Pelabuhan Sunda Kelapa terus berdiri kokoh di pesisir utara Jakarta sebagai pelabuhan bersejarah yang hingga kini masih aktif beroperasi. Berbeda dengan pelabuhan modern yang didominasi oleh derek peti kemas dan sistem otomatisasi, Sunda Kelapa menyuguhkan lanskap autentik tempat bertemunya nilai sejarah Nusantara dan denyut ekonomi tradisional. Di sepanjang dermaga, deretan kapal kayu tradisional jenis Phinisi bersandar megah, berperan penting sebagai tulang punggung rantai pasok logistik antarpulau yang menghubungkan Jakarta dengan berbagai wilayah terpencil di Indonesia.
Dinamika aktivitas harian di kawasan maritim ini berlangsung sangat padat sejak pagi hingga sore hari. Para Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) bekerja cekatan memikul komoditas seperti bahan bangunan, semen, hingga barang kebutuhan pokok, melintasi jembatan papan kayu yang sempit di antara kapal dan dermaga. Para Anak Buah Kapal (ABK) sibuk melakukan perawatan rutin, mulai dari mengecat ulang lambung kayu, merapikan tali-temali, hingga memuat perbekalan untuk pelayaran panjang berikutnya. Kehadiran penyedia jasa ojek sampan tradisional, pedagang keliling, serta wisatawan dan fotografer yang mengabadikan kecantikan visual kapal Phinisi kian menghidupkan lanskap sosial di area ini.
Di balik nilai edukasi, budaya, dan potensi pariwisatanya yang tinggi, Pelabuhan Sunda Kelapa juga menyimpan beberapa tantangan tata kelola yang membutuhkan perhatian serius. Sistem pengelolaan sampah di perairan sekitar dermaga belum optimal, sehingga memicu penumpukan sampah yang berpotensi mencemari lingkungan laut. Tantangan krusial lainnya terletak pada aspek keselamatan, di mana belum ada pemisahan jalur yang jelas antara pergerakan truk logistik berbeban berat dengan area pejalan kaki maupun wisatawan.
Sebagai cagar budaya hidup (living monument) sekaligus simpul perdagangan tradisional, Pelabuhan Sunda Kelapa memerlukan langkah pembenahan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Pengerukan alur pelayaran secara berkala, penataan kebersihan perairan yang terpadu, serta pembagian zonasi lalu lintas yang aman antara aktivitas logistik dan kawasan wisata menjadi prioritas utama. Langkah-langkah ini sangat penting agar Sunda Kelapa tetap mampu menjalankan fungsi ekonominya secara optimal tanpa kehilangan identitas dan nilai sejarahnya.


















