Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen (BEM FEM) IPB University menjalankan program Sinergi Aksi Sampah Masyarakat (SASAMA) di Desa Bojongjengkol, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, sejak 5 Juni 2026. Program yang merupakan bagian dari skema Program Peningkatan Kapasitas Organisasi Mahasiswa (PPK Ormawa) ini dijalankan oleh Tim PPK Ormawa BEM FEM IPB University. Pelaksanaan diawali dengan audiensi bersama kelompok sasaran dan aparat desa, dan hingga kini telah berjalan sekitar 2,5 bulan di RW 06, RW 07, dan RW 10. Tim pelaksana berjumlah 15 orang, didukung 13 volunteer, dengan Razaqa Rafi Syachputra sebagai ketua pelaksana dan Dr. Kastana Sapanli, S.Pi., M.Si. sebagai dosen pendamping.
Desa Bojongjengkol memiliki luas wilayah 214,35 hektare yang terbagi ke dalam 12 RW dan 35 RT, dengan jumlah penduduk 10.308 jiwa dari 3.233 kepala keluarga. Setiap rumah tangga di desa ini rata-rata menghasilkan 0,5 kilogram sampah per hari, atau setara 56 ton sampah per bulan untuk seluruh desa. Volume tersebut dinilai tim sebagai potensi ekonomi jika dikelola dengan tepat, namun sejauh ini justru menjadi beban lingkungan karena minim pengelolaan. Berdasarkan survei tim, tiga RW dipilih sebagai sasaran program karena menghadapi persoalan sampah dengan karakter berbeda, yaitu timbunan sampah yang tidak terkelola dengan baik di RW 06 dan RW 10, serta tumpukan sampah yang mencemari aliran anak Sungai Cisadane di RW 07. Persoalan lain yang ditemukan meliputi kebiasaan membuang sampah sembarangan di area sungai, tempat pembuangan sampah sementara (TPS) yang tidak terkelola dengan baik, serta rendahnya pengetahuan masyarakat dalam memilah dan mengolah sampah.
Saat program ini dirancang, Kepala Desa Bojongjengkol Awaluddin Marifatullah menyampaikan bahwa persoalan sampah di desanya hingga kini belum sepenuhnya teratasi. Ia menyatakan pemerintah desa menyambut baik dan mendukung penuh inisiatif mahasiswa yang berupaya menanggulangi persoalan tersebut. Pernyataan ini menjadi salah satu dasar tim menyesuaikan rancangan program dengan kebutuhan riil masyarakat, sekaligus memperkuat alasan tim menyasar RW 06, RW 07, dan RW 10 sebagai wilayah prioritas.
Tim menilai kebiasaan buruk pengelolaan sampah di Bojongjengkol tidak lepas dari lemahnya fungsi keluarga, merujuk pada delapan fungsi keluarga menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN, 2017) serta tiga aspek ketahanan keluarga yang dikemukakan Prof. Dr. Ir. Euis Sunarti, M.Si. (2019), yaitu aspek fisik-ekonomi, sosial, dan psikologis. Dari sisi sosial, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah menjadi tantangan utama. Dari sisi fisik-ekonomi, kondisi ini tecermin dari rendahnya tingkat pendapatan warga, khususnya para pelaku usaha. Survei tim mencatat 96 pelaku usaha di tiga RW sasaran memiliki pendapatan rata-rata Rp2.200.000 per bulan, jauh di bawah Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) Bogor tahun 2026 yang ditetapkan sebesar Rp5.437.203 per bulan. Tingkat pendidikan warga yang relatif rendah turut mendorong tim menempatkan edukasi pemilahan sampah sejak usia dini sebagai fondasi program.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Tim PPK Ormawa BEM FEM merancang sistem pengelolaan sampah berbasis rantai pasok sirkular melalui lima pojok literasi dalam program SASAMA. Pojok pertama, SASAMA Dini, memberikan edukasi pengelolaan sampah bagi 30 siswa kelas 4 SDN Bengle berusia 11 hingga 12 tahun. Keluaran dari pojok ini berupa kurikulum nonformal tentang lingkungan dan ekonomi bagi siswa sekolah dasar. Pojok kedua, SASAMA Pilah, memberikan edukasi pemilahan sampah organik dan anorganik bagi 20 warga usia produktif antara 22 hingga 55 tahun di RW 06 dan RW 07. Melalui pojok ini, tim menargetkan lahirnya masyarakat yang terampil memilah sampah secara mandiri.
Pojok ketiga, SASAMA Organik, menjalankan budidaya maggot black soldier fly (BSF) dan pengolahan pupuk kasgot yang menyasar 20 anggota karang taruna usia 22 hingga 55 tahun di RW 06. Keluaran dari pojok ini berupa produk pakan maggot dan pupuk kasgot bernilai ekonomi. Pojok keempat, SASAMA Anorganik, menjalankan pencacahan plastik menjadi bahan daur ulang bernilai jual yang menyasar 20 pasangan suami istri usia 18 hingga 55 tahun di RW 07. Hasil dari pojok ini berupa bahan daur ulang dan kerajinan plastik yang siap dipasarkan.
Pojok kelima, SASAMA Usaha, dikhususkan sebagai program pemberdayaan ekonomi bagi perempuan berupa pelatihan manajemen usaha dan pemasaran digital. Pojok ini menyasar 25 ibu dan perempuan pelaku usaha di RW 06, RW 07, dan RW 10, yang terdiri dari 15 pelaku usaha perempuan dengan rincian lima orang di setiap RW, serta 10 anggota Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang dilibatkan sebagai mitra pelaksana. Pelibatan PKK diharapkan dapat memastikan program ini terus berjalan secara mandiri setelah masa pendampingan tim berakhir. Melalui pojok ini, tim menargetkan tumbuhnya wirausaha berbasis produk daur ulang dengan pemasaran melalui e-commerce.
Seluruh pojok literasi tersebut didukung oleh sejumlah pendekatan teknis, mulai dari sistem rantai pasok sirkular, budidaya maggot, teknologi pencacah plastik, hingga teknologi Maggowes untuk memisahkan antara kasgot dan residu makanan. Dalam merancang program, tim menggunakan pendekatan Asset-Based Community Development(ABCD) untuk memetakan potensi desa agar dapat dikembangkan secara optimal, alih-alih hanya berfokus pada masalah yang ada. Untuk menjaga keberlanjutan program setelah masa PPK Ormawa berakhir, tim membentuk kelembagaan desa bernama Paguyuban Cerdas Sampah sebagai wadah warga melanjutkan pengelolaan sampah secara mandiri. Sebagai luaran program, tim juga akan menyusun Buku Refleksi Ormawa berjudul “Sinergi Aksi” serta dokumentasi melalui publikasi media sosial.
Melalui program SASAMA, tim berharap masyarakat Desa Bojongjengkol dapat memiliki kesadaran dan keterampilan yang berkelanjutan dalam mengelola sampah, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi. Tim juga berharap program ini mampu mendorong lahirnya wirausaha baru berbasis produk daur ulang, khususnya di kalangan perempuan pelaku usaha, sehingga turut berkontribusi pada peningkatan pendapatan warga. Lebih jauh, keberadaan Paguyuban Cerdas Sampah diharapkan dapat menjadi motor penggerak yang memastikan pengelolaan sampah di Desa Bojongjengkol terus berjalan secara mandiri, bahkan setelah masa pendampingan Tim PPK Ormawa BEM FEM IPB University berakhir.
Penulis : Ghina Melanie Taufik
Organisasi : Tim PPK Ormawa BEM FEM IPB University























