TANGSEL– Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menyiapkan wajah baru transportasi umum melalui rencana pengoperasian trayek Pondok Cabe-Alam Sutera.
Sebelum menjalankan layanan tersebut, Pemerintah akan melibatkan angkutan kota (angkot) yang selama ini beroperasi di sejumlah jalur di Kota Tangsel.
Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan mengatakan, rencana tersebut muncul setelah salah satu perusahaan transportasi umum asal Tangsel menyampaikan minat untuk mengoperasikan layanan pada trayek Pondok Cabe-Alam Sutera.
Pilar menjelaskan, perusahaan tersebut dinilai memiliki pengalaman dalam mengelola transportasi umum. Salah satunya melalui layanan yang mengangkut masyarakat dari Cendana Residence menuju Fatmawati.
“Karena merasa sebagai warga Tangsel dan perusahaannya juga dari Tangsel, tidak ada salahnya mereka ikut berpartisipasi,” kata Pilar, pada Kamis 20 Agustus 2026.
Menurutnya, trayek Pondok Cabe-Alam Sutera merupakan salah satu dari 33 trayek yang masuk dalam Rencana Umum Trayek Jalan (RUTJ) Tangsel yang telah disahkan pada 2025.
Pilar menyambut, baik minat perusahaan tetapi, perusahaan tetap harus memenuhi berbagai persyaratan administratif dan teknis sebelum mendapatkan izin pengoperasian trayek.
Selain itu, lanjut Pilar, Pemkot Tangsel akan melakukan sosialisasi dengan berbagai pihak yang terdampak, termasuk masyarakat, kelurahan, kecamatan, sekolah, pengembang perumahan, pengurus RW, serta pelaku angkutan umum yang sudah beroperasi.
Pilar menyebut, terdapat sekitar 200 angkot yang selama ini melayani masyarakat Tangsel. Karena itu, pemerintah tidak ingin kehadiran moda transportasi baru justru menimbulkan persoalan dengan angkutan yang sudah lebih dulu beroperasi.
“Kita ajak diskusi. Sosialisasi dulu supaya mereka tahu keberadaan bus ini dan trayek yang akan dilalui,” ujarnya.
Pilar mengungkapkan, terdapat sekitar dua hingga tiga titik perlintasan trayek angkot yang berpotensi bersinggungan dengan rute Pondok Cabe-Alam Sutera.
Melihat hal itu, Pemkot Tangsel akan mencari solusi bersama agar seluruh pihak mendapatkan manfaat dari perubahan sistem transportasi tersebut.
Pilar bahkan, membuka opsi agar pengusaha transportasi baru bekerja sama dengan pemilik angkot, termasuk kemungkinan mengonversi atau membeli angkot yang trayeknya bersinggungan.
“Bisa juga sopir angkot kita tarik menjadi pegawai. Harapan kami seperti itu. Saya rasa kemarin diskusi dengan teman-teman pengusaha juga sangat terbuka dengan opsi-opsi tersebut,” ujarnya.
Setelah sosialisasi dan pembahasan dengan seluruh pihak selesai, selanjutnya, Pilar menyebut, akan melakukan uji coba layanan. Pada tahap awal, perusahaan tidak langsung menggunakan bus berukuran besar, melainkan kendaraan jenis Hi-ace.
Kemudian, Uji coba tersebut akan berlangsung selama tiga bulan. Pemerintah dan operator akan mengevaluasi jam operasional, titik penjemputan, waktu tempuh, hingga respons masyarakat.
“Pakai Hi-ace dulu untuk trial and error. Terkait jamnya, titik-titik penjemputannya. Nanti kalau sudah fix, baru ke depan menggunakan bus,” jelasnya.
Setelah tahap uji coba berhasil, operator berencana menggunakan bus yang lebih besar. Pemerintah juga akan menata infrastruktur pendukung di sepanjang koridor, seperti halte, bus stop, marka jalan, serta titik pemberhentian.
Pilar berharap, layanan tersebut mampu memberikan waktu tunggu yang singkat bagi penumpang. Kemudian, menargetkan waktu tunggu sekitar 15 menit atau maksimal 20 menit.
Pilar menjelaskan, , operator akan mencoba menjalankan layanan tersebut tanpa subsidi pemerintah pada tahap awal. Pemkot Tangsel akan melihat kemampuan masyarakat membayar tarif serta tingkat permintaan sebelum menentukan kebutuhan subsidi.
“Kalau demand-nya tinggi dan ternyata tidak perlu subsidi, ya tidak perlu subsidi. Tetapi kalau memang membutuhkan subsidi, nanti kami sampaikan kepada Pak Wali untuk menentukan kebijakannya,” terangnya.
Selain mengandalkan tarif penumpang, lanjut Pilar, operator juga dapat memanfaatkan sumber pendapatan lain, seperti pemasangan iklan pada kendaraan.
Pilar mengatakan, trayek Pondok Cabe-Alam Sutera memiliki potensi besar karena menghubungkan sejumlah kawasan permukiman dengan pusat aktivitas masyarakat, termasuk kawasan BSD dan Stasiun Rawa Buntu.
Pilar menilai, layanan transportasi umum yang terjangkau dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang selama ini mengandalkan sepeda motor atau transportasi daring.
“Dari Pondok Cabe sampai Alam Sutera itu rata-rata orang mau sampai Rawa Buntu. Banyak destinasinya ke Rawa Buntu, ke Stasiun Rawa Buntu. Kalau naik ojek online cukup mahal, sementara naik motor juga panas, macet, dan ada biaya bensin,” ujarnya.
Karena itu, Pilar berharap, transportasi umum baru tersebut dapat membuat perjalanan masyarakat lebih efektif, efisien, murah, nyaman, dan aman.
Pilar menegaskan, pemerintah juga menargetkan 33 trayek yang telah dirancang dalam RUTJ Tangsel dapat aktif secara bertahap hingga 2029.
Menurutnya, pengembangan transportasi umum menjadi bagian penting dalam menyiapkan sistem transportasi Tangsel sebelum terhubung dengan rencana pengembangan jaringan MRT.
“Kita fokus yang internal Tangsel dulu. Ke depan kita juga rencana mendapatkan MRT. Jadi harus terkoneksi dulu antara perumahan, perkampungan, dan kawasan lainnya,” terangnya.
Ia berharap seluruh pihak dapat mendukung rencana tersebut sehingga masyarakat segera mendapatkan pilihan transportasi umum yang lebih baik sekaligus membantu mengurangi kemacetan dan persoalan kualitas udara di Tangsel.
Pemkot Tangsel selanjutnya akan menggelar sosialisasi dan forum diskusi kelompok (FGD) bersama pengusaha angkutan, masyarakat, serta pihak terkait sebelum memasuki tahap uji coba.























