulus beberapa tahun kemudian, guru harus memikirkan kompetensi apa yang masih relevan pada saat itu. Jangan hanya mengajarkan aplikasi yang sedang populer, tetapi ajarkan bagaimana memahami bisnis, pelanggan, dan perubahan,” kata Madani.
Perspektif tersebut juga berkaitan dengan perkembangan AI dalam pemasaran. Madani, yang aktif memberikan edukasi mengenai AI Visibility dan Generative Engine Optimization (GEO), mendorong guru mengenali perubahan cara konsumen mencari informasi, memahami produk, serta mengambil keputusan.
Namun, teknologi harus digunakan sebagai alat bantu berpikir, bukan menggantikan kemampuan siswa melakukan analisis.
Kepala SMK Yaspia 17, Khoirunnisa, menyampaikan pentingnya kegiatan penguatan kompetensi tersebut bagi sekolah yang sedang menyiapkan pengembangan Bisnis Digital.
“Kami memandang jurusan baru sebagai peluang untuk memperkuat kualitas layanan pendidikan. Guru membutuhkan wawasan dan pengalaman dari praktisi agar pembelajaran dapat dikembangkan secara bertahap serta semakin dekat dengan kebutuhan dunia kerja,” demikian pernyataan Khoirunnisa
Menguatkan Pendidikan dari Ruang Guru
Sebagai Sekretaris Jenderal KOMISI, Co-Founder AGMARI, dan Juri LKS Digital Marketing Tingkat Nasional, Madani mendorong pengembangan pendidikan pemasaran yang tidak terpisah dari dunia profesi.
Ia percaya guru memegang posisi penting dalam menghadirkan perubahan. Karena itu, penguatan jurusan tidak cukup dimulai dengan fasilitas baru, tetapi harus dibarengi kesempatan bagi pendidik untuk belajar, berkolaborasi, dan mengembangkan pengalaman industri.
Madani juga mengajak guru menjadikan AGMARI sebagai salah satu ruang membangun jejaring profesional, berbagi pengalaman pembelajaran, serta mencari peluang kolaborasi lintas sekolah.
Kehadirannya di SMK Yaspia 17 menunjukkan bahwa upaya memperkuat pendidikan vokasi dapat dimulai melalui pertemuan sederhana antara sekolah dan praktisi yang memiliki perhatian sama.
Bagi Madani, yang terpenting bukan berapa banyak sekolah telah dikunjungi, melainkan apakah setiap pertemuan mampu meninggalkan pengetahuan, perspektif, dan kemungkinan tindak lanjut yang berguna bagi sekolah.
Sebab pada akhirnya, pendidikan vokasi yang kuat tidak dibangun hanya melalui kebijakan dan fasilitas. Ia juga tumbuh dari guru yang terus belajar, praktisi yang bersedia berbagi, serta sekolah yang berani memperbaiki diri.






















