LUMAJANG – Bagaimana jika mengenal budaya tidak hanya dilakukan dengan mengunjungi sebuah situs, tetapi juga dengan tinggal bersama warga, mengikuti tradisi, dan merasakan kehidupan masyarakat secara langsung? Gagasan semacam ini menemukan ruangnya di Situs Selo Gending, Desa Kandangan, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, melalui beragam kegiatan yang mempertemukan kebudayaan, potensi alam, dan keterlibatan masyarakat.
Dalam perkembangannya, Selo Gending tidak hanya menjadi tempat yang menyimpan potensi sejarah dan budaya. Kawasan ini juga mulai dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan yang membuka kesempatan bagi masyarakat luar untuk mengenal Desa Kandangan lebih dekat. Tradisi, aktivitas luar ruang, hingga pertemuan komunitas menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi lokal kepada khalayak yang lebih luas.
Salah satu kegiatan yang menawarkan pengalaman berbeda adalah paket wisata Nyadran. Melalui paket ini, pengunjung tidak hanya mengikuti tradisi, tetapi juga tinggal di rumah warga selama dua hari satu malam. Pengalaman menginap tersebut memberi kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat dan mengenal keseharian mereka. Dengan demikian, pengalaman budaya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi juga hadir melalui hubungan antara pengunjung, warga, dan lingkungan desa.
Pengalaman tersebut memiliki karakter berbeda dari Kemah Budaya yang diselenggarakan oleh pihak luar dengan memanfaatkan area Situs Selo Gending sebagai lokasi perkemahan. Kegiatan ini mempertemukan peserta dalam suasana alam terbuka sekaligus memperkenalkan kawasan situs sebagai ruang yang dapat dimanfaatkan untuk aktivitas kebudayaan dan komunitas.
Di sisi lain, kolaborasi dengan penyelenggara acara di Lumajang turut membuka peluang bagi anak-anak muda Desa Kandangan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan. Salah satunya adalah trail run, yang menghubungkan aktivitas olahraga dengan potensi alam di sekitar desa, termasuk kawasan Air Terjun Manggisan. Keterlibatan generasi muda dalam kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dari upaya memperkenalkan potensi daerah melalui kegiatan yang dekat dengan minat masyarakat masa kini.
Perhatian terhadap warisan budaya juga terlihat melalui kegiatan pemeriksaan benda-benda pusaka yang diselenggarakan oleh pihak Selo Gending. Kegiatan ini menambah ragam aktivitas yang berkaitan dengan peninggalan tradisi dan benda bernilai budaya. Informasi lebih lanjut mengenai bentuk pemeriksaan dan makna kegiatan tersebut dapat memperkaya pemahaman masyarakat terhadap warisan budaya yang dijaga.
Beragam kegiatan itu dapat dibaca dalam kaitannya dengan pendekatan living museum. Pendekatan ini berupaya menghubungkan warisan budaya dengan kehidupan masyarakat, tradisi, pengetahuan lokal, dan aktivitas yang terus berlangsung. Situs tidak semata-mata dipahami sebagai lokasi yang dikunjungi, melainkan sebagai ruang tempat kebudayaan dapat dikenali melalui pengalaman dan keterlibatan manusia.
Gagasan pengembangan living museum di Situs Selo Gending turut diperkenalkan oleh Muhammad Masduqi Mahfud dan Saintifika Religia ketika keduanya masih berstatus mahasiswa Universitas Udayana. Pengalaman mereka mengenal pengelolaan kebudayaan di Bali menjadi salah satu latar yang mendorong pengenalan pendekatan tersebut. Gagasan itu hadir sebagai perspektif tambahan bagi upaya pengembangan potensi budaya setempat, dengan dukungan tokoh masyarakat.
Namun, gagasan saja tidak cukup untuk menjaga keberlanjutan sebuah ruang budaya. Pelaksanaan kegiatan sehari-hari tetap bergantung pada masyarakat Desa Kandangan, tokoh masyarakat, dan generasi muda yang terlibat langsung. Mereka menjadi bagian penting dalam menentukan bagaimana kegiatan berlangsung, bagaimana tradisi diperkenalkan, dan bagaimana potensi desa dapat dimanfaatkan tanpa kehilangan nilai lokalnya.
Perjalanan Selo Gending memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat berlangsung melalui banyak cara: tinggal bersama warga, mengikuti tradisi, berkemah, menjelajahi alam, hingga mengenal benda-benda pusaka. Tantangan berikutnya adalah memastikan berbagai kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda sesaat, tetapi tumbuh secara berkelanjutan dan tetap menghormati nilai budaya serta kehidupan masyarakat Desa Kandangan.
Pada akhirnya, kekuatan sebuah living museum bukan hanya terletak pada banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, melainkan pada kemampuannya menjaga hubungan antara warisan masa lalu dan kehidupan masyarakat hari ini.




















