SUKOHARJO – Sebuah terobosan edukasi literasi dan seni inklusif sukses digelar di Sanggar Seni Sidodadi, Desa Madegondo, Kecamatan Grogol, pada Sabtu (28/2/2026). Sebanyak 50 peserta yang terdiri dari anak-anak dan sahabat penyandang disabilitas berkumpul dalam “Workshop IV – Menulis Cerita & Karakterisasi Tokoh”. Kegiatan ini menjadi wadah bagi mereka untuk merumuskan sendiri naskah pertunjukan teater lingkungan yang akan mereka bawakan pada pementasan puncak Mei mendatang, menggunakan media topeng daur ulang limbah kertas.
Workshop yang didukung oleh Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 ini menolak pendekatan konvensional di mana anak hanya menjadi pelaksana naskah buatan orang dewasa. Di sini, peserta didorong menjadi kreator dan penulis narasi utama.
Ketua Sanggar Seni Sidodadi Grogol, Ali Akbar Rafsanzani, dalam sambutannya menyoroti pentingnya penanaman kearifan lokal sejak dini melalui proses literasi kreatif.
“Karya seni yang baik tidak hanya dilihat dari keindahannya, tetapi dari cerita yang disampaikannya. Melalui workshop ini, kami memfasilitasi anak-anak untuk menggali kisah-kisah yang relevan dengan lingkungan sekitar mereka, dengan tetap memegang teguh unggah-ungguh budaya Jawa. Ini adalah langkah nyata merawat alam dan budaya sekaligus,” tegas Ali Akbar.
Sesi penulisan kreatif dipandu dengan metode adaptif oleh Ketua Sanggar Seni Sari Rejowinangun, Asfihani. Menghadapi keberagaman kemampuan peserta, Asfihani memformulasikan teknik penyusunan cerita yang tidak hanya bergantung pada teks. Para peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang berbaur, lalu diajak untuk menentukan karakter tokoh fabel mereka—seperti merumuskan sifat dasar, tujuan tokoh, dan konflik yang dihadapi.
Bagi anak-anak yang kesulitan merangkai kata, media storyboard atau papan cerita bergambar menjadi solusi andalan. Dengan antusias, mereka menggambar adegan kerja sama antar satwa fabel dalam mengatasi persoalan sampah di hutan, menerjemahkan ide cemerlang mereka ke dalam bahasa visual yang inklusif.
Fadhel Moubharok Ibni Faisal, Ketua Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia, menjelaskan bahwa lokakarya ke-empat ini merupakan titik krusial dalam membangun rasa kepemilikan (sense of belonging) anak terhadap karya seni yang mereka buat.
“Pementasan nanti adalah panggung mereka, maka ceritanya pun harus berasal dari suara mereka sendiri. Kami mendemokratisasi ruang seni ini. Anak-anak yang merumuskan masalah dan mencari solusi perdamaian di dalam naskah tersebut,” ujar Fadhel Moubharok Ibni Faisal. “Peran orang tua dan pendamping yang hadir hari ini hanyalah sebagai fasilitator yang membantu merapikan teknis penulisan, membiarkan imajinasi orisinal anak-anak tetap murni dan merdeka.”
Di penghujung acara, perwakilan dari setiap kelompok dengan penuh kebanggaan mempresentasikan draf naskah dan storyboard mereka di hadapan seluruh peserta. Kisah-kisah tentang kancil pelindung air bersih hingga harimau penjaga hutan yang berjuang melawan polusi menjadi bukti nyata keberhasilan edukasi ekologi program ini.
Naskah-naskah kolaboratif yang sarat akan pesan pelestarian alam ini akan segera diramu menjadi satu kesatuan cerita utama, sebagai landasan bagi ke-50 peserta untuk memulai latihan olah gerak dan koreografi pada pertemuan berikutnya.

























